
Sella menghela napas kasar sambil memijat kepalanya yang berdenyut sakit. Terserah bagaimana hasil akhirnya nanti, yang jelas dia harus bersimpuh di kaki Abbas dulu agar laki-laki itu mau membantu Sherly.
Setelah kepergian Sella, Evan kembali berjalan masuk ke dalam kantor polisi. Dia berjalan gontai menuju di mana pengacaranya berada, dengan kepala berdenyut sakit.
"Aku ingin bicara dengan Sherly," ucap Evan pada pengacaranya.
Hery menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Evan. "Maaf, Tuan. Saat ini Nona Sherly tidak bisa bertemu dengan siapa pun, apalagi tadi beliau sudah membuat keributan."
Evan menghela napas kasar sambil mendudukkan tubuhnya di kursi. Saat ini dia benar-benar merasa bingung dan tidak tahu harus melakukan apa, rasanya apa yang dia lakukan sekarang hanya akan membuat kehancuran bagi semua orang.
"Bagaimana jika aku mencabut laporannya?" tanya Evan dengan lirih, membuat Hery terkesiap.
"Jika Anda memang mau mencabut laporannya, kemungkinan Anda akan mendapatkan uang ganti rugi dari hasil pelelangan dari berkas itu sebesar 10%. Karena biar bagaimana pun, semua bukti mengarah pada Nona Sherly. Ada foto-foto tentang penyerahan uang yang diyakini bahwa dia benar-benar menjual berkas Anda, lalu nona Sherly juga akan dituntut sebesar uang yang mungkin dia terima," ucap Hery dengan jelas, sesuai dengan pengamatannya atas kasus ini.
Evan memijat pelipisnya yang terasa semakin berdenyut hebat. 10%? Uang itu bahkan tidak bisa untuk mengganti setengah dari kerugiannya, dan kalau pun Sherly menganti rugi uang padanya, jelas wanita itu tidak akan punya uang.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, ke mana aku harus mencari sisa uangnya?" gumam Evan dengan getir.
Tiba-tiba, Evan mendengar ponselnya berdering dan segera mengambil benda pipih tersebut. Terlihat salah satu karyawannya menelepon, membuat dia segera mengangkat panggilan tersebut dan terlibat perbincangan yang sangat serius
"Aku harus segera ke kantor, kau urus saja bagaimana kasus ini selanjutnya," ucap Evan pada Hery setelah selesai bicara dan mematikan panggilan tersebut.
Hery menganggukkan kepalanya. "Baik, Tuan."
__ADS_1
Evan lalu beranjak pergi dari tempat ini menuju kantor. Sudah beberapa hari ini dia tidak bekerja menyebabkan terjadi sedikit masalah, apalagi sudah tidak ada David di tempat itu yang biasa ya menghandel semuanya.
"Mereka bilang David sudah mengambil barang-barangnya, apa dia tidak akan bekerja lagi denganku?" gumam Evan dengan kesal. Dalam keadaan seperti ini masih saja ada masalah yang terjadi. "Tidak, dia tidak boleh keluar. Aku akan meminta maaf padanya agar dia mau kembali bekerja."
Evan menekan pedal gas mobilnya dan melaju cepat menuju kantor, setelah itu dia baru akan menghubungi David dan meminta maaf atas apa yang telah terjadi.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Ayun sudah kembali ke rumah sakit dan menemui sang ibu. Terlihat Adel dan juga Ezra berada di tempat itu membuat dia tersenyum lebar.
Sebelumnya, Hasna sudah meminta Ezra dan juga Adel untuk tidak memberitahukan apapun pada Ayun. Dia takut menambah beban pikiran untuk putrinya itu, dan berjanji akan menceritakan semuanya jika keadaan sudah membaik.
Ayun lalu bergabung dengan mereka dan bertanya bagaimana sekolah Adel dan Ezra hari ini, tidak lupa bertanya tentang kesehatan sang ibu juga.
Dari balik pintu, Abbas meneteskan air matanya saat mendengar suara Ayun. Dia memegangi dadanya yang terasa berdenyut sakit, sungguh dia ingin sekali bicara dan menatap wajah putri kandungnya itu.
Abbas lalu memutuskan untuk pulang dengan membawa kebenaran yang terasa sangat menyakitkan, tetapi dia juga merasa bersyukur karena mengetahui semuanya sebelum benar-benar terlambat.
Sekitar 25 menit, Abbas sampai di tempat tujuan. Dia segera keluar dari mobil dan berjalan gontai memasuki rumah, tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar suara seseorang yang sangat dia kenal.
"Mama mau bicara dengan Nindi, Keanu. Tolong," pinta Sella penuh harap. Sudah hampir 10 menit dia berada di rumah ini, tetapi Keanu sama sekali tidak mengizinkannya untuk menemui Nindi.
Keanu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sinis. "Aku sama sekali tidak peduli, sekarang pergi dari tempat ini sebelum kesabaranku benar-benar habis." Dia berucap dengan tajam sambil menunjuk ke arah pintu, tetapi dia langsung menurunkan tangannya saat melihat sang mertua berdiri di tempat itu.
Sella mulai terisak. Tidak, dia tidak bisa pergi bergitu saja dari tempat ini. Jika tidak bisa bertemu dengan Abbas, setidaknya dia harus bertemu dengan Nindi.
__ADS_1
"Kasihanilah Suci, Ken. Mama, mama hanya ingin-"
"Kenapa Keanu harus mengasihaninya?"
Sella terkesiap saat mendengar suara baritone seseorang, sontak dia melihat ke arah belakang dan tersenyum lebar ketika melihat Abbas.
Abbas melangkah masuk ke tempat itu dengan tatapan tajam yang terhunus ke arah Sella, sementara Keanu hanya diam memperhatikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Mas Abbas, aku-"
"Di mana Nindi, Ken?" tanya Abbas dengan cepat sambil melihat ke arah sang menantu, membuat Sella tidak bisa melanjutkan ucapannya.
"Istriku sedang istirahat di kamar, Pa. Aku sudah memanggil Dokter, mungkin sebentar lagi dia sampai," jawab Keanu. Dia sejak tadi menunggu kedatangan Dokter, tetapi malah Sella yang datang ke rumah itu.
Abbas menganggukkan kepalanya, dia lalu menyuruh Keanu untuk membawa Suci yang sedang tidur ke dalam kamar karena dia ingin bicara berdua dengan Sella.
"Kau ingin bicara padaku, 'kan? Sekarang ikut aku, karena aku juga ingin bicara denganmu."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.