Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
berteman


__ADS_3

.


.


ke esokan harinya


mata Raya perlahan terbuka,


"dimana ini? ". batin Raya


Raya pun mencoba untuk duduk,, "hmm? ada apa ini? dimana aku? ". Raya bergumam


keadaan Raya sudah membaik, Raya tipikal gadis yang suka kebebasan seperti laki-laki saja padahal dirinya perempuan. Raya benci dikawal karna merasa dirinya kuat dan tidak butuh pengawal, Raya tidak suka di katakan lemah apalagi di spele kan.


Raya berjalan menatap sekeliling, dinding kamar Raka yang biasanya ada lukisan Raya disembunyikan oleh Raka sebab Raka tidak mau Raya melihatnya, bisa kabur Raya jika tau dirinya menyukai Raya.


Robert saja yang terang-terangan mengejar Raya di tolak mentah-mentah apalagi dirinya yang tak akan berbeda jauh.


"apa aku ada di markas musuh? ". tebak Raya


Raya tersentak kaget melihat kaki seorang pria di sofa, perlahan ia mendekat ke sofa itu untuk melihat wajah pria yang sedang tidur itu.


"Oh.. dia". Raya menghela nafas lega.


Raya baru mengingat bahwa ia bertemu Raka dijalan.


"Raka Mahawira? apa aku bisa memanggilnya Raka sementara dia king Mafia? ". batin Raya yang tau siapa nama Raka.


nama Raka ada di dalam artikel yang sudah di hapus Nola, Raka Mahawira seorang CEO muda perusahaan Rookie New R Group. itu sebabnya Raya tau nama Raka.


Raya mengedarkan pandangannya, "jadi sekarang aku ada di rumahnya? ".


Raya keluar dari kamar luas itu dan ia tersadar dengan pakaiannya.


"Eh. ?". Raya kaget melihat seorang wanita paruh baya di depan pintu kamarnya kini.


"salam hormat saya nona..! nama saya bi Asih ada yang bisa saya bantu nona". Bi Asih menyapa Raya begitu sopan


"oh.. hm.. itu.. akkk aku.. mau pulang tapi dia sedang tidur". jawab Raya


Raya akhirnya mengerti kalau Bi Asih yang mengganti pakaiannya.


"Nona bisa bangunkan !". kata Bi Asih tersenyum


Bi Asih menepuk tangan seketika jejeran koki berdatangan membawa berbagai menu sarapan pagi nan mewah.


"silahkan masuk Nona..! kami tidak tau Nona suka makan apa jadi kami memasak menu sarapan terbaik kami". bi Asih berbicara


Raya menghela nafas panjang saja, ia sebenarnya sudah biasa di perlakukan seperti itu hingga muak dan pada akhirnya Raya meminta pelayan di mansionnya untuk mengerjakan pekerjaan lain saja tanpa harus melayani nya tapi disini Raya malah di perlakukan seperti itu.


Raya tidak mungkin marah kan? dia hanya tamu disini dan tidak berhak untuk sekedar protes.

__ADS_1


Raya mengikuti Bi Asih yang sedang mengatur menu sarapan di meja makan kamar Raka, Raka meletakkan meja makan itu dikamarnya tadi malam hanya karna Raya ada di kamarnya padahal Raya tidak akan lama berada dikamar itu.


"eeh.. kalian tidak membangunkan king kalian? ". tanya Raya menunjuk Raka


"maaf nona..! kami tidak punya nyali membangunkan tuan master". jawab bi Asih berbisik.


Raya menatap datar para koki dan bi Asih yang meninggalkannya sendiri dengan Raka yang masih tertidur.


Raya mendekat ke Raka dan menonyor kening Raka dengan jari telunjuknya.


"Hei... bangun...!! ". Raya


"bangun...!! ". teriak Raya


Raka terbangun seketika dengan raut wajah linglung.


"akhirnya bangun juga". Raya menghela nafas lega


Raka melihat Raya yang berdiri didepannya, Ia dengan cepat mengumpulkan nyawanya. Raya hendak pergi Raka memegang pergelangan tangan Raya hingga siempunya menoleh.


"sudah baikan? ". tanya Raka


Raya mengangguk, "ayo sarapan..! tadi kokimu membawa banyak sarapan. tidak mungkin aku makan semuanya sendiri".


