Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 44. Sebuah Harapan.


__ADS_3

Evan jadi merasa kesal sendiri dengan apa yang Ayun lakukan. Bisa-bisanya wanita itu sama sekali tidak peduli jika dia ada di dalam ruangan itu juga.


"Jadi, kenapa kau-"


"Ayun!"


Ayun tersentak kaget saat mendengar panggilan Evan yang berdiri tepat di samping kanannya, membuat dia tidak jadi bicara dengan Keanu. Dia lalu beralih melihat ke arah laki-laki itu dengan heran.


"Ya, ada apa Mas?" tanya Ayun sambil mengernyitkan kening bingung.


Evan menatap Ayun dengan tajam tanpa menjawab pertanyaan wanita itu, sementara Keanu dan Fathir juga tampak melihat ke arahnya dengan tidak kalah tajam.


Kedua manik mata Evan dan Ayun bertemu, dan tatapan itu terkunci selama beberapa detik sampai akhirnya Ayun memalingkan wajah ke arah Keanu dan juga Fathir.


Evan tertegun saat melihat pancaran wajah Ayun, sepertinya ada yang salah dengan wajah mantan istrinya itu. Kenapa wajah Ayun tampak lebih cerah dan berseri-seri di matanya? Padahal belum terlalu lama mereka tidak bertemu.


"Kenapa Anda diam, tuan Evan? Bukankah tadi Anda memanggil nona Ayun?" tanya Fathir tiba-tiba membuat Evan terkesiap, sementara Keanu tampak heran karena tidak menyangka jika Fathir bertanya seperti itu.


"Ti-tidak. Saya hanya ingin bertanya bagaimana kabarnya saja," jawab Evan. Sangking paniknya, dia sampai tidak tahu berkata apa.


"Alhamdulillah aku baik. Semoga Mas dan keluarga juga dalam keadaan baik," balas Ayun sambil tersenyum tipis.


Evan kembali melihat ke arah Ayun dengan seksama, dia lalu menganggukkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari wanita itu.


Keanu lalu mempersilahkan Ayun untuk duduk di kursi yang tersedia. Dia memberikan sebuah berkas pada wanita itu dan menyuruhnya untuk membaca terlebih dahulu.


Ayun lalu membaca berkas pemberian Keanu dengan khusyuk. Isi berkas itu sama dengan berkas yang Fathir berikan padanya waktu itu, jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk memahaminya.


"Berkas ini sama seperti yang tuan Fathir berikan padaku waktu itu," ucap Ayun. Dia lalu kembali meletakkan berkas yang sudah dia baca ke atas meja.


"Benar, dan sekarang saatnya untuk tanda tangan," balas Keanu.


Ayun menganggukkan kepalanya dan mengambil pena yang ada di samping berkas itu, tanpa sedikit pun melihat ke arah Evan yang terus menatap dengan nanar.

__ADS_1


Setelah selesai menandatanganinya, Ayun lalu memberikan berkas itu pada Evan. "Ini, Mas." Dia mengulurkannya tepat di hadapan laki-laki itu.


Evan terdiam saat melihatnya. Jujur saja, dadanya terasa sangat sakit melihat Ayun tidak memberikan reaksi apa-apa tentang apa yang terjadi saat ini. Apakah wanita itu benar-benar tidak mengingat tentang masa lalu? Terlebih-lebih tentang Dhean property, usaha yang mereka rintis bersama-sama dari nol.


Ah, benar. Evan lupa jika saat ini Ayun sudah menjadi pemilik tempat itu. Jelas saja mantan istrinya itu tidak akan mengkhawatir apapun, termasuk siapa pemilik 30% dari Dhean Property yang menggantikannya membuat dia tersenyum dengan getir.


"Sebelum aku menandatangani berkas itu, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu dulu, Ayun," pinta Evan dengan tajam. Terserah mereka ingin berpikir seperti apa, yang pasti dia ingin sekali saja bicara dengan Ayun.


Keanu tampak tersenyum sinis saat mendengar ucapan Evan, sementara Ayun sendiri terdiam dengan tatapan penuh kegetiran saat mendengar permintaan laki-laki itu.


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu, Ayun. Sebentar saja," pinta Evan kembali.


Ayun menghela napas kasar. Berada satu ruangan dengan Evan saja benar-benar membuat hatinya terasa kembali sakit, dan sejak tadi dia berusaha untuk bersikap tenang karena tidak mau terbawa perasaan. Namun, sekarang laki-laki itu malah meminta untuk bicara dengannya. Sebenarnya apalagi yang mau dibicarakan?


