Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 54. Mungkin Inilah Saatnya.


__ADS_3

Semua orang tersentak kaget saat mendengar ucapan Evan, sementara Evan sendiri menatap mereka semua dengan tajam dan penuh dengan kemarahan.


"Kau mengusir kami dari sini, Mas?" tanya Ayun dengan tidak percaya. Jika hanya dia yang diusir, maka dia pasti akan biasa saja. Namun, laki-laki itu juga mengusir anak-anak mereka?


"Kenapa, apa kau pikir aku tidak punya hak untuk mengusirmu, hah?" ucap Evan dengan tajam. Matanya berkilat penuh emosi, dia bahkan tidak peduli jika saat ini ada ibunya juga di tempat itu.


"Selama ini aku diam, tapi kalian malah terus menjadi-jadi dan terus menginjak-nginjak harga diriku. Bukan hanya ini, bahkan siang tadi kalian juga membuat aku malu di depan Burhan. Apa kalian pikir aku akan diam aja, hah?" ucapnya dengan nanar.


Ezra menatap ayahnya dengan kedua tangan terkepal erat. Tanpa mengucapkan apapun, dia segera berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah.


"Mau ke mana kau?" teriak Evan. Dia yang hendak mengejar langkah Ezra tidak bisa bergerak karena tangannya di cekal oleh sang ibu. "Lepaskan tanganku, Bu. Aku akan-"


Plak.


Evan langsung diam saat sebuah tamparan melayang ke wajahnya, tentu saja tamparan itu berasal dari sang ibu yang sejak tadi diam mendengarkan ucapannya.


"Aku tidak pernah melahirkan dan membesarkan manusia sepertimu, Evan. Hanya karena uang, kau sampai mengusir istri dan anakmu, hah? Apa kau pikir mereka menghabiskan uangmu setiap hari?" ucap Mery dengan ketus dan tatapan nyalang.


Evan terdiam. Selama ini dia sudah bersabar dan diam dengan apa yang mereka lakulan, tetapi sekarang semua sudah sangat keterlaluan


"Kau marah karena istri sahmu dan anak-anakmu membelanjakan uang, tapi kau malah dengan mudahnya memberi uang pada simpananmu itu, hah? Di mana sebenarnya pikiranmu?" ucap Mery dengan getir. Tidak tahu kata-kata seperti apa lagi yang bisa diucapkan untuk manusia seperti Evan itu.


"Tidak, Bu. Bukan seperti itu," bantah Evan sambil menatap sang ibu. "Aku bukan hanya mempermasalahkan uang 100 juta yang mereka habiskan satu hari ini, tapi semua yang telah mereka lakukan. Karena aku tahu kalau pikiran mereka telah diracuni oleh wanita sia*lan ini!" ucap Evan dengan tajam sambil