Raka tertegun seketika, "sarapan bersama? ". gumam Raka


"kenapa? kau tidak mau? ". tanya Raya dengan datar


alhasil mereka sarapan berdua untuk pertama kalinya, Raya memang terlihat biasa saja tapi tidak bagi Raka yang lebih bahagia seperti menang lotre berkali-kali.


"bagaimana tubuhmu? apa benar tidak mau di periksa ke dokter? ". tanya Raka


"tidak apa..! terimakasih atas bantuanmu! aku berjanji akan membalas budi". ucap Raya tersenyum kecil ke arah Raka


Raka segera menunduk karna tidak mau memperlihatkan secara jelas ke Raya bahwa dirinya tertarik pada Raya.


.


.


Raya menatap heran semua orang-orang Raka tengah berbaris rapi seolah sedang mengantarkan pejabat penting saja keluar negri tapi Raya tidak berpikir lain.


"hati-hati.. lain kali datanglah kesini! aku akan menyambutmu". kata Raka


Raya mengulurkan tangannya membuat Raka bingung tapi menyambut tangan Raya.


"kita belum kenalan secara benar..! namaku Shiraya Mahardika Melviano.. kau bisa memanggilku Raya".


"Raka Mahawira the king Mafia the R". balas Raka menebarkan senyumnya.


"ck..! kau juga narsis rupanya". decak Raya

__ADS_1


Raya dan Raka melepaskan jabatan tangan mereka, sejak Raka menolong Raya tadi malam membuat Raya ingin berteman dengan Raka, dizaman sekarang mencari teman seperti Raka itu sulit jadi tidak ada salahnya Raya memulai pertemanan dengan Raka.


Raya tersenyum memperlihatkan lesung pipinya hingga kecantikannya dilihat oleh mereka semua, bawahan Raka segera membuang muka. bisa berbahaya nyawa mereka melihat kecantikan wanita milik Raka.


Jekky tadi sudah memeriksa keadaan Raya dan akhirnya bisa bebas dari jeratan Raka. Jon mengantarkan Raka kembali ke mansion Melviano


Raka menatap kepergian Raya, saat menghilang dari pandangannya Raka berlari terburu-buru memasuki lift dan tiba dikamarnya. ia menjerit seketika disana melampiaskan rasa bahagianya bisa berteman dengan Raya.


.


.


Raya tiba di mansion Melviano dan tidak melihat siapapun di dalam mansion, ada perasaan lega di hatinya sebab ia tidak akan di introgasi oleh keluarganya.


"aku akan balas dendam pada mereka..! berani sekali mereka bermain licik padaku.. dasar binatang bahkan binatang pun lebih mulia dibanding kalian". gumam Raya dengan dingin


Raya mengambil ponselnya di dalam laci lemari, ponsel Raya sebelumnya hilang entah kemana.


Raya terbelalak melihat notif berita kematian 1 komplotan penjahat di kota ini, bahkan polisi pun tidak berani mendatangi markas besar penjahat itu.


"mereka semua mati? bagaimana bisa? ". gumam Raya terheran-heran.


Raya berlari keluar kamarnya lalu meninggalkan mansion dengan mobilnya menuju TKP.


Raya mendatangi garis polisi tanpa ragu ia memasuki kawasan ditandai polisi itu.


"ini pembantaian.. ! tidak mungkin perbuatan binatang buas". gumam Raya


Raya melihat bercakan darah dimana-mana tapi tidak ada jejak namun Raya sangat pintar menganalisis.


"siapa yang membunuh mereka semua? aku bahkan belum sempat membalas perbuatan mereka". gumam Raya antara kesal dan tak percaya


"maaf nona..! anda tidak boleh memasuki kawasan ini.. ". kata polisi di belakang Raya


Raya membalik tubuhnya hingga polisi itu tertegun melihat Raya secara langsung ditempat ini, polisi itu masih muda.


"aku hanya melihat ". kata Raya singkat dengan wajah datarnya mendekati polisi itu dan melewatinya begitu saja.


"siapa gadis itu? ". tanya polisi lain yang merupakan teman sekaligus rekan polisi muda itu melihat ada seorang gadis keluar dari garis polisi tapi ia hanya melihat punggungnya Raya saja.


"Nona muda Melviano". jawabnya dengan nada pelan


"ha? bagaimana bisa? ".


"gila..! dia lebih menawan dilihat secara langsung". gumam polisi muda itu menampar kedua pipinya sendiri.


"jangan pernah bermimpi berteman dengannya." ledek teman nya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2