Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
hah? cemburu?


__ADS_3

.


.


"aah.. terimakasih telah mengerti kami tuan". jawab Pak Kepala Desa menunduk sopan.


Raya menaikkan sebelah alisnya, sungguh ia belum faham nanti Raya akan bertanya pada Raka tentang apa yang mereka semua pikirkan.


Raya dan rombongan masuk ke rumah itu lalu di jelaskan secara rinci oleh Pak kepala Desa bahwa kamar mandi di rumah itu hanya 2 walau banyak kamar tapi tidak seperti di mansion mereka yang setiap kamar ada kamar mandinya.


Raya tidak bisa berkata-kata karna Raka sebelumnya sudah menjelaskan tentang kelebihan dan kekurangan Kota Y. pantas saja di katakan belum maju walau sudah di sebut Kota.


disebut Kota karna tempat itu sudah banyak penduduknya dan tidak terlalu ketinggalan zaman akan teknologi hanya situasi yang membuat Kota itu belum maju.


setelah cukup menjelaskan, pak Kepala Desa pun pamit undur diri dan meninggalkan mereka berempat di rumah itu.


"Pak Jo..! ". sapa Dita dibalas anggukan oleh supirnya itu membantu Dita memasukkan barang-barang nona nya.


Raka hanya membawa 1 koper dan Raya membawa 2 Koper begitu juga Dita sampai beli koper baru untuk membawa barang-barangnya.


Raya tidak banyak membawa Baju tapi bagaimanapun style Raya tidak cukup 1 pasang jadi harus bawa banyak terlebih lagi baju tidurnya harus panjang lengan dan jangan lupakan sepatu Raya yang banyak ia bawa bukan Heels tapi model Sepatu di beli dari berbagai Negara sebab Raya memang suka koleksi sepatu, tidak bisa dipungkiri bahwa dia juga wanita kan?


"sebenarnya apa yang ada di pikiran mereka Raka? ". tanya Raya penasaran.


"mereka takut kita berdua saja di tempat ini". jawab Raka


"kenapa? bahkan jika kita berdua saja tidak akan terjadi apapun kan? ". tanya Raya tidak mengerti.


"mereka tidak percaya itu Raya..! mereka hanya percaya 2 insan berbeda jenis kelamin tinggal 1 atap adalah hal yang tak wajar bagi mereka, kita bisa dinikahkan oleh mereka jika tak mematuhi peraturan itu walaupun kita tidak melakukan apapun". jelas Raka sambil berjalan sana-sini dan Raya mengikutinya seperti anak ayam.


"mami dan papiku menikah karna warga, apa ini yang mereka maksud? ". gumam Raya pelan


"hmmm! begitulah jika tidak harga diri perempuannya akan di cap perempuan jal*ng !". sahut Raka


Raya melebarkan matanya tak percaya, "bertahun-tahun lamanya masih ada juga kepercayaan seperti itu". gumam Raya antara takjub dan heran.


Raka tersenyum lalu mengusap kepala Raya, "tidak apa..! kita hanya perlu menjaga kepercayaan mereka supaya tidak terjadi hal yang mereka inginkan".


Raya tersenyum tipis dan mengangguk, "karna kau juga tidak mau menikah denganku kan? ". celutuk Raya.

__ADS_1


"kata siapa? ". tanya Raka bersitatap dengan kedua bola mata biru Raya.


"kata aku". jawab Raya menunjuk dirinya sendiri.


"ck..! bagaimana bisa kau berpikir seperti itu? ". tanya Raka dengan heran sebab Raya yang tidak mengerti juga perasaannya padahal Raka dengan jelas banyak memberi kode.


"aku mencari tau banyak tentangmu". jawab Raya melihat arah lain lalu melihat Raka lagi


Raka sungguh gemas melihat hal itu, Raya seperti anak kecil yang baru saja mengakui kesalahan tapi takut kena hukuman. ingin sekali Raka mencubit kedua pipi Raya dan menciumi seluruh wajah Raya saat ini tapi ia hanya bisa menahannya.


"apa yang kau ketahui tentangku? ". tanya Raka mendekat ke Raya dan Raya melangkah mundur dan mundur hingga bersandar di dinding.


Raka menahan sebelah tangannya di dinding sedangkan satu tangannya masuk ke kantong celananya sambil menatap serius Raya yang tampak biasa saja hanya sedikit gugup seolah takut Raka marah akan apa yang Raya ketahui bukan Gugup karna suka.


