Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 96. Sembuhkan Lukamu.


__ADS_3

Ayun terperanjat kaget saat melihat apa yang ada di hadapannya saat ini. Kedua matanya membelalak lebar dan tercengang, sampai tidak sadar jika dia menjatuhkan botol minuman yang ada di tangannya.


Pyar.


Fathir yang berada di luar tamu tersentak kaget saat mendengar suara nyaring itu, sontak dia melompat dari kursi untuk melihat apa yang terjadi.


Ayun yang tidak sengaja memecahkan botol minuman itu bergegas untuk mengumpulkan pecahan kacanya, jangan sampai nanti mengenai kaki orang lain yang berada di tempat itu.


"Ada apa, Ayun? Apa kau baik-baik saja?"


Ayun terkesiap mendengar suara Fathir dan tidak sengaja pecahan kaca itu menggores jari telunjuknya. "A-aku tidak sengaja memecahkan botol minuman ini, Fathir." Dia menjawab saat Fathir sudah berjongkok di hadapannya.


Fathir menghela napas lega saat melihat Ayun baik-baik saja. Namun, sedetik kemudian dia dikejutkan dengan darah yang mengalir dijari wanita itu.


"Ta-tanganmu berdarah, Ayun!" seru Fathir dengan panik membuat Ayun langsung menoleh ke tangannya.


Ah, Ayun pasti tidak sengaja tergores pecahan kaca pada saat sedang memegangnya. "Tidak apa-apa, ini hanya-"


Fathir langsung menarik tangan Ayun membuat wanita itu tersentak kaget dan tidak bisa melanjutkan ucapannya. Dia membawa wanita itu ke westafel dan langsung mencuci luka yang ada di tangan Ayun.


"Tahan yah, ini pasti perih," ucap Fathir sambil terus memegangi tangan Ayun.


Ayun terdiam saat melihat apa yang Fathir lakukan. Kedua matanya menatap laki-laki itu dengan tidak berkedip, apalagi dia melihat kekhawatiran yang sangat besar dari raut wajah Fathir.


"Tanganku sudah sering tergores kaca atau pisau, tapi kenapa dia harus sekhawatir itu?" Ayun merasa heran dengan reaksi Fathir.


Fathir terus meletakkan tangan Ayun di bawah pancuran air sampai darahnya menghilang, setelah itu dia mengambil handuk kecil dan mengelapkannya ke luka tersebut.


"Ayo, aku akan mengobati lukanya! Jangan sampai pecahan kaca itu masuk ke dalam," ucap Fathir sambil menoleh ke arah Ayun.


Ayun tetap diam sambil terus menatap ke arah Fathir, dan dia tidak mengalihkan pandangannya walau kini laki-laki itu juga menatapnya.


Untuk beberapa saat mereka kembali saling bertatapan, seolah mengamati dan mencoba untuk memahami perasaan masing-masing.


Sesaat kemudian, Ayun tersenyum sambil mengalihkan pandangannya ke arah samping membuat Fathir tersadar.


"Ini hanya luka kecil, Fathir. Tapi terima kasih karena sudah membersihkannya," ucap Ayun dengan lirih, dia lalu berbalik dan hendak mencari sapu agar bisa membersihkan pecahan kaca itu.


"Tidak peduli apakah itu luka besar atau kecil, aku akan tetap berusaha untuk mengobatinya, Ayun."


Langkah Ayun terhenti. Dadanya kembali bergemuruh saat mendengar ucapan Fathir, sampai dia merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang sedang beterbangan dalam perutnya.


"Aku merasa terharu saat mendengarnya, Fathir. Tapi, terkadang ada sebuah luka yang tidak memerlukan obat, atau bahkan tidak akan ada obat yang bisa menyembuhkannya. Semua itu hanya butuh waktu, maka akan sembuh dengan sendirinya," balas Ayun.

