Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
penasaran


__ADS_3

.


.


"dia bukan Pangeran Putri Alice". jelas Raya menenangkan.


"tidak... dia Pangeranku". Alice berlari langsung merangkul lengan Satria.


Satria menghela nafas panjang memutar bola matanya ke arah lain. Arya tertawa saja melihat raut wajah Satria terlihat tak suka tapi tak bisa mengelak.


Raya menganga sejenak lalu kembali tersadar, "kenapa dia bisa memanggilmu Pangeran Satria? ". tanya Raya penasaran melihat bagaimana lengketnya Alice pada Satria.


"entahlah..! apa yang harus kami lakukan kak? bagaimana jika tentara negara nya datang kesini demi mencarinya? ". tanya Satria dengan frustasi.


"tenang saja..! aku sudah menghilangkan ingatan mereka semua tentang wajahku, mereka akan mencariku tapi tidak ada yang tau wajahku..! aku aman disini bersama kalian, kalian boleh memanfaatkan aku demi keuntungan kalian? tapi aku mohon biarkan aku bersama Pangeranku disini". Alice merangkul Satria seperti anak kecil yang menyukai pria dewasa.


"manfaatin apa sih maksudnya? ". tanya Raya tidak mengerti sebab ia tidak terlalu percaya ada manusia memiliki kekuatan supranatural.


"keuntungan siapa? siapa yang merasa diuntungkan? ". tanya Raka juga tidak mengerti.


Arya menggeleng-geleng kepalanya sambil menghela nafas panjang.


"dia nempel sekali dengan abang". decak Arya dengan nada pelan.


"sepertinya ada yang tengah mengawasi kastil ini". ujar Alice dengan serius melihat ke arah balkon.


Alice menyebut Apartemen dengan sebutan kastil.


Raka, Raya dan Arya saling pandang satu sama lain, berbeda dengan Satria hanya berusaha menepis tangan Alice.


"hei.. bocah..! hentikan omong kosongmu, aku tidak butuh kekuatanmu itu ! sana pergi cari kesenanganmu sendiri". usir Satria


Alice makin suka saja dengan Satria, satu-satunya pria yang tidak haus akan kekuatannya. di kerajaan sana Alice di kurung di sangkar emas dan selalu di gunakan untuk keuntungan setiap orang tanpa peduli Alice suka atau tidak suka di kurung.


Raka, Arya dan Raya berjalan tenang ke arah balkon, mereka mengedarkan pandangan mencari pengintai yang dimaksud Alice.


"Pangeran...! aku sangat menyukaimu, kamu seperti ikan paus bagiku". senyum manis nan polos Alice.


"cukup..! aku tidak mau mendengar cerita ikan pausmu itu, kepalaku berasap mendengarnya". cegah Satria bangkit dari duduknya


"berasap? ". beo Alice membayangkan asap beterbangan di kepala Satria.


Alice menggeleng kepalanya menghilangkan pemikiran asap itu.


"kenapa aku bisa bertemu bocah ini? badannya besar seperti gadis dewasa tapi pemikirannya tidak berbeda jauh dengan anak kecil, ck...! pangeran? ". gerutu Satria

__ADS_1


Alice tersenyum cerah tak terlalu memikirkan ejekan Satria, ia memang sangat tidak tau bagaimana cara menjaga harga diri sebab Alice tidak pernah diajari pengetahuan orang dewasa hanya pembahasan anak-anak saja.


"ikan Pausku". Alice melompat-lompat senang di tempatnya.


"mobil siapa itu bang? ". tanya Raya berbisik.


"sepertinya milik Robby". jawab Raka yang tau mobil hitam dengan plat mobil yang tak asing bagi Raka.


"kenapa dia mengikuti kita? apa dia sudah menemukan Yeri? ". tanya Raya


"tidak sayang..! baik aku maupun Robby tidak ada yang tau dimana Yeri berada, Robby tidak bisa bertemu dengan Yeri sebelum Yeri sendiri yang datang sendiri menemui kami". jawab Raka


"benarkah? berarti Yeri masih hidup? ". tanya Raya penasaran.


"apa kamu pikir dia meninggal sayang? ". tanya Raka


"siapa tau.. orang wujudnya tidak ada yang tau". jawab Raya apa adanya.


