
Setelah perjalanan kurang lebih 2 jam, akhirnya mereka semua sudah sampai di tempat tujuan. Semua orang bergegas turun untuk menikmati suasana yang sangat sejuk dan juga segar, apalagi mereka tinggal di kota yang penuh dengan keributan dan polusi udara.
"Masyaallah, indah sekali pemandangannya," ucap Ayun saat turun dari bus. Matanya menatap ke semua penjuru tempat itu dengan kagum, sungguh suasana yang sangat tenang dan juga sejuk.
"Ibu, berdiri di situ. Biar ku foto," ucap Adel sambil menunjuk ke tempat yang sangat bagus untuk berfoto.
"Tidak usah, Nak. Biar kau saja sini yang ibu foto," tolak Ayun. Dia sangat tidak pede sekali untuk foto, apalagi di depan banyak orang seperti ini.
Adel memberikan ponselnya pada sang ibu, dia lalu bergaya dengan bagus dan langsung difoto oleh ibunya.
"Wah, fotonya bagus sekali," seru Adel dengan semangat.
Ayun menganggukkan kepalanya dan menyetujui ucapan Adel. Pamandangan yang bagus, ditambah dengan kualitas dari kamera yang bagus juga membuat hasil foto tampak sempurna.
Semua orang juga asyik berfoto ria di semua tempat, tetapi tidak untuk Fathir dan juga Faiz yang berada dalam suasana canggung.
Entah kenapa situasi ini terasa sangat akward sekali untuk ayah dan anak itu, padahal hubungan mereka sudah mulai membaik walau tetap saja saling berdiam diri.
"Apa kau mau difoto juga?" tanya Fathir sambil melirik ke arah sang putra.
"Tidak," jawab Faiz dengan cepat. Untuk apa foto-foto, sangat tidak ada gunanya sekali.
"Ayo, kita ke sana!" ajak Fathir sambil melangkahkan kakinya ke arah Ayun dan juga Adel.
Faiz terdiam melihat papanya mendatangi wanita itu. Mungkinkah sang papa sudah menyukainya? Tidak, tidak mungkin seperti itu. Jika dilihat-lihat, sepertinya usia wanita itu lebih tua dari papanya.
"Jangan-jangan perempuan itu punya niat buruk?" gumam Faiz. Dengan cepat dia menyusul papanya dan akan mencegah hal buruk terjadi pada sang papa.
Ayun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya saat melihat Fathir berjalan ke arahnya dan Adel.
"Om Fathir mau foto juga?" tanya Adel, dia sudah sedikit berani dengan laki-laki itu setelah diceramahi oleh kakaknya.
"Tidak. Apa kalian mau difotokan?" tawar Fathir.
Adel langsung menganggukkan kepalanya dengan antusias saat mendengar ucapan Fathir, sementara Ayun tampak menggelengkan kepalanya karena tidak berniat untuk foto.
"Ayolah, Bu!" rayu Adel sambil memasang wajah puppy eyesnya membuat Ayun kalah.
Adel langsung memeluk lengan sang ibu dengan erat. Dia lalu menyuruh ibunya untuk tersenyum agar hasil foto mereka nanti tampak bagus.
Beberapa kali Fathir mengambil foto mereka dengan berbagai gaya, membuat Ayun merasa lelah dan langsung terduduk di atas rumput.
__ADS_1
"Oke, sekarang giliran Om dan juga Faiz yang akan aku foto," ucap Adel sambil mengeluarkan ponselnya.
Tentu saja Fathir dan Faiz langsung menolaknya mentah-mentah. Mereka belum terbiasa, dan pasti nanti akan mati gaya jika berfoto.
"Semua orang 'kan foto, kenapa Anda dan Faiz tidak? Anggap saja sebagai kenang-kenangan," pinta Ayun.
Adel juga merayu Fathir agar mau berfoto sekali saja, begitu juga dengan Faiz yang langsung kesal saat mendengar rayuannya.
"baiklah, tapi nanti kita harus foto berempat," ucap Fathir.
Adel dan Ayun mengangguk dengan kompak, lalu mulai mengambil foto mereka. Gila, hasilnya sangat bagus sekali. Ayah dan anak itu tampak seperti seorang model profesional dengan wajah super tampan.
Adel lalu memanggil temannya untuk memfoto mereka berempat, dengan formasi anak-anak di tengah dan orang tua dipinggir. Persis seperti keluarga cemara.