__ADS_1


Fathir terdiam saat mendengarnya. Benar, semua hanya tinggal menunggu kapan waktu akan menyembuhkan semua luka. Namun, waktu tidak akan bekerja dengan baik jika kita sendiri tidak mencoba untuk menerima dan berdamai dengan apa yang terjadi.


Dari balik dinding, wanita tua itu tampak tersenyum mendengar percakapan antara Fathir dan Ayun. Dia yang baru selesai memetik mangga berniat untuk mencucinya, tetapi tidak sengaja mendengar semua itu.


"Syukurlah kau sudah baik-baik saja, Fathir," gumamnya sambil kembali berjalan ke arah ruang tamu.


Fathir lalu memperhatikan Ayun yang sedang mengumpulkan pecahan kaca, padahal dia bermaksud ingin mengobati tangan wanita itu lebih dulu.


Setelah selesai, Ayun membuka pintu belakang rumah itu dan langsung disambut dengan hembusan angin yang menerpa wajahnya.


"Masyaallah," ucap Ayun saat sudah melihat langsung pemandangan yang sempat dia lihat dari jendela tadi.


Sebuah hamparan luas yang dipenuhi dengan bunga terpampang nyata di hadapannya. Warna-warni dari bunga itu membuatnya sangat terpesona, hingga dia tidak bisa untuk mengedipkan kedua matanya.


"Apa kau menyukainya?" tanya Fathir yang saat ini sedang berdiri di samping Ayun.


Sekilas Ayun menoleh ke arah Fathir, lalu kembali melihat ke depan. "Ciptaan Allah sungguh sangat indah, Fathir. Sampai-sampai aku tidak bisa mengalihkan pandangan walau satu detik saja."


Fathir tersenyum senang saat mendengarnya. Ternyata tidak salah dia membawa Ayun ke tempat ini, tempat di mana dia pernah bersembunyi dari semua orang, bahkan dari dunia yang saat itu menghancurkannya tanpa ampun.


"Ayo, aku akan mengobati lukamu lebih dulu! Setelah itu aku akan mengajakmu ke sana."


"Benarkah? Apa aku boleh melihatnya dari dekat?" tanya Ayun dengan bersemangat.


Ayun tercengang dengan tidak percaya saat mendengarnya. Bagaimana mungkin bunga-bunga itu milik Fathir? Apa laki-laki itu sudah membeli lahannya?


Fathir lalu berjalan ke ruang tamu dan menemui nenek itu untuk meminta obat, sementara Ayun mengikuti langkahnya dengan berbagai pertanyaan yang memenuhi pikiran.


"Ada apa, Nak? Kenapa kau bisa sampai terluka?" tanya nenek itu dengan khawatir saat Fathir meminta kotak P3K.


Ayun tersenyum. "Maaf, Nek. Aku tidak sengaja memecahkan botol minuman nenek." Dia jadi merasa tidak enak hati.


"Ya Tuhan, lain kali berhati-hatilah, Nak. Lihat, tanganmu jadi terluka," seru nenek itu kembali.


Ayun hanya menganggukkan kepala sambil memperhatikan Fathir yang sedang mengobati jarinya, padahal dia bisa mengobatinya sendiri.


"Mulai besok nenek harus mengganti semua botol minuman itu. Jika pecah lagi, maka akan bahaya."


Ayun terkesiap saat mendengar ucapan Fathir, sementara nenek itu langsung menganggukkan kepalanya.


"Kau benar, Nak. Besok nenek pasti akan langsung menggantinya," sahut sang nenek.


"Tu-tunggu sebentar," ucap Ayun sambil menarik tangannya, tetapi tangan itu kembali dipegang oleh Fathir. "Ti-tidak perlu menggantinya, Nek. Aku yang sudah ceroboh dan tidak hati-hati." Dia berucap dengan serius.

__ADS_1


Fathir tampak menggelengkan kepalanya. "Tapi tetap saja bahaya, Ayun. Kau bisa terluka lagi nanti, jadi lebih baik diganti dengan yang tidak terbuat dari kaca." Ayun menatapnya dengan tajam.


