
Evan tersentak kaget dengan tatapan tidak percaya saat mendengar apa yang Sella ucapkan. Apakah wanita itu sedang bercanda? Bagaimana mungkin papa mertuanya akan menikah dengan istrinya sendiri?
"Kau tidak percaya?" tanya Sella sambil menyipitkan kedua matanya, terlihat jelas tatapan tidak percaya yang Evan layangkan padanya.
Evan menggelengkan kepala. Mungkin jika yang mengatakannya orang lain, dia akan langsung memakinya.
"Bagaimana mungkin Mama bisa berpikir seperti itu? Itu semua tidak mungkin," ucap Evan dengan tegas, seperti membantah bahwa apa yang wanita itu katakan adalah tidak benar.
"Tidak mungkin bagaimana, hah? Jelas-jelas mama merasakan dan melihatnya dengan kedua mata mama sendiri!" Pekik Sella dengan penuh penekanan. Dia lalu mulai menceritakan apa yang ada dalam pikirannya, termasuk apa yang terjadi saat terakhir kali dia menemui Abbas dan melihat bahwa Ayun sedang berduaan dengan laki-laki itu di dalam ruangan.
Evan menggelengkan kepalanya dengan tatapan tidak percaya. Tidak, tidak mungkin Ayun melakukan hal seperti itu. Apa Ayun sudah gila, sampai-sampai menikah dengan laki-laki yang lebih pantas dipanggil dengan sebutan ayah?
Sudahlah, Evan memilih untuk diam dan mendengarkan semua omelan mertuanya itu. Namun, setelah ini dia harus menemui Ayun untuk menanyakan kabar yang sangat tidak mengenakkan untuk di dengar ini. Atau, jangan-jangan kabar itu memang benar? Tidak, dia tidak akan membiarkannya begitu saja.
Setelah bertemu dengan Sella, Evan memutuskan untuk langsung pergi ke rumah Nayla. Tidak seperti waktu itu, kali ini dia tahu jika Ayun tinggal bersama dengan wanita itu.
Dalam perjalanan, Evan mencoba untuk menghubungi Ayun. Akan tetapi, nomor ponsel wanita itu malah tidak aktif.
"Cih, sekarang dia sangat susah sekali dihubungi. Apa jangan-jangan dia memblokir nomorku?" Evan merasa kesal sendiri jadinya. Dia lalu menekan pedal gasnya dan melaju kencang di jalanan agar bisa cepat sampai di tempat tujuan.
__ADS_1
Sementara itu, di tempat lain terlihat Ayun sedang berada dalam perjalanan menuju kota. Setelah semua administrasi selesai, dia memutuskan untuk langsung membawa sang ibu ke rumah sakit yang ada di kota agar mendapat perawatan yang baik.
Ayun dan Yuni menaiki ambulance bersama dengan ibu mereka agar cepat sampai ke kota, karena para pengendara lain akan memberi jalan jika ambulence yang lewat. Sementara itu, di mobil belakang ada Ezra, Adel, dan juga Angga bersama dengan kedua anak-anaknya.
Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam, akhirnya sampai juga mereka di rumah sakit Citra Medika. Beberapa petugas medis menyambut kedatangan mereka karena memang sudah mendapatkan pemberitahuan, dan segera membawa Hasna ke ruang peratawan agar segera diperiksa oleh Dokter.
Ayun menyandarkan tubuhnya yang terasa sangat lelah ke sandaran kursi, tidak berselang lama datanglah Ezra dan Adel yang ikut duduk di tempat itu.
"Ini, Bu. Minumlah," ucap Adel sambil memberikan air mineral kepada sang ibu, membuat Ayun tersenyum hangat.
"Terima kasih, Sayang," balas Ayun sambil mengusap puncak kepala Adel. Dia lalu meminum air yang ada ditangannya. "Alhamdulillah." Lirihnya sambil mengusap air yang sedikit tumpah ke dagunya.
Ayun lalu menatap kedua anaknya dengan sendu, yang dibalas dengan senyum hangat mereka. "Kalian pulang dan istirahat lah, pasti capek sejak tadi malam gak ada istirahat." Lirihnya dengan pelan.
"Tapi kasihan adikmu, Ezra. Lihat, matanya udah merem-melek menahan ngantuk," ucap Ayun membuat Ezra langsung memperhatikan mata sang adik, sementara Adel langsung menggelengkan kepala dan memelototkan matanya agar tidak terlihat sedang mengantuk.
Ayun dan Ezra tergelak saat melihat apa yang Adel lakukan. "Sudah-sudah, bola matamu bisa keluar nanti." Ayun mengusap lengan sang putri. "Kalian pulang saja, sekalian ajak tante dan paman kalian untuk istirahat di rumah tante Nayla dulu. Kasihan juga hasan dan hasri, mereka pasti lelah sekali."
Dengan sangat terpaksa, Ezra dan Adel menganggukkan kepala mereka dan beranjak pamit untuk membawa yang lainnya pulang ke rumah Nayla. Sebelum pergi, Ayun memberikan ponselnya pada Ezra agar bisa diisi daya.
__ADS_1
Ezra dan Adel lalu keluar dari rumah sakit untuk menemui paman dan tante mereka yang sedang sarapan, setelah itu mereka pulang ke rumah Nayla dengan menggunakan mobil wanita itu.
Ayun kembali menyandarkan tubuhnya dengan kepala berdenyut sakit. Sebelumnya dia bisa mengelak saat sang adik bertanya di mana Evan, lalu sekarang sepertinya dia tidak bisa lagi mengelak saat Yuni bertanya kenapa dia tidak tinggal di rumah suaminya sendiri.
"Mungkin sudah saatnya keluargaku tahu apa yang terjadi antara aku dan dia, tapi kenapa harus disaat seperti ini?" Lirih Ayun sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Bagaimana jadinya jika sang ibu mengetahui kabar tentang perceraianya dengan Evan? Sungguh dia tidak bisa membayangkan reaksi apa yang akan ibunya berikan.
Dari kejauhan, seorang lelaki terus menatap Ayun dengan tajam. Awalnya dia merasa sudah salah lihat, tetapi lama-kelamaan diperhatikan, ternyata wanita itu benar-benar adalah Ayun.
Dengan langkah lebar, dia mendekati wanita itu yang terlihat sedang melamun sambil menatap lantai.
"Ayun!"
Ayun yang sedang memikirkan keadaan sang ibu, sekaligus perceraiannya dengan Evan terlonjak kaget saat mendengar panggilan seseorang. Sontak dia melihat ke arah samping kanan di mana sumber suara berasal.
"Tu-tuan Keanu?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.