Semua siswa dan orang tua lalu berkumpul di lapangan yang di tempat itu. Panitia lalu membagikan tenda dan juga makanan ringan untuk mereka, lalu disuruh untuk mendirikan tenda masing-masing.
"Biar saya saja yang mendirikannya," ucap Fathir saat melihat Ayun dan Adel kebingungan mendirikan tenda mereka.
"Bagaimana dengan tenda Anda, Tuan?" tanya Ayun.
"Faiz bisa melakukannya sendiri," jawab Fathir tanpa mengalihkan pandangannya dari pekerjaan.
"Bantulah om Fathir di sini, Adel. Biar ibu bantu Faiz."
Adel mengangguk paham lalu berjongkok di samping Fathir untuk membantu, sementara Fathir melirik ke arah Ayun dengan senyum tipis saat melihat wanita itu menghampiri putranya.
Faiz yang sedang fokus dengan pekerjaan langsung mendongakkan kepalanya saat mendengar langkah seseorang, dia lalu mengernyitkan kening bingung melihat wanita yang sedang menghampirinya saat ini.
"Dia sangat sensitif ternyata." Ayun tersenyum lebar saat sudah sampai di dekat Faiz, walau senyumnya itu dibalaz dengan tatapan tajam yang menusuk.
"Kita bertemu lagi, Faiz. Maaf kalau tante baru bisa menyapamu," ucap Ayun dengan ramah.
Faiz menghela napas kasar sambil kembali menundukkan kepalanya. "Iya."
Ayun merasa senang karena Faiz mau membalas ucapannya walau hanya iya saja, setidaknya laki-laki itu tidak mengabaikan orang lain.
"Lepaskan saja tanganmu, biar tante yang pegang."
"Enggak perlu, aku bisa sendiri," tolak Faiz.
Tanpa memperdulikan ucapan laki-laki itu, Ayun langsung saja memegangi ujung tiangnya membuat Faiz merasa geram.
__ADS_1
"Setelah ini kita harus kumpul lagi di lapangan, jadi ayo kita kerjakan dengan cepat agar tidak kalah," ucap Ayun.
"Kalah?" tanya Faiz dengan heran. Memangnya mereka sedang bermain, ada kalah dan ada menang?
"Iya. Lihat, papamu di sana juga sedang mendirikan tenda. Bagaimana kalau kita berlomba, siapa kalah akan dapat hukuman," lanjut Ayun. Tiba-tiba dia menemukan permainan yang tepat untuk mengusir keheningan yang terjadi.
Faiz terdiam saat mendengarnya, dia lalu melihat ke arah sang papa yang juga sedang menatapnya. "Papa mana mau." Dia berucap dengan ketus.
Ayun tersenyum, dia lalu beranjak mendekati Fathir dan mengatakan soal lomba tersebut. Semoga saja laki-laki itu mau melakukannya.
"Baiklah. Apa hukumannya?" tanya Fathir.
Faiz dan Ayun tercengang saat Fathir setuju untuk bermain, sementara Adel bersorak senang saat mendengarnya.
"Em ... gimana kalau yang kalah nyari kayu untuk api unggun kita nanti malam, sekalian air juga?"
Fathir, Faiz, dan juga Adel setuju dengan ide yang Ayun berikan. Kemudian mereka kembali membuka ikatakan-ikatan yang telah terpasang di tenda karena harus dimulai dari awal.
"Ayo kita kalahkan mereka Om!" seru Adel dengan semangat.
"Tentu saja, Adel. Kita akan mengalahkan mereka," sahut Fathir yang tiba-tiba ikut bersemangat.
Darah Faiz terasa mendidih saat mendengarnya. "Itu tidak mungkin, yang akan menang itu kami."
"Benar, kami akan mengalahkan kalian," sambung Ayun sambil mengangkat sebelah tangan Faiz sebegai pertanda jika sedang semangat.
Orang-orang yang ada di tempat itu merasa tertarik dengan perlombaan yang mereka lakukan, bahkan bapak kepala sekolah yang paling keras berteriak untuk menyemangati Fathir.
"Baiklah, kita akan mulai perlombaan ini. Diharapkan semua peserta bertanding dengan sportif, apa kalian semua sudah siap?"
"Ya, kami sudah siap!" jawab tim Fathir dan Faiz secara bersamaan.
"Kalau gitu kita mulai saja lombanya. Tiga, dua, satu, mulai!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1