Nenek itu menyetujui apa yang Fathir ucapkan, sementara Ayun terdiam karena tidak bisa lagi mengucapkan apa-apa.


Dia hanya bisa menatap Fathir dengan tajam. Memangnya laki-laki itu bisa sekurang ajar ini di rumah orang lain? Fathir bahkan sampai menyuruh nenek itu untuk mengganti botol air minum, sungguh sangat tidak sopan.


Setelah semua selesai, Fathir segera mengajak Ayun ke halaman belakang rumah ini. Terlihat wanita itu sangat bersemangat sekali membuatnya tersenyum lebar.


Mata Ayun sungguh disuguhkan dengan pemandangan yang sangat indah. Lingkungannya terasa masih sangat alami, seperti sengaja dirawat dan tidak boleh dikunjungi oleh orang lain.


"Apa bunga-bunga ini memang milikmu, Fathir?" tanya Ayun dengan penasaran.


Fathir yang sedang mengupas mangga tampak menganggukkan kepala. "Benar, bunga-bunga ini adalah milikku. Dan lahan yang luas ini juga milikku, sampai ke perbatasan sana." Dia menunjuk ke arah yang lumayan jauh.


Ayun berdecak kagum saat mendengarnya. Bisa-bisanya orang seperti Fathir menyukai hal seperti ini, bahkan bisa memiliki semuanya.


"Dulu, bunga-bunga yang ada di sini hanya sedikit, dan itu ditanam oleh nenek Asma. Setelah berada di sini, aku melanjutkan penanamannya sampai memenuhi lahan ini, dan setiap hari bunga-bunga inilah yang menemaniku," ucap Fathir.


Ayun mendengarkan cerita Fathir dengan serius, entah kenapa dia bisa merasakan bagaimana perasaan Fathir pada saat itu.


"Aku yakin kalau kau sudah tahu tentang apa yang terjadi dengan keluargaku, karena itulah aku sampai di tempat ini," sambung Fathir dengan lirih. "Aku menyembunyikan diri di tempat ini selama hampir 2 bulan, dan semua itu berkat bantuan dari nenek Asma. Aku menghilang dari semua orang, dan aku menghilang dari dunia demi kewarasanku."


Ayun menatap Fathir dengan mata berkaca-kaca, terlihat jelas kesedihan dan penderitaan dari raut wajah laki-laki itu.


"Tapi semua itu sudah berlalu, dan tempat ini menjadi tempat kesukaanku. Untuk itulah aku mengajakmu ke tempat ini," ucap Fathir kemudian, dia lalu menatap hamparan bunga yang sangat menenangkan itu.


Sekarang Ayun mengerti kenapa Fathir mengajaknya ke tempat ini. Walau masalah mereka berbeda, tetapi tetap saja menyisakan luka yang sangat dalam, dan laki-laki itu ingin dia menyembuhkan luka itu.


Ayun lalu berdiri tepat di samping Fathir sambil memperhatikan pemandangan yang ada. Sama-sama merasakan ketenangan dan kesejukan yang masuk ke dalam relung jiwa.


"Terima kasih karena sudah membawaku ke sini, Fathir. Seumur hidup, aku tidak pernah melihat tempat seindah ini," ucap Ayun dengan tulus.


Fathir beralih melihat ke arahnya dengan senyum tipis. "Aku senang karna kau menyukainya, Ayun. Sama sepertiku, cobalah untuk membuka hati dan bangkit dari rasa sakit yang selama ini membelenggu jiwamu. Jadikan ketenangan ini sebagai kekuatan."


Ayun mengangguk paham dengan apa yang Fathir ucapkan, kemudian laki-laki itu mengajaknya untuk pulang karena waktu sudah sore.


"Sama sepertimu yang mencoba untuk membuka lembaran baru, maka aku juga akan berusaha melakukannya, Fathir. Aku tidak bisa memastikan bagaimana akhirnya, tapi aku berharap jika kau bersamaku dalam setiap prosesnya."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2