
Setelah transplantasi ginjal berhasil dilakukan, Hasna dan Yuni ditempatkan dalam ruang ICU karena masih harus menjalani pemeriksaan ketat pasca operasi.
Ayun dan yang lainnya belum diperbolehkan untuk menjenguk mereka, walau Hasna dan Yuni sudah sadarkan diri. Itu sebabnya Ayun hanya bisa menunggu di depan ruangan, dan berharap agar kondisi ibu dan adiknya cepat membaik.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Evan sedang membayar tagihan utangnya pada anak buah Robin sebesar 300 juta setelah beberapa hari berlalu. Dia tidak bisa melakukan apa-apa selain membayarnya, atau Robin akan benar-benar mengambil aset yang dia gadaikan.
Evan berjalan gontai menuju mobilnya berada. Dia yang akan masuk ke dalam mobil tersebut mengurungkan niatnya saat melihat seseorang yang dikenal. Dengan cepat dia mengikuti orang tersebut, yang sepertinya akan kembali ke rumah.
"Abis sarapan kita ke rumah sakit yah Nak, liat Ibu," ucap Angga sambil menggendong putra bungsunya. Dia habis belanja ke warung terdekat, dan langsung pulang saat sudah membeli apa yang diinginkan.
Evan yang tidak sengaja melihat Angga terus mengikuti laki-laki itu, dia yakin jika Angga pasti tinggal bersama dengan Ayun dan kedua anaknya.
Langkah Evan lalu terhenti saat Angga masuk ke salah satu rumah yang ada di tempat itu. Rumah sederhana yang tidak terlalu besar, tetapi terlihat nyaman dipandang mata.
"Aku berangkat ke kampus dulu yah, Paman. Nanti aku nyusul ke rumah sakit bersama Adel," ucap Ezra sebelum berangkat ke kampus. Dia menyambar tas ranselnya, dan tidak lupa menyalim tangan Angga.
"Iya, hati-hati di jalan, Ezra. Kalau nanti cepek, istirahat aja di rumah. Besok baru ke rumah sakit," balas Angga sambil menepuk bahu Ezra.
Ezra menganggukkan kepalanya sambil memakai helm sebagai pelindung, dia lalu naik ke atas motor dan mengucap salam sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
Evan yang sejak tadi memperhatikan merasa sesak saat melihat Ezra. Dia ingat betul bagaimana dulu kedua anaknya akan bergantian menyalim tangannya sebelum berangkat ke sekolah, dan Ayun akan menyalim tangannya saat dia berangkat kerja.
"Ayun, apa dia ada di rumah?" gumam Evan sambil kembali memperhatikan rumah itu. Ingin sekali dia menemui Ayun dan menceritakan apa yang sedang terjadi, berharap wanita itu kembali menyelesaikan setiap masalahnya seperti dulu.
Evan lalu mengusap wajah dengan kasar, dia merutuki pikiran bod*oh yang ada dalam kepalanya. Bagaimana mungkin Ayun akan menyelesaikan masalah, sementara wanita itu sangat membencinya?
__ADS_1
Tidak mau berpikir yang aneh-aneh, Evan memutuskan untuk segera kembali ke mobil. Walaupun tidak bertemu secara langsung dengan Ayun atau kedua anaknya, dia tetap senang karena sudah tahu di mana tempat tinggal mereka saat ini.
Pada saat perjalanan menuju kantor, tiba-tiba ponsel Evan berdering dan memperlihatkan jika Sella sedang menelepon. Awalnya dia membiarkan panggilannya itu, karena tahu jika Sella pasti akan membahas masalah Sherly. Dia belum mengambil keputusan tentang wanita itu, jadi enggan untuk membahasnya.
Sella terus menghubunginya sampai beberapa kali walau tidak dijawab, membuat Evan merasa kesal dan terpaksa menjawab panggilan tersebut.
"Halo,"
"Kau ada di mana, Evan?" tanya Sella dengan kuat, membuat Evan langsung menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Ada apa, Ma? Aku sedang sibuk," ucap Evan dengan ketus, dan bersiap untuk mematikan panggilan itu.
"Suci, Evan. Suci masuk rumah sakit,"
"Apa?" Evan memekik kaget saat mendengar ucapan Sella. "Di-di mana? Dia mana dia sekarang?" Dia bertanya dengan panik.
Evan melajukan mobilnya dengan kencang. Dia merasa cemas dan khawatir dengan keadaan sang putri, dia juga merasa bersalah karena tidak membawa Suci bersamanya.
Beberapa saat kemudian, Evan sudah sampai di tempat tujuan dan segera keluar dari mobil untuk menemui Suci. Dia segera bertanya pada pihak resepsionis di mana ruangan putrinya berada saat ini.
"Suci!" panggil Evan sambil masuk ke dalam ruangan yang ditunjukkan oleh salah satu perawat, terlihat putri kecilnya sedang terbaring di atas ranjang, sementara Sella melihat ke arahnya dengan tajam.
"Papa!" teriak Suci dengan mata berkaca-kaca, dia berusaha duduk membuat Evan langsung menghampirinya.
"Bobok aja, Nak. Suci 'kan masih sakit," ucap Evan dengan lembut, tangannya mengusap kening Suci yang terasa hangat.
__ADS_1
Suci menggelengkan kepalanya. "Enggak mau, Suci mau sama mama. Suci mau sama mama."
Evan terkesiap saat mendengar ucapan Suci, dengan cepat dia duduk di atas ranjang dan memangku putrinya itu. "Nanti kita ketemu mama, ya. Sekarang Suci istirahat dulu." Dia mencoba untuk menenangkan putrinya.
Suci tetap menggelengkan kepalanya dengan terisak. "Gk mau. Pokoknya Suci mau mama, Suci mau sama mama." Dia terus mengatakan jika ingin bersama dengan sang mama, membuat Evan menatap dengan sendu.
Sella tersenyum sinis saat melihat raut wajah Evan. Semalam, dia terpaksa membuat Suci masuk angin dan muntah-muntah agar bisa dibawa ke rumah sakit. Dia sengaja membiarkan gadis kecil itu berendam sampai beberapa jam lamanya, dan sengaja tidak memberi sarapan serta minum dingin agar rencanya berjalan lancar.
Benar saja, Suci masuk angin dan muntah-muntah saat dini hari. Setelah matahari naik ke permukaan, Sella baru membawanya ke rumah sakit.
Bukan hanya itu saja, Sella bahkan menyuruh Suci untuk mengatakan jika ingin bersama dengan mamanya pada Evan. Jika tidak, maka Suci tidak akan pernah bertemu dengan sang mama untuk selamanya.
Tidak berselang lama, Dokter masuk ke dalam ruangan itu karena mendengar suara tangisan Suci, sementara Evan menjadi panik saat melihat putrinya.
"Apa dia anak Anda, Tuan?" tanya Dokter yang memeriksa kondisi Suci.
Evan menganggukkan kepalanya. "Benar, Dokter. Bagaimana keadaan anak saya, dia baik-baik saja 'kan?" Dia bertanya dengan khawatir.
"Putri Anda masuk angin, Tuan. Itu sebabnya dia muntah-muntah, dan sejak dibawa ke sini, dia terus mencari dan memanggil mamanya. Maaf jika saya bertanya seperti ini. Tapi, apa istri Anda sudah meninggal?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.