
Ayun terkesiap saat melihat kedua anaknya ada di dalam kamarnya dan Evan, apalagi saat melihat ada 2 koper besar dan beberapa tas yang tergeletak di atas lantai.
"Apa ada lagi barang-barang yang mau Ibu bawa? Kami sudah-" Ezra tidak bisa melanjutkan ucapannya saat tubuhnya dan sang adik langsung dipeluk dengan erat oleh sang ibu.
Tangis yang sejak tadi di tahan oleh Ayun langsung pecah di hadapan kedua putra dan putrinya. Kenapa, kenapa kedua anaknya harus lahir dalam keluarga yang hancur berantakan seperti ini? Kenapa mereka harus merasakan rasa sakit seperti ini?
"Kami tidak apa-apa, Ibu. Aku mohon jangan menangis." Lirih Ezra, dia tahu ibunya menangis pasti karena merasa bersalah atas apa yang telah terjadi.
"Terima kasih, Nak. Kalian benar-banar anak-anak ibu yang baik, dan maaf jika ibu tidak bisa menjadi ibu yang baik," ucap Ayun dengan sesenggukan, dia lalu melepaskan pelukannya dan mengecup kening Adel dan Ezra secara bergantian.
Ayun lalu beranjak dari tempat itu dan berjalan ke arah lemari. Sama seperti saat dia akan membeli ponsel waktu itu, dia kembali mengambil sebuah kotak yang terletak di dalam lemari paling bawah di mana semua uangnya tersimpan di dalam kotak tersebut.
"Ibu menyimpan uang sebanyak itu di dalam kotak seperti ini?" pekik Ezra dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin ibunya menyimpan uang sejumlah 57 juta hanya di dalam kotak bekas sepatu ayahnya saja?
"Mau bagaimana lagi? Ibu kan enggak tau mau nyimpan di mana," ucap Ayun. Dia memang tidak tahu di mana bisa menyimpan uang, banyak yang bilang simpam di bank, tetapi tidak ada yang mau menemaninya atau pun mengajari bagaimana caranya.
Alhasil di dalam kotak itulah selama ini uang Ayun berada, dan syukurnya tidak ada yang tahu uang itu, bahkan Evan sekali pun.
Setelah mengambil uangnya, Ayun dan kedua anaknya membawa koper dan tas-tas itu untuk keluar dari kamar. Dengan perlahan mereka menuruni anak tangga membuat Evan yang sedang duduk langsung beranjak bangun.
Evan tercengang saat melihat apa yang ada di hadapannya saat ini. Bagaimana mungkin mereka benar-benar pergi?
"Tu-tunggu, apa, apa kalian mau pergi?" tanya Evan membuat Ezra langsung menatap dengan tajam. Sementara Ayun sama sekali tidak peduli dan tetap membawa barang-barangnya keluar.
"Ezra, dengarkan ayah dulu, Nak. Tadi, tadi ayah enggak sengaja marah, jadi-"
"Adel, apa barang-barangmu udah siap semua?" Ezra sengaja bertanya pada Adel membuat ayahnya tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Evan lalu beralih mendekati Adel.tang sedang memasukkan sepatu sekolahnya ke dalam tas.
"Adel, dengarkan Ayah dulu." Lirih Evan sambil menggenggam tangan Adel, tetapi dengan cepat ditepis oleh putrinya itu.
__ADS_1
"Tidak mau. Aku tidak mau melihat ayah lagi."
Deg.
Evan terdiam dan tidak bisa menjawab ucapan sang putri. Hatinya terasa seperti ditusuk oleh jarum saat mendengarnya. Tidak mau menyerah, dia lalu mendekati Ayun yang sama sekali tidak mau melihat ke arahnya.
"Ayun, aku, aku minta maaf. Aku tau kalau ucapanku sudah sangat keterlaluan, tapi apa yang aku katakan tadi hanya sebatas kemarahan yang tidak disengaja. Jadi-"
"Sebenarnya kau mau ngomong apa, Mas?" tanya Ayun dengan tajam. Sejak tadi laki-laki itu terus saja mengikutinya ke sana kemari.
"Jangan pergi, aku, aku minta maaf," ucap Evan dengan pelan membuat semua yang ada di tempat itu menatap dengan heran.