"Inikan urusan kita berdua, Evan. Kenapa kau malah ingin bicara dengannya?" tanya Keanu dengan sarkas. Tidak ada lagi panggilan formal yang semula dia ucapkan, karena dia merasa kesal melihat laki-laki itu.


"Aku tidak sedang bicara dengan Anda, Tuan Keanu. Jadi tolong jangan ikut campur!" balas Evan dengan tajam.


"Baiklah," ucap Ayun tiba-tiba membuat ketiga lelaki itu melihat ke arahnya. "Aku akan bicara denganmu, Mas." Dia lalu beranjak dari kursi dan hendak berjalan keluar dari ruangan itu.


"Di sini saja, Mbak," tukas Keanu sambil berdiri, dan diikuti oleh Fathir. "Kami akan menunggu di luar." Dia lalu mengajak sang asisten untuk keluar dari ruangan itu.


Ayun menganggukkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih pada Keanu dan Fathir, sementara Evan tampak tersenyum senang karena wanita itu mau bicara dengannya.


Setelah Keanu dan Fathir keluar, Ayun kembali duduk dikursi tadi dan segera bertanya apa yag ingin Evan bicarakan dengannya.


"Bagaimana, bagaimana keadaan Adel dan Ezra, Ayun? Aku merindukan mereka," tanya Evan. Tidak tahu entah kenapa hal pertama yang dia tanyakan adalah kabar tentang kedua anaknya, karena jujur saja dia sangat merindukan mereka.


"Alhamdulillah mereka baik," jawab Ayun dengan cepat.


Evan mengucap syukur saat mendengarnya, sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan mereka.


"Apa ada lagi yang mau Mas tanyakan?" tanya Ayun kembali.

__ADS_1


Evan menatap Ayun dengan sendu. "Maaf, Ayun. Selama ini aku sudah banyak sekali menyakitimu, aku bahkan sudah memperlakukanmu dengan buruk. Aku sungguh minta maaf." Lirihnya. Tadi dia memang merasa sakit atas ketidakpedulian Ayun, tetapi sekarang dia sadar bahwa semua yang terjadi adalah kesalahannya sendiri.


Ayun terdiam saat mendengar permintaan maaf Evan. Kedua tangannya terkepal erat, dengan rasa sakit yang seakan menjalar sampai ke tulang-tulang yang ada di tubuhnya.


"Aku benar-benar sangat menyesal dengan apa yang sudah aku lakukan, Ayun. Bisakah kau memaafkanku?" pinta Evan.


Sekuat tenaga Ayun menahan air mata dan rasa sakit yang kembali mendera hatinya. Luka yang masih sangat basah, kini terasa menganga lebar dan seperti tersiram air garam. Sungguh rasanya sangat pedih sekali.


"Aku tidak akan memaksamu, Ayun. Tapi, aku mohon jangan benci kedua orang tuaku. Mereka tidak salah apapun dalam hal ini." Lirih Evan. Biar bagaimana pun, dia tidak mau membuat kedua orang tuanya hidup susah di masa tua mereka. Jika Ayun tidak mau membantunya, maka setidaknya bantulah kedua orang tuanya.


Sekilas Ayun memejamkan kedua mata mencoba untuk menekan rasa sakit dihatinya, biar bagaimana pun semua itu sudah berlalu, dan tidak baik juga untuknya jika selalu mengingat masa lalu.


"Kau tidak perlu khawatir, Mas. Aku tidak pernah membenci mereka," tukas Ayun.


Evan mengangguk lemah. "Tapi, apa yang harus aku lakukan sekarang, Ayun? Aku sudah tidak punya apa-apa lagi, aku takut tidak bisa membahagiakan mereka." Dia berucap dengan getir.


Ayun paham sekali dengan apa yang Evan katakan saat ini, dia lalu beranjak bangun dari kursi membuat laki-laki itu terkesiap.


"Ayun, aku tidak-"


"Aku mengerti, Mas. Percayalah, jika Tuhan selalu bersama dengan umat-Nya yang mau berusaha. Kau adalah laki-laki hebat dan sukses yang berhasil mengembangkan Dhean property, maka kau juga pasti akan sukses dengan usaha yang lain," ucap Ayun.


"Maaf jika aku mengambil hak dan kerja kerasmu, Mas. Sungguh aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin menyiapkan masa depan yang baik untuk anak-anak kita. Aku harap kau juga akan sukses dan selalu bahagia, Mas."





Tbc.


__ADS_1


__ADS_2