"kau tidak pernah dekat dengan perempuan manapun, banyak yang mendekatimu tapi kau menolaknya dengan kasar, mereka pamer keperaw*nan padamu tapi kau acuh tak tertarik sama sekali, hmmm...? " Raya terlihat ragu melanjutkan.


"hayo...! katakan! ". pinta Raka


Raya menjelaskan semuanya dengan tatapan mata kesana-kemari mencari celah untuk kabur tapi Raka sepertinya bisa membaca pikirannya.


Raya melebarkan matanya ke arah Raka yang merangkul pinggangnya.


"kalau aku pacaran denganmu apa itu akan menutupi semua pikiran aneh mu itu? ". tanya Raka tersenyum tipis dan begitu tampan.


"hmmm? ". Raka tersenyum


"siapa yang tidak mau berpacaran dengan gadis secantik dirimu ini". Raka menyentuh wajah Raya dengan sangat manis tapi Raya malah merinding melihat Raka yang seperti ini.


"dasar gila..! ". Raya mendorong tubuh Raka dan melarikan diri dari Raka yang tertawa terbahak-bahak.


.


.


Raya di dalam kamar mandi melihat Bath Up nya yang kecil tak seperti miliknya di Mansion Melviano, Raya menghela nafas tapi tetap juga berusaha menerima keadaan tempat tinggalnya saat ini.


"kenapa Raka berkata seperti itu? ". gumam Raya membuka matanya seketika saat teringat perkataan Raka.


"kenapa aku tidak bisa melawan? dasar Raya bodoh..! kau tidak sebodoh itu hingga tidak bisa membalas kata-katanya". Raya menekan kedua pipinya.

__ADS_1


Raya menggeleng kepalanya seketika, "huh..! dasar pria gila ! dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan kan? dikenal sebagai pacarku bahkan dia lebih terkenal dari aku di kalangan wanita tapi kenapa dia minta aku jadi pacarnya lagi? dia benar-benar membuatku merinding".


jujur Raya bukannya benci tapi merinding saja dirinya akan kata-kata Raka, entah apa yang salah dengan Raya saat ini.


.


ke esokan harinya.


Raya keluar dari kamarnya dengan style seperti biasa, Raya mengedarkan pandangannya yang dia cari bukan Dita melainkan Raka, pria satu-satunya yang berhasil membuat Raya merinding.


"ada apa Nona? ". tanya Dita penasaran melihat Raya celingak-celinguk mencari sesuatu.


"dimana Raka? ". tanya Raya membuat Dita menahan senyum seketika.


"dimana dia? ". tanya Raya sekali lagi dengan kesal ke Dita yang tak menjawab pertanyaannya.


"Tuan muda tadi sedang mencari sarapan Nona tapi belum kembali juga pasti di kerumunin bunga". jawab Dita terkekeh geli.


Raya menautkan kedua alisnya, "maksudnya bunga apa yang bisa mengkerumuni dia?"


Dita menepuk jidatnya saja akan kepolosan Raya tak mengerti makna bunga yang Dita sebutkan.


"Bunga Desa Nona..! gadis-gadis di kota ini sangat menyukai Tuan muda". jelas Dita membuat Raya mengangguk padahal dirinya penasaran saat ini.


"lalu dimana tempat jual sarapannya? ". tanya Raya


"cukup jauh Nona di ujung sana". tunjuk Raya lewat jendela transparan dari dalam tapi tidak bisa dilihat dari luar.


Raya melihat kerumunan gadis-gadis diatas sana, keningnya mengkerut. ada apa dengan dirinya yang tak suka Raka di dekati banyak perempuan ingin rasanya Raya berteriak pada mereka semua Raka itu Guy hingga tak ada perempuan gatal yang mendekati Raka lagi.


"ada apa Nona? ". tanya Dita berakting pura-pura tak tau akan apa yang Raya pikirkan saat ini.


"kenapa aku tidak suka Dita? aku ingin menjerit pada mereka semua bilang kalau Raka itu gila tubuh laki-laki bukan perempuan". oceh Raya meremas udara hingga bibir Dita berkedut menahan tawa.


"Hmmmfffff....!! "..


"Dita..! ". bentak Raya


"maaf Nona..! anda sangat imut". jujur Dita membuat Raya makin kesal saja.

__ADS_1


.


.


__ADS_2