Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
bertemu Putri Alice


__ADS_3

.


.


"kakak bawa Alman kemana? ". tanya Alman celingukan di dalam mobil Raya.


Raya memeluk Alman dengan lembut hingga bocah itu terdiam di pelukan Raya, bohong jika Alman tidak merindukan kasih sayang seorang ibu, tapi Alman tidak mau membuat neneknya sedih.


"maafkan kakak ya Alman..! gara-gara kakak memaksamu sekolah kamu harus menderita disana". ucap Raya dengan tulus


Alman menggeleng kepalanya, "Alman tidak menderita kak".


"bohong kan? kakak tidak suka Alman berbohong". Raya mengelus-ngelus kepala Alman.


"Alman kuat kak..!" ucap Alman dengan semangat


Raya tersenyum akan pribadi Alman yang kuat, "kakak tidak memaafkanmu".


"Alman harus ngapain biar kakak memaafkan Alman?". tanya bocah itu penasaran bercampur bingung.


Dita menahan tawa saja di depan mendengar Raya pura-pura merajuk pada Alman yang tidak mau jujur padanya.


.


.


"baiklah.. sekarang kakak memaafkan Alman". senyum manis Raya mencubit kedua pipi Alman yang melongoh saja membawa semua barang-barang belanjaannya.


"Alman kan kuat..! bawa sendiri ya? ". kekeh Raya dengan gemasnya.


Alman mengangguk dengan wajah bodohnya itu mengikuti Raya yang tertawa tanpa suara, Dita menggeleng kepalanya melihat Raya telah menjadi usil bahkan mengerjai Alman yang masih bocah.


"masa Alman meminta maaf harus menerima belanjaan ini? Alman tau kakak banyak uang tapi Alman juga bisa traktir kakak.. Alman juga banyak uang". protes Alman di dalam mobil Raya


Raya terkekeh, "ya.. ya... kalau begitu belikan kakak ice cream rasa Vanila coklat disana !". tunjuk Raya


Alman langsung mengangguk-ngangguk gembira, ia segera berlari keluar mobil saat mobil Dita baru saja berhenti Alman sudah melesat pergi hingga Raya dan Dita tertawa di tempat.


"traktir nona ice cream membuatnya senang Nona ketimbang anda membelikannya banyak sepatu dan baju tadi". kekeh Dita.


"iya.. dia pribadi yang kuat.. aku yakin dia akan membuatku bangga suatu saat nanti". senyum tulus Raya melihat Alman begitu semangat mengikuti antrian tanpa peduli cuaca yang panas.


Dita mengakuinya.


.


.


"Nona! ". sapa Nenek Riel.

__ADS_1


"panggil Raya aja Nek! ". pinta Raya tersenyum tulus di balas senyuman lebar nenek Riel.


Alman memeluk Neneknya dan mengoceh akan belanjaan yang dibelikan oleh Raya padanya.


"silahkan masuk nak..! " pinta nenek Riel.


"maaf Nek..! sekarang sudah sore, Raya bisa di jewer oleh suami Raya". Raya memeluk Nenek Riel tanpa jijik.


Nenek Riel tersenyum hangat, "ya sudah..! tapi lain kali mampir ya? "


"ok nek". jawab Raya.


Raya berbicara pada Alman lalu izin pada Nenek Riel dan pergi dari rumah Smith.


Nenek Riel dan Alman tinggal berdua saja di rumah itu, Raka pernah memberi ibu rumah tangga untuk mereka tapi nenek Riel menolaknya mentah-mentah, ia mengatakan bisa mengurus rumah besar itu dengan baik. memiliki tempat tinggal saja sudah membuat mereka bahagia, nenek Riel tidak ingin menyusahkan malaikat penolongnya lagi.


.


"abang mau kemana? ". tanya Raya melihat Raka hendak pergi.


"ayo sayang..! Satria dan Arya kembali dari luar Kota, mereka membawa seorang putri dari negara R, kata Arya gadis itu punya kekuatan mistis". Raka mengulurkan tangannya.


"Apa...? ". Raya berlari ke arah sang suami dan menyambut tangan Raka.


Dita menunduk sopan membiarkan Raya pergi dengan Raka, ia tak ingin menjadi nyamuk diantara kemesraan sang majikan.


di dalam mobil.


