
.
.
"Kakak? ". di dalam lift Alice meronta-ronta di bahu Satria.
Satria diam saja tanpa memperdulikan protes gadis bermata hijau di bahunya kini.
"kakak..? perut aku sakit". rengeknya
"sebentar lagi kita akan sampai". Satria berkata dengan serius.
Alice hanya bisa pasrah di bahu Satria, ia tidak bisa berbicara lagi.
"kenapa sih kak Satria? apa yang salah? ". batin Alice menerka-nerka.
setibanya di kamar president suite di lantai teratas hotel MattGroup, Satria menurunkan Alice di atas ranjang.
Alice merentangkan tangannya di sana sambil memejamkan matanya, "aah.. akhirnya sampai juga".
Satria melepaskan jas nya dan melemparnya kesembarang arah lalu membuka kancing lengannya dan menarik lengan kemejanya ke atas, Satria menindih tubuh Alice.
Alice membuka matanya saat Satria kini ada diatasnya, "kakak? ". raut wajah bingung terpancar di wajah Alice.
"kau menyukai pria tadi? ". tanya Satria dengan serius.
"hmm.. suka". jawab Alice dengan serius juga
"lalu aku? bukankah aku pangeranmu? kau menyukaiku atau tidak? semudah itu kau berpaling". tanya Satria
Alice mengerjab, "ak.. aku.. tidak mau mengganggu kakak lagi, bukankah kakak tidak menyukaiku yang selalu menempel padamu? aku akan menempel pada pria lain".
Satria mengunci kedua tangan Alice,
"katakan sekali lagi? aku tidak dengar". pinta Satria dengan nada tak senang.
Alice melihat kedua tangannya yang di kunci Satria, "sakit kak!".
"jawab..! ". titah Satria
"aku akan menempel pada Bian kalau dia mengizinkanku... aku bisa berteman baik dengannya supaya tidak mengabaikanku terus, mengajakku kemanapun dia pergi". jelas Alice menatap serius manik mata biru Satria.
"aku tidak mengizinkanmu". Satria berkata dengan serius.
"hah? kenapa aku tidak boleh dekat dengannya?". tanya Alice melepaskan diri dari Satria
__ADS_1
Alice membenarkan gaunnya juga rambutnya, Satria duduk sambil menarik nafas dalam-dalam.
"jangan dekat-dekat dengan pria lain, aku tidak suka". Satria memperingati dengan suara lembut.
Alice berdiri di depan Satria, "sebenarnya kakak maunya apa sih? ".
Satria menggenggam tangan Alice, "jangan dekati pria manapun selain diriku saja".
"aku tidak boleh berteman dengan Bian? ". tanya Alice.
"hmm.. kau tidak boleh berteman dengannya". jawab Satria
"terus aku bolehnya dekat dengan siapa? ". tanya Alice
Alice menganga saja mendengar perintah Satria yang tidak mengizinkannya dengan pria manapun, ia tidak mengerti.
"kenapa aku tidak boleh dekat dengan pria lain? bukannya kakak tidak menyukaiku? aku akan mencari pria lain yang menyukaiku, tidak dingin dan tidak menjauh dariku seolah aku ini sampah yang tidak diinginkan". Alice
"aku tidak bisa merubah takdir tapi aku bisa merubah nasib, aku bisa mencari pria yang bisa mencintaiku seumur hidupku nanti walaupun aku tidak punya anak kembar setidaknya aku tidak akan diperlakukan seperti sampah". Alice berkata dengan mata berkaca-kaca.
Alice pergi dari Satria dan Satria mengejarnya,
"lepaskan aku kak ! jangan karna kakak sangat terkenal di negara ini aku akan berharap cinta kakak, aku memang polos tapi aku tidak bodoh.. kenapa aku harus berdekatan dengan lelaki yang selalu menghindariku seolah aku ini kuman yang patut di jauhi". amuk Alice seketika.
Satria memegang kedua pipi Alice, "aku tidak pernah mengira kalau apa yang aku lakukan selama ini padamu telah melukai hatimu, Alice dengarkan aku..! aku tidak pernah menganggapmu sampah atau kuman".
"kemana? kau mau pergi kemana? ". Satria memegang kedua bahu Alice.
