
Abbas dan Hasna terkesiap saat melihat keberadaan Ezra, apalagi ketika laki-laki itu mengatakan sesuatu yang membuat dada mereka berdegup kencang.
"E-ezra, Adel. Kalian di sini?" tanya Hasna dengan lirih dan raut wajah khawatir. Sejak kapan mereka ada di tempat ini, apa mereka mendengar pembicarannya dan Abbas?
Ezra sendiri terdiam dengan tatapan tajam yang terhunus ke arah Hasna dan juga Abbas, sementara Adel hanya diam di belakang sang kakak dengan perasaan bingung.
"Selama ini aku bertanya-tanya kenapa Tuhan sangat tidak adil pada ibu, kenapa Tuhan memberikan rasa sakit dan kemalangan pada ibu? Padahal ibu adalah ibu yang sangat baik. Bukan hanya untuk kami, tapi untuk ayah dan juga semua keluarga. Tapi pada akhirnya ibu dicampakkan dan disakiti begitu saja oleh ayah, dan ternyata semua itu karena kesalahan yang telah nenek dan kakek lakukan," ucap Ezra dengan tajam.
Hasna dan Abbas terpaku sambil menatap Ezra. Mereka merasa kaget dengan ucapan laki-laki itu, dan sepertinya dia mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Ezra, Nak." Abbas beranjak bangun dari sofa dan berjalan ke arah Ezra dengan tatapan nanar. "Apa kau mendengar apa yang kami bicarakan?" Dia bertanya dengan lirih.
Ezra menghela napas kasar. "Aku memang tidak mendengar semuanya, tapi aku tau persis apa yang terjadi dengan kakek dan nenek dulu. Sungguh aku sangat kaget dan kecewa saat mendengarnya." Dia memalingkan wajah sendu.
Abbas menundukkan kepalanya mendengar ucapan Ezra, sementara Hasna terisak lirih melihat reaksi yang cucunya berikan. Ezra saja sudah seperti itu, lalu bagaimana dengan Ayun nanti?
Ezra lalu berjalan ke arah ranjang untung menghampiri sang nenek. Dia menarik kursi dan duduk di tempat itu. "Kenapa Nenek menangis, apa ucapanku menyinggung perasaan Nenek?" Dia menggenggam kedua tangan Hasna, karena takut keadaan sang nenek memburuk.
Hasna menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nak. Kenapa nenek marah?" Dia langsung menarik tangan Ezra dan memeluk tubuh cucunya itu dengan erat. "Apa yang kau katakan benar, Nak. Maafkan nenek, gara-gara kesalahan nenek kalian harus mengalami semua ini."
Suasana berubah menjadi sangat menyedihkan. Bukan hanya untuk Abbas dan juga Hasna, tetapi untuk Ezra dan Adel juga walau mereka tidak tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya.
Hasna terisak dalam pelukan Ezra yang berusaha untuk menenangkannya. Apa yang cucunya katakan benar-benar menamparnya, bukan secara fisik tetapi secara perasaan.
__ADS_1
Sementara itu, di tempat lain terlihat Ayun sudah bertemu dengan Bram dan membicarakan masalah persidangan cerai yang akan diadakan lusa. Dia meminta penjelasan dari laki-laki itu kenapa prosesnya berjalan dengan sangat cepat, karena jujur saja dia merasa sangat bingung saat ini.
"Saya hanya ingin semua cepat selesai, Buk. Semakin lama proses perceraian Anda, maka Anda akan semakin dirugikan," ucap Bram. Dia lalu mengatakan perihal harta gono-gini yang menjadi tuntutan, juga kasus yang saat ini sedang menjerat mantan suami wanita itu.
Ayun terdiam saat mendengarnya. Dia tidak pernah berpikir jika kasus yang menimpa Evan akan berdampak juga pada perceraiannya. Lalu, siapa pelakunya?
"Apa sampai sekarang pelakunya belum ditangkap?" tanya Ayun, membuat Bram mengernyitkan kening.
"Anda belum dengar kabarnya, Buk?"
Ayun menggelengkan kepala. Kabar apa yang harus dia dengar, dia saja tidak pernah bertemu atau pun berkomunikasi dengan Evan.
"Pelakunya sudah ditangkap, dan dia adalah istri kedua mantan suami Anda. Nona Sherly,"
Bram menggelengkan kepalanya. Dia lalu menceritakan apa yang dia dengar dari David tentang kasus itu, juga alasan yang membuat wanita bernama Sherly mendekam dipenjara.
Ayun benar-benar merasa terkejut dan syok saat mendengarnya. Tidak disangka jika wanita itu yang mencuri berkas milik Evan, sungguh sangat tidak terduga sekali.
"Dia pasti sangat terkejut dan terpukul saat mengertahui wanita yang dicintainya melakukan semua itu," gumam Ayun dengan senyum getir. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Evan, tetapi mungkin saja laki-laki itu tidak bisa marah karena Sherly adalah wanita yang sangat dicintai.
Bram lalu meminta Ayun untuk bersiap-siap, walau dia tahu jika kemenangan jelas berada ditangan mereka. Namun, tetap saja harus mempersiapkan semuanya sebaik mungkin.
Setelah selesai bicara dengan Bram, Ayun berlalu pamit untuk kembali ke rumah sakit. Dia berjalan gontai sambil memikirkan apa yang sedang tarjadi dengan Evan.
__ADS_1
"Sudahlah. Tidak ada gunanya aku memikirkan semua itu, lagi pula itu bukan urusanku." Lirih Ayun. Masalahnya saja sudah banyak, jadi tidak ada tampat lagi untuk memikirkan apa yang terjadi pada laki-laki itu.
Pada saat yang sama, Sella sedang berada di kantor polisi bersama dengan Suci. Tampak kening gadis kecil itu sedang ditempel oleh alat kompres demam, bahkan wajahnya juga terlihat pucat.
Sella membawa Suci untuk bertemu dengan Sherly. Selama semalaman cucunya tidak mau tidur dan terus menangis karena ingin bersama dengan sang ibu. Dia merasa kebingungan karena selama ini memang tidak pernah tidur bersama dengan Suci.
Pihak kepolisian melarang Sella untuk menemui Sherly karena wanita itu masih harus menjalani rangkaian pemeriksaan, tetapi Sella memohon karena kasihan dengan keadaan cucunya.
Polisi itu lalu mengizinkannya untuk bertemu dengan Sherly selama 15 menit, itu pun karena merasa kasihan juga melihat gadis kecil itu.
"Anakku!" Sherly langsung berlari ke arah Suci saat melihat keberadaan sang putri. Dia memeluk putrinya dengan erat, dan tatapan sendu saat melihat alat kompres yang ada dibagian keningnya.
"Bagaimana keadaanmu, Sherly? Apa kau baik-baik saja?" tanya Sella, memuat Sherly beralih melihat ke arahnya.
"Tidak, Ma. Aku tidak baik, aku tidak mau berada di sini." Lirih Sherly dengan suara yang bergetar. "Aku mohon lepaskan aku, Ma. Aku mohon."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1