
Ayun terkesiap saat mendengar ucapan Keanu. Dia menatap laki-laki itu dengan heran dan bertanya-tanya, mungkinkah Keanu akan membahas hubungannya dengan Abbas?
"Ba-baik, Tuan," jawab Ayun dengan lirih. Dia tidak mungkin menolak ucapan Keanu hanya karena merasa gugup dan takut.
Keanu lalu keluar dari ruangan itu dan mengajak Ayun untuk bicara di rooftop, dia merasa itu adalah tempat yang nyaman dan aman untuk bicara 4 mata dengan wanita itu.
Ayun mengikuti langkah Evan dengan dada berdegup kencang. Kedua tangannya sudah basah dengan keringat dingin, dan perasaan gelisah karena menerka-nerka apa yang ingin laki-laki itu katakan padanya.
Sesampainya di rooftop, Keanu berdiri di ujung pembatas gedung sambil menatap Ayun dengan tajam, sementara Ayun sendiri menundukkan kepalanya dengan cemas.
"Sebelumnya maaf kalau saya sudah menganggu mu dan membuat tidak nyaman karena mengajak ke tempat seperti ini, tapi saya terpaksa melakukannya karena merasa terdesak," ucap Keanu dengan lirih, membuat Ayun mendongakkan kepala dan menatap ke arahnya.
Ayun merasa terkejut saat melihat wajah sendu Keanu. Laki-laki yang biasa menatap orang lain dengan tajam dan datar, kini tampak rapuh dan putus saja.
"Ti-tidak papa, Tuan. Katakan saja apa yang ingin Anda katakan, saya akan mendengarnya sampai selesai," balas Ayun dengan cepat. Dia merasa jika Keanu sedang diterpa masalah.
"Saya bukan hanya akan mengatakannya padamu, tapi juga meminta bantuan," lanjut Keanu membuat Ayun semakin dilanda kegelisahan luar biasa.
"Ka-katakan saja, Tuan. Jika bisa, maka saya akan membantu Anda," ucap Ayun kembali.
Keanu menganggukkan kepalanya sambil meyakinkan diri jika apa yang dia lakukan sudah benar. "Aku ingin mengatakan tentang kondisi istriku, dan meminta bantuan untuk meringankan beban penyakitnya."
Ayun mengernyitkan kening bingung saat mendengar ucapan Keanu, memangnya apa yang bisa dia lakukan untuk menyembuhkan Nindi?
"Ayun, kami semua sudah tahu kalau kau adalah putri kandung papa."
Deg.
Ayun terpaku di tempat dengan dada berdegup kencang saat mendengar ucapan Keanu, dia tidak menyangka jika laki-laki itu akan mengatakan hal demikian.
__ADS_1
"Tapi kami tidak mempermasalahkannya, Ayun. Kami senang karena papa bisa mengetahui tentang semua itu, terutama Nindi. Kau masih ingat 'kan, jika dia memanggilmu dengan sebutan mbak?" tanya Keanu dengan lirih.
Ayun menganggukkan kepalanya dengan terisak. "Sa-saya mengingatnya. Maaf, saya tidak tahu tentang semua itu." Entah kenapa dia merasa bersalah pada Nindi karena sudah menjadi putri kandung Abbas dari wanita yang berbeda.
"Jangan minta maaf. Kau tidak salah apapun, dan kami tidak marah padamu. Kami senang mengetahui jika kau adalah anak kandung papa, dan Nindi sangat bahagia punya kakak sepertimu."
Dada Ayun terasa sesak saat mendengar ucapan Keanu. Dia tidak menyangka jika Nindi menerima kenyataan jika dia adalah anak kandung Abbas, mereka bahkan menerimanya dengan penuh kebahagiaan. Lalu, kenapa dia sendiri masih merada tidak nyaman?
"Karena itulah saya datang menemuimu untuk meminta bantuan," sambung Keanu, membuat Ayun menatapnya dengan sendu. "Nindi sedang berada dalam masa kritis, dan Dokter sudah tidak sanggup lagi untuk mengobatinya."
Ayun tersentak kaget saat mendengarnya. "Ti-tidak. Dia pasti baik-baik saja, Tuan. Nindi pasti baik-baik saja." Dia berucap dengan yakin.
"Sejak dulu kami sudah berusaha untuk mengobati Nindi, dan melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang pada semua keluarga. Tapi, kami tidak mendapatkan sumsum tulang belakang yang cocok untuknya."
Ayun mendengarkan cerita Keanu dengan serius. Sedikit demi sedikit dia mulai paham ke mana arah pembicaraan laki-laki itu saat ini.
Ayun terdiam dengan berderai air mata saat melihat apa yang Keanu lakukan. Hatinya terasa sakit saat mendengar keadaan Nindi saat ini.
"Saya akan melakukan apapun untukmu, saya juga akan memberikan-"
"Saya akan melakukannya," potong Ayun dengan cepat, membuat ucapan Keanu terhenti. "Saya akan mendonorkan sumsum tulang belakang saya untuk Nindi."
Keanu menatap Ayun dengan tidak percaya. Kedua matanya berkaca-kaca, dan siap untuk mengeluarkan air mata. "Ka-kau bersedia?" Dia bertanya dengan lirih.
Ayun menganggukkan kepalanya. Mungkin inilah jawaban atas pertanyaan kenapa dia tidak bisa menjadi pendonor untuk sang ibu, ternyata bukan ibunya yang memerlukan bantuan, melainkan adik kandungnya.
"Terima kasih. Saya.sangat berterima kasih," ucap Keanu sambil menundukkan kepalanya.
"Tidak perlu berterima kasih pada saya, Tuan. Nindi adalah adik saya, adik kandung saya. Dan saya merasa senang kalau bisa membantunya, karena saya juga sangat menyayanginya." Lirih Ayun dengan tersenyum tipis. Dia berharap jika sumsum tulang belakangnya cocok untuk Nindi.
__ADS_1
"Baiklah, aku mohon bantuannya, Mbak," ucap Keanu sambil ikut mengulas senyum tipis, membuat Ayun merasa terkejut dengan panggilan yang tersemat untuknya.
Setelah berbicara dengan Keanu, Ayun kembali ke ruangan sang ibu dengan perasaan lega. Entah kenapa kegelisahan dan perasaan tidak nyaman yang dia rasakan hilang begitu saja, dia jadi merasa lebih tenang saat ini.
"Assalamu'alaikum," ucap Ayun pelan sambil masuk ke dalam ruangan sang ibu, dia tidak mau mengganggu istirahat ibu dan juga adiknya.
"Kau dari mana, Nak?" tanya Hasna membuat Ayun terkesiap.
Ayun terdiam di ambang pintu saat melihat keberadaan Abbas di dalam ruangan itu, dan duduk di samping ranjang ibunya.
"Aku, aku habis mencari udara segar, Bu," jawab Ayun, dia terpaksa berbohong agar ibunya tidak merasa curiga.
Hasna menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. "Dari tadi tuan Abbas mencarimu." Dia memberitahukan maksud dan tujuan Abbas datang ke ruangannya.
Ayun melangkah masuk ke dalam ruangan. "Maaf sudah membuat Anda menunggu, Tuan." Dia berucap dengan ringan seperti mana biasanya.
"Tidak apa-apa," balas Abbas. Dia terus menatap Ayun yang tersenyum ke arahnya, membuat kegelisahan yang dia rasakan sedikit berkurang.
Hasna terdiam sambil menatap putri sulungnya itu. Sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik, dan mungkin inilah saatnya dia mengatakan kebenaran pada Ayun.
"Ayun, duduklah di samping tuan Abbas."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1