"iya.. " jawab Raka mencium sayang punggung tangan Raya.


"Putri Rafli ke negara kita apa negara mereka tidak gempar bang? ". tanya Raya yang tau tuan putri negara R hanya itu bernama Rafli Arnoldavesst.


"bukan itu". jawab Raka serius.


"maksud abang? ". tanya Raya tidak mengerti.


"kamu akan tau saat tiba di apartemen Satria nanti". jawab Raka


"astagah..! apa Satria akan menikahinya? ". gumam Raya penasaran.


Raya tau Satria suka menolong tapi beberapa tahun belakangan ini Satria tidak lagi pernah mau ikut campur urusan orang lain, apalagi Raya tau tuan putri negara R cukup sensasional di berbagai negara.


kini Raka dan Raya telah tiba di Apartemen pribadi milik Satria, Satria membangun Apartemennya sendiri dan gedung itu semua adalah milik Satria seorang saja, Satria tidak berminat menjual 1 apartemennya sekalipun.


"sayang..? jangan berlari! ". teriak Raka juga ikutan berlari mengejar sang istri tidak sabar bertemu gadis yang dibawa saudara kembarnya itu.


setibanya di lantai 20


Raya tidak bisa berlari sebab Raka menahan tangan juga pinggangnya, "abang..? " rengek Raya.

__ADS_1


"pelan-pelan". titah Raka dengan tegas


Raka tidak ingin berlian berharganya tergores, Raya lari-lari berbahaya bagi Raka.


"Satria...? ". panggil Raya menggema di depan pintu kamar Apartemen Satria.


seorang gadis di depan balkon pun menoleh, gadis itu berlari semangat ke arah Raya. Raya melihat gadis itu tengah mendekatinya.


"hallo... Nona Raya? saya Putri Alice". sapa gadis bermata hijau itu mengulurkan tangannya


Raya menyambut tangan Alice tapi mata birunya masih menelisik gadis cantik itu, warna mata gadis itu sangat unik tentu jadi memancing perhatian Raya.


"apa kalian akan tinggal disini? ". tanya Raka berjalan mendekati Arya dan Satria tengah duduk santai di sofa.


Raka membiarkan istrinya berbicara dengan putri Alice.


"bagaimana kamu bisa bertemu dengan saudara kembarku? dan kau tau namaku? apa Satria menyebutnya? ". tanya Raya penasaran.


"aku tau kamu akan datang". jawab Alice tersenyum cerah.


"hidupmu akan bahagia bersama pria pilihanmu saat ini, tapi untuk kedepannya kamu harus berhati-hati dengan masalah yang menimpamu bukan orang ketiga tapi musuh yang terlihat jelas ". ucap putri Alice dengan senyum lebarnya.


Raya mengerutkan keningnya tidak mengerti, "jadi kamu memang bisa meramal?". tanya Raya memicing memperhatikan bola mata kristal gadis cantik didepannya kini.


"iya.. karna kemampuanku itu lah yang membuatku di kurung dalam kastil itu". jawab Putri Alice dengan sedih memperhatikan kedua tangannya.


Raya bisa melihat Putri Alice seolah tidak menginginkan kelebihannya itu,


"mata mu indah sekali". ucap Raya mengalihkan perhatian Alice.


Alice tersenyum hangat menghapus air matanya,


"kenapa air matanya seperti kaca? indah sekali.. matanya benar-benar seperti kristal ..ah.. tidak-tidak.. apa Diamond? ". batin Raya memuji Alice


"matamu juga indah sama seperti pangeranku". senyum manis Alice.


Raya terkejut, "pangeranmu? apa diluar sana ada seorang Pangeran memiliki bola mata sepertiku? ". tanya Raya berpikir Pangeran yang Alice sebutkan itu Pangeran Kerajaan negara lain.


"itu.. Pangeranku". tunjuk Alice ke Satria yang menatap datar ke Alice sambil memijit pelipisnya sendiri


"Adikku seorang Pangeran? ". beo Raya menunjuk adik kembarnya dibalas anggukan oleh Alice.


"ahahaha... hahahaha... ". Raya tertawa terbahak-bahak


Raka ikut tertawa melihat gelak tawa istrinya, Arya juga ikutan tertawa menatap Satria yang disebut Pangerannya Putri Alice.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2