Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 139. Akhirnya Pecah Juga.


__ADS_3

Fathan terkejut saat melihat keberadaan Fathir, begitu juga dengan Alma dan Farhan yang tidak menyangka jika putra bungsu mereka itu juga datang ke rumah sakit.


"Fathir, kau di sini Sayang?" tanya Alma dengan mata berkaca-kaca.


Fathir menganggukkan kepalanya. "Bukankah Mama sendiri yang tadi malam memberitahuku bahwa laki-laki itu akan dibawa kembali ke penjara?" Dia melirik ke arah Fathan.


Ayun menatap dengan sendu, begitu juga dengan Farhan. Sementara Fathan hanya diam dengan perasaan penuh sesal dan bersalah jika melihat wajah sang adik.


"Aku ingin bicara dengannya selama 15 menit saja, apa kalian bisa memberi izin?" tanya Fathir pada polisi yang akan membawa Fathan.


Keempat polisi yang ada di tempat itu tampak saling pandang, sampai akhirnya salah satu dari mereka bicara.


"Maaf, Tuan. Kami harus segera-"


"Jika kalian memberi izin, maka saya akan sangat berterima kasih," potong Fathir dengan tajam. Ucapannya memang mengarah pada rasa terima kasih, tetapi polisi itu bisa merasakan ancaman dari apa yang dia katakan.


"Baiklah, kami akan memberi waktu agar Anda bisa bicara berdua," ucap polisi itu kemudian.


Fathir lalu berbalik dan meminta Fathan untuk mengikutinya membuat kedua orangtua mereka merasa khawatir. Sebelumnya dia sudah menyiapkan salah satu ruangan yang ada di rumah sakit itu agar mereka bisa bicara, dan ruangan itu berada tepat dibagian belakang jadi tidak perlu masuk lagi ke dalam rumah sakit.


"Biar mama ikut bersama kalian, Sayang," pinta Alma dengan penuh harap.


Fathir tersenyum. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Ma. Aku hanya ingin bicara dengannya, aku janji tidak akan terjadi sesuatu dengan kami." Dia mencoba untuk menenangkan sang mama, walau hatinya sendiri mulai bergejolak.


Sebelum menemui Fathan, Fathir sudah lebih dulu bertemu dengan Dokter. Dia ingin memastikan bagaimana keadaannya, dan mengatakan jika akan menemui sang kakak.


Tentu saja Dokter berkata bahwa itu hal bagus, karena masalah sebesar apapun harus dibicarakan dengan baik. Dokter itu juga memberikan beberapa cara agar Fathir tetap tenang dan bisa mengendalikan diri.


"Duduklah," ucap Fathir saat melihat Fathan sudah masuk ke dalam ruangan itu. Dia sendiri sudah duduk di kursi, lalu menyuruh sang kakak untuk duduk di hadapannya.


Fathan melangkah pelan menuju kursi yang ada di hadapan Fathir, lalu mendudukkan tubuhnya ke kursi tersebut.

__ADS_1


"Ada apa, Fathir?" tanya Fathan dengan pelan. "Aku tidak menyangka jika kau-"


"Apa kau sudah bertemu dengan calon istriku?"


Deg.


Fathan terdiam saat mendengar pertanyaan sang adik, sesaat kemudian dia mengangguk pelan. "Ya, aku sudah bertemu dengannya."


"Lalu, siapa lagi yang sudah bertemu denganmu selain dia?" tanya Fathir lagi. Dia ingin tahu siapa-siapa saja yang sudah bertemu dengan Fathan, walau sudah bisa menduga siapa orang-orangnya.


Fathan menghela napas kasar. Sebenarnya kenapa Fathir bertanya tentang semua itu, apa laki-laki itu marah karena mereka sudah mengunjunginya?


"Jangan menyalahkan mereka, Fathir. Mereka menemuiku hanya karena dirimu, mereka ingin memastikan bahwa aku tidak lagi menyakitimu," jawab Fathan.


Fathir tersenyum sinis. Dia memalingkan wajahnya ke samping karena enggan untuk bersitatap mata dengan sang kakak, sementara Fathan sendiri menatap adiknya dengan sendu.


"Maafkan aku, Fathir. Maafkan semua kesalahan yang telah aku lakukan." Lirih Fathan. "Aku benar-benar menyesal, aku seorang kakak yang sangat buruk dan kejam." Suaranya bergetar.


Fathir tetap diam sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Dia bisa merasakan penyesalan yang besar dari ucapan sang kakak, tetapi apa yang kakaknya lakukan itu benar-benar membuat luka yang mungkin tidak akan pernah bisa disembuhkan.


Hati Fathir terasa sakit mendengarnya, bahkan sekujur tubuhnya telah basah karena keringat padahal ruangan itu memiliki ac.