"kata Alya tempat yang bisa membuatku hidup, selalu ceria, bebas adalah di desa, aku akan tinggal di desa". jawab Alice
"apa abang bodoh? sampai kapan abang berlagak dingin padanya? menjauhinya? padahal setiap malam abang selalu mendatanginya, menatapnya lama. abang.. abang harus ingat..!! kesabaran wanita polos juga ada batasnya, abang akan menyesal sudah bertindak pengecut seperti sekarang!! ".
Kata-kata Alya terngiang-ngiang di kepala Satria sambil menatap Alice yang memang terlihat kecewa dengannya.
Alice berusaha melepaskan diri dari Satria, Satria mengejar dan menahan pintu saat Alice hendak keluar.
"awaskan tangan kakak..! aku mau melihat idola ku tadi". Alice berusaha mendorong tangan Satria.
Satria membalik tubuh Alice hingga bersandar di pintu, Satria mencium bibir Alice yang kaget dengan mata melotot, hanya sekedar menempel saja tidak lebih.
Satria menyatukan keningnya dengan kening Alice,
"kak.. kak? ". Alice terbata menatap Satria dengan bingung.
"aku bukan hanya menyukaimu tapi aku mencintaimu.. aku malu mengakuinya jadi selalu mencoba menjaga jarak darimu.. maafkan aku membuatmu kecewa! aku memang pengecut masalah cinta". Satria
__ADS_1
Alice mengerjab-ngerjabkan matanya lalu tangannya bergetar melepaskan sarung tangannya, Alice memegang lengan Satria hingga menurun sampai menggenggam telapak tangan Satria.
"dia benar-benar pangeranku". batin Alice akhirnya bisa melihat masa depannya dengan jelas.
Satria merasa belum puas menci*m bibir Alice, ia kembali menci*m bibir Alice mel*m*tnya lembut dan penuh kasih.
dihari bahagia Raka dan Raya juga ada hari bahagia Alice yang mendapatkan cinta tulus dari Pangerannya, jujur Alice memang sempat menyerah karna Satria selalu menjauhinya tanpa tau apa-apa perasaan Satria.
.
.
di acara Pesta
"dimana Satria dan Alice? ". tanya Mami Shindy
"Alice siapa? ". tanya Oma Rani (Adik Pasha).
"hmm.. calon menantu aku aunty". jawab Mami Shindy celingukan.
"temui Damar dan Wulan dulu deh! mungkin mereka lagi bersama". jawab Grandma Kaira
Mami Shindy pun mengangguk memilih mencari Damar dan Wulan yang sibuk bersama orangtuanya (Nova dan Candra).
acara telah di mulai tapi pengantin belum juga muncul. MC pria dan wanita mulai berbicara dan mempersilahkan Raka dan Raya berjalan menuju Altar pengantin.
kedua pasangan suami istri itu telah di sorot lampu terang, Raya bukannya merangkul lengan Raka tapi Lengan Raka lah yang merangkul pinggang Raya.
"kenapa nggak genggaman tangan aja abang? ". desis Raya dengan gigi merapat.
gaunnya sangat mengganggu saat berdekatan dengan suaminya, tapi Raka seolah tak merasa terganggu malah makin menempel saja pada Raya seperti permen karet.
"abang". protes Raya
"tidak bisa sayang..! aku harus melindungi istri juga anakku". jawab Raka tanpa beban.
Raya ingin sekali menonjok wajah suaminya tapi karna cintanya itulah jadi ia tidak bisa melakukannya. Raya hanya bisa menebarkan senyumnya sambil memegang buket bunga di tangannya padahal batinnya mengomel-ngomel.
Aisha (putri Kanaya dan Ali Rahman) di depan jadi penggiring pengantin, pakaiannya yang tertutup tak membuatnya di pandang aneh lagi.
hampir semua orang sudah tau Keluarga Melviano itu semuanya menutup aurat tidak seperti wanita lain yang mempertontonkan auratnya.
kelopak bunga di lempar ke pasangan yang terlihat bahagia itu tanpa tau Raya sedang kesal saat ini, malah Raka yang terlihat bahagia dengan situasinya.
Jon dan Dita berdua melihat tuan dan nona mereka begitu serasi, Boy dan Rio sibuk dengan urusan nya berjaga di setiap pintu menjaga acara supaya tidak kacau karna pengganggu.
__ADS_1
.
.