"Maaf, untuk apa, Mas? Sudahlah, seharusnya sejak awal aku dan kau memang tidak usah bertemu, jadi tidak akan ada yang merasa sakit." Lirih Ayun dengan tajam.
"Aku sudah meminta maaf, aku janji akan menjadi lebih baik. Jadi kalian-"
"Bisakah kau memutuskan hubunganmu dengan Sherly, dan anak kalian yang bersamanya itu?"
Deg.
"Kenapa kau diam? Kau tidak bisa menjawabnya, 'kan? Jadi diam saja dan lakukan seperti apa yang biasa kau lakukan," ucap Ayun dengan tajam.
Tidak berselang lama, datanglah sebuah mobil berwarna hitam milik Nayla ke tempat itu. Sebelumnya Ayun meminta izin untuk membawa anak-anaknya ke rumah temannya itu, dan untungnya mereka mengizinkannya untuk datang.
Beni dan Mery hanya bisa menatap kepergian meraka dengan sendu. Mereka tidak sanggup jika harus melihat secara langsung dari dekat, karena pasti akan banjir air mata atau malah tidak akan diperbolehkan untuk pergi.
Evan sendiri masih mematung saat Ayun dan anak-anaknya memasukkan barang-barang mereka ke dalam mobil, setelahnya mereka semua masuk tanpa berpamitan ke dalam mobil itu membuat Evan terkesiap saat mendengar suara mesinnya.
"Tu-tunggu, tunggu dulu!" teriak Evan saat mobilnya sudah akan melaju pergi dari tempat itu.
"Kita bisa membicarakannya baik-baik, Ayun. Kita bisa-"
__ADS_1
"Cukup, Mas. Berhenti mengucapkan kata-kata yang mustahil. Selagi kau masih bersama dengan wanita itu, maka semuanya akan tetap seperti ini," potong Ayun dengan cepat. Kemudian dia segera menyuruh supir untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Evan hanya bisa menatap kepergian mereka dengan nanar. Mulutnya yang akan kembali bicara tidak kuasa untuk mengeluarkan suaranya.
"Baiklah. Terserah jika mereka memang mau pergi dari rumah ini, tapi aku yakin mereka pasti akan kembali pulang tanpa di minta," gumam Evan sambil berbalik dan masuk kembali ke dalam rumah.
Setelah perjalanan sekitar 20 menit, sampailah mereka di tempat tujuan. Terlihat Nayla sedang menunggu di depan pintu, untuk menyambut kedatangan mereka.
"Ayun!'
Ayun tersenyum lebar saat melihat Nayla, sontak mereka berdua saling berpelukan dengan erat untuk melepaskan kerinduan.
"Maaf karna aku sudah merepotkanmu, Nayla. Aku tidak tau harus pergi ke mana saat malam seperti ini." Lirih Ayun. Sebenarnya dia merasa tidak enak dengan Nayla, tetapi hanya wanita itu sajalah yang dia kenal dengan baik.
"Kau ngomong apa sih?" Nayla menggelengkan kepalanya. "Kita adalah sahabat, jadi sudah sewajarnya kita saling tolong menolong. Udah, ayo kita masuk!" Dia menggandeng lengan Ayun dan melangkah masuk.
"Lagian ada apa sih dengan laki-laki itu? Bagamana mungkin dia mengusir istri dan anaknya saat malam begini?" ucap Nayla dengan penuh emosi. Dia sangat geram mendengar apa yang Evan lakukan pada Ayun dan anak-anaknya.
Selama ini Nayla dan sang suami pergi ke luar kota karena ada urusan pekerjaan, itu sebabnya dia tidak tahu pasti bagaimana rumah tangga sahabatnya dan Evan. Namun, dia sangat terkejut saat semalam Ayun menceritakannya saat dia menelepon karena ingin memberikan ole-ole untuk wanita itu.
"Sudah ku bilang sejak awal kalau suamimu itu memang sudah gila, Ayun. Lebih baik cepat urus perceraian kalian sebelum dia kembali membuat ulah," ucap Rio. Dia yang seorang laki-laki saja geram melihatnya, lalu bagaimana dengan Ayun?
"Iya, Rio. Aku sudah mengurusnya, dan insyaallah akan selesai dalam beberapa bulan ke depan."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1