"cukup..! kenapa kalian jadi mengoceh? sekarang beritau Arya kenapa orang itu mengintai tempat ini? apa pria bernama Robby itu jahat sama kakak?". Arya menengahi


"tidak jahat". jawab Raya


"jahat". jawab Raka serentak dengan Raya, hanya berbeda jawaban.


"tidak jahat". jawab Raya


"jahat". jawab Raka


"tidak jahat abang". Raya menoleh ke Raka


"jahat sayang.. dia jahat". ralat Raka


"Tidak jahat aku bilang". tekan Raya


"jahat sayang.. dia jahat, dia punya rencana untuk merebutmu dariku". jelas Raka


"tapi dia hanya balas dendam dengan abang". ujar Raya


"musuhku musuhmu juga kan sayang? apa kamu mau bilang dia temanmu? bagaimana bisa Rivalku teman baikmu hmm?". Raka menjelaskan sambil menarik pinggang Raya mendekat padanya.


"aah.. benar juga dia itu Rival cintamu". jawab Raya tampak berpikir akan perkataan Raka tadi.


Arya melongoh lalu menepuk jidatnya seketika, "kenapa aku harus berada di situasi kekanak-kanakan ini? yang satu menghadapi bocah gila (Arya melirik Alice) yang satu berkelahi seperti bocah tak sekolah (Arya melihat ke arah Raka dan Raya) ". gerutu Arya dengan lemah melihat ke arah balkon saja dari pada melihat Raka dan Raya bercekcok mulut namun ujung-ujungnya malah menjadi mesra.


.

__ADS_1


Raka keluar dari gedung Apartemen Raka dan mendatangi mobil Robby.


tok-tok-tok.


Raka mengetuk jendela mobil Robby.


"apa aku keliatan ya? ". tanya Robby dengan raut wajah sok polosnya.


"kenapa lagi kau hah? tidak bisa kau mencari kesibukanmu sendiri? kenapa menggangguku? kau memang mau mati ditanganku hah? ". tanya Raka dengan dinginnya


"wwoww...! tenang friend.. haha. sepertinya kau benar tidak suka Raya di dekati olehku, kenapa? kau merasa tersaingi? aku akan merebut hati kekasihmu itu". Robby berkata dengan seringai liciknya.


"banyak hal yang terjadi saat kau pergi, kau harus tau saat ini dia bukan kekasihku melainkan istriku". ucap Raka dengan tenangnya.


Robby tampak tertegun sesaat lalu persekian detiknya Robby tertawa keras.


"benarkah? kau fikir mudah membodohiku? dia bukan istrimu, lagian kalau memang kalian menikah kenapa tidak di pestakan? dia tuan Putri Melviano, tidak mungkin kan acara pernikahannya tidak di pamerkan ke publik? ".


Raka terlihat tidak peduli, "kau melihat cincin pernikahan kami kan? jadi berpikir saja sendiri, aku menikah dengannya memang belum pesta tapi kami sudah sah di mata agama dan hukum".


Raka berlalu meninggalkan Robby yang tampak terdiam, Raka memasuki gedung Satria lagi mengabaikan Robby yang termenung memikirkan semua perkataan Raka.


ingatan Raka dan Raya memakai cincin pernikahan buatan negara asing hanya 1 di dunia dan khusus diberikan pada pasangan yang baru saja menikah di hari itu, Robby tau sebab ia sering menghadiri seminar pelelangan barang limited.


"mereka sudah menikah? apa benar?". gumam Robby tak percaya.


Raka melihat Raya yang tengah menggoda Satria yang memiliki bayi besar seperti dirinya yang memiliki bayi besar yaitu Raka.


"kakak ngomong apa sih? kalau kakak tu berbeda, kakak mencintai bang Raka sementara Satria tidak". protes Satria


"kenapa tidak dibawa kemansion Melviano?". goda Raya


"kakak mau buat aku dipenggal sama papi? terus di sidang sama mami? ". tanya Satria dengan datar.


Raya tertawa kecil.


"lagian ada apa dengan gadis itu? kenapa bicaranya aneh sekali? terus kenapa dia bisa tau ada yang mengintai kami padahal tidak berbahaya kan? ". cecar Raya


Raya bisa tau ada bahaya mengintai tapi tidak tau kalau dirinya di lihat dari kejauhan saja, asalkan tidak ada niat jahat Raya tidak akan tau sedang diawasi namun kalau setiap hari Raya pasti menyadarinya juga.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2