Kecemasan, kepanikan, dan amarah terasa membelenggu hati Fathir. Namun, sekuat tenaga dia mencoba untuk menenangkan diri sambil mengingat wajah dari orang-orang yang dia sayangi.


"Lihat, walau aku sangat membencimu bahkan ingin sekali membunuhmu. Tapi wajahmu masih saja melintas dalam benakku sebagai orang yang kusayangi. Sungguh Tuhan sangat tidak adil padaku," ucap Fathir.


Air mata Fathan langsung mengalir deras mendengar pengakuan Fathir. Kenapa, kenapa dulu dia harus melakukan semua perbuatan terkutuk itu? Kenapa dia tidak sadar jika dimanfaatkan oleh Rian? Jika tidak, pasti sekarang hidup mereka tidak seperti ini.


"Maaf, maafkan aku." Lirih Fathan kembali.


Fathir menghela napas berat sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Dia berusaha untuk menahan diri, dan menekan gejolak kemarahan yang terasa seperti bara api yang akan meledak saat ini juga.

__ADS_1


"Kenapa, kenapa kau melakukan semua itu padaku, kenapa?" tanya Fathir dengan tajam dan wajah merah padam, bahkan kedua matanya juga memerah dengan rahang mengeras. "Kenapa kau tega melakukan semua itu pada adikmu sendiri, kenapa?" Suara teriakannya menggema di tempat itu.


Sama seperti saran Dokter, Fathir berusaha untuk menumpahkan segala kemarahan yang sejak dulu dia tahan hingga membuat dadanya menjadi sesak.


"Maaf, maafkan kakak, Fathir. Kakak bersalah. Hukumlah kakak, balaslah kakak," ucap Fathan sambil memukul dirinya sendiri.


Fathir menekan dadanya yang berdenyut sakit dan sesak. "Dulu aku selalu mengikuti apapun yang kau inginkan, aku selalu memberi apapun yang kau mau. Tapi kenapa, kenapa kau tidak berkata jika kau ingin menggantikan papa dan menjadi pemimpin. Kenapa?" Teriak Fathir kembali. "Aku, aku bahkan akan menyerahkan seluruh dunia ini untukmu jika kau memintanya." Dia terisak lemah.


Betapa besar kasih sayang yang Fathir miliki untuk Fathan, karena memang sejak kecil dia sangat dekat dengan kakaknya itu. Kedua orangtua mereka selalu sibuk bekerja, dan hanya Fathanlah yang selalu menemaninya bermain.


Namun, kedekatan mereka mulai renggang saat memasuki usia remaja. Di mana Fathan harus menempuh pendidikan keluar negeri bahkan sampai bertahun-tahun lamanya.


Setelah dewasa, mereka mulai bergabung dalam perusahaan. Hubungan kakak beradik itu kian berjarak, apalagi saat Fathir ditetapkan sebagai pengganti dari papa mereka. Padahal saat itu Fathir sendiri tidak tahu bahwa dia diangkat sebagai seorang CEO.


"Kau juga tidak pernah mengatakan apapun tentang Clarissa. Kenapa, kenapa sejak awal kau tidak bilang bahwa kau juga mencintainya? Aku pasti akan memberikannya untukmu tanpa harus adanya pengkhianatan dari kalian," sambung Fathir dengan penuh luka. Jika memang mereka saling mencintai, maka dengan rela hati dia akan mundur dari pernikahannya.


"Kau bahkan sampai mengatakan kalau Faiz adalah anakmu. Kau, kau benar-benar tidak punya hati." Fathir mengusap wajahnya yang penuh dengan air mata.


Kata-kata terakhir yang Fathan ucapkan itulah yang menjadi pemicu kemarahan dalam dirinya, hingga sampai menewaskan Clarissa.


"Tidak, dia bukan anakmu. Faiz adalah anakku, darah dagingku!" ucap Fathir dengan penuh penekanan. Dia lalu melemparkan sebuah kertas yang berisi hasil tes DNA antara dia dan Faiz, terlihat jelas bahwa hasil dari tes itu adalah 100 persen ayah dan anak.


Kedua tangan Fathan meremmas kertas itu dengan kuat. Dia yang semula merasa sedih, seketika dipenuhi dengan amarah karena ternyata selama ini dia benar-benar telah dibohongi.


"Bajing*an, brengsek! Kau akan mendapat balasan atas semua perbuatanmu, Rian. Aku bersumpah kau akan mendapat balasan yang jauh lebih sakit dari apa yang aku rasakan ini."


Fathir langsung menajamkan tatapan matanya saat mendengar ucapan sang kakak. "Apa maksudmu?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2