
Ayun langsung memeluk tubuh Yuni dengan erat. Dia terisak, merasa sedih karena harus adiknya yang menyerahkan satu ginjalnya pada sang ibu. Namun, disisi lain dia juga senang karena salah satu di antara mereka bisa menyelamatkan ibunya.
Dokter tersenyum saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya, dia lalu melirik ke arah laki-laki paruh baya yang saat ini ada di luar ruangannya dan berdiri di depan pintu.
"Maaf, tuan Abbas. Saya tidak bisa mengambil resiko dengan mengambil ginjal Anda walau sangat cocok dengan Buk Hasna, apalagi tuan Keanu dan Nyonya Nindi sudah mewanti-wanti saya agar tidak melakukan apa yang Anda inginkan." Dokter itu melirik ke arah Abbas dengan nanar. Selama beberapa hari ini dia serasa diteror oleh laki-laki paruh baya itu.
Menurut pemeriksaan, ginjal Yuni dan Abbas sangat cocok dengan Hasna. Apalagi Abbas ngotot ingin mendonorkan ginjalnya untuk wanita itu, tetapi Dokter tidak mengizinkannya karena akan menimbulkan resiko yang sangat besar diumurnya yang sudah memasuki 67 tahun.
Apalagi Abbas memiliki riwayat darah tinggi, maka semua itu akan membahayakan untuknya juga untuk Hasna.
Setelah itu Dokter menjelaskan apa-apa saja yang harus dipersiapkan sebelum transplantasi ginjal di lakukan, karena masih ada beberapa prosedur yang harus dilalui.
Ayun dan Yuni lalu beranjak keluar dari tempat itu dan berlalu kembali ke ruangan sang ibu, sementara Abbas yang tadi ada di depan ruangan itu tampak bersembunyi sampai mereka pergi.
Abbas lalu masuk ke dalam ruangan Dokter tadi untuk melampiaskan amarahnya, dia merasa kesal karena tidak diizinkan mendonorkan ginjal untuk Hasna.
"Maaf, Tuan. Kami tidak bisa melakukan itu." Untuk sekali lagi Dokter melarang Abbas yang tetap ngotot ingin mendonorkan ginjal. "Jika Anda masih tetap bersikeras, maka saya akan mengatakannya pada Nyonya Nindi."
Abbas langsung berdecak kesal saat mendengarnya. "Kau berani mengancamku?" Dia menatap Dokter itu dengan tajam, membuat laki-laki yang berusia hampir sama dengannya itu tergelak.
"Tentu saja tidak, Tuan. Saya mana berani." Dokter itu menggelengkan kepalanya. Sudah berumur 60 an tahun pun Abbas masih saja tetap keras kepala, sama sekali tidak berubah saat mereka masih muda dulu.
"Tapi Tuan, apa Anda tidak merasa jika Nona Ayun itu adalah anak Anda?"
__ADS_1
Abbas langsung menatap Dokter bernama Arya itu dengan tajam. "Apa maksudmu?" Dia merasa tidak mengerti.
Arya lalu menceritakan sesuatu padanya, itupun saat tidak sengaja mendengar pembicaraan antara Hasna dan juga Yuni beberapa hari yang lalu.
Flashback.
Arya yang akan melakukan pemeriksaan pada pasiennya, tidak jadi masuk ke dalam ruangan saat mendengar suara sang pasien sedang berbicara dengan seseorang.
"Kenapa selama ini Ibu tidak pernah mengatakannya padaku?" tanya Yuni dengan tajam.
Hasna terdiam. Dia lalu menghela napas kasar karena bingung harus bagaimana mengatakannya pada putri bungsunya itu, lagi pula itu bukan hal penting yang pantas untuk dibicarakan.
"Apa Mbak Ayun anak dari laki-laki bernama Abbas itu?"
Hasna tidak mau lagi membahas tentang masa lalu. Pertemuannya dengan Abbas saja sudah menjadi sesuatu yang sangat mengejutkannya, dan dia berusaha untuk bersikap biasa saja di hadapan laki-laki itu. Lalu, dari mana jalannya Yuni sampai bisa berkata seperti itu padanya?
"Aku mendengarnya dari nenek," ucap Yuni dengan lirih, tentu saja membuat Hasna langsung terkesiap. "Nenek pernah bilang jika dulu sangat membenci Ibu, bahkan kita dan semua orang juga tahu tentang hal itu. Ternyata alasannya karena Ibu menikah dengan ayah pada saat Ibu sudah mengandung, benar 'kan?"
Hasna terdiam dengan dada berdegup kencang saat mendengar ucapan Yuni. Tidak, dia tidak boleh membiarkan orang lain mengetahui tentang hal ini.
"Itu semua tidak benar, Yuni,"
"Jadi maksud Ibu, nenek berbohong?" tanya Yuni dengan tidak percaya. Walau almarhum neneknya selalu berkata kasar dan kerap memperlakukan sang ibu beda dari yang lain, tetapi neneknya tidak pernah berbohong. Apalagi sampai berkata seperti itu.
__ADS_1
"Percayalah dengan apa yang ibu katakan. Ayun itu kakakmu, anak ibu dan ayahmu. Jadi tidak ada lagi yang harus diperdebatkan, hem?" Hasna mengusap punggung tangan Yuni dengan lembut. Dia lalu berbaring dan memejamkan kedua matanya untuk istirahat.
Flashback off.
"Saya mendemgar pembicaraan mereka sampai selesai, itu sebabnya saya merasa penasaran dan melakukan pemeriksaan terhadap Nona Ayun dan Anda," ucap Arya saat sudah selesai menceritakan apa yang sempat dia dengar.
Abbas terdiam saat mendengar ucapan Arya. Tidak mungkin laki-laki itu berbohong tentang hal seperti ini, tetapi apa yang Arya katakan sangat tidak masuk akal. Memangnya sejak kapan hubungannya dan Hasna sampai sejauh itu? Tidak, dia sama sekali tidak pernah menyentuh wanita itu.
"Lalu, apa hasil dari pemeriksaannya?" tanya Abbas. Dia harus memastikannya dulu sebelum bertanya pada Hasna.
"Sebelumnya saya minta maaf jika sudah bersikap lancang, Tuan. Saya melakukan tes DNA pada Anda dan Nona Ayun, lalu hasilnya akan keluar besok," jawab Arya.
Jika orang lain mungkin Arya tidak akan seberani ini, tetapi karena Abbas adalah seniornya pada saat sekolah dulu dan hubungan mereka baik, maka sudah kewajibannya mencaritahu kebenaran tentang hal tersebut.
Abbas lalu beranjak pergi dari tempat itu. Ingatan demi ingatan melintas dalam benaknya, tetapi tidak pernah sekali pun dia berhubungan dengan Hasna sampai menghasilkan anak.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Jika Ayun benar-benar anakku, kapan aku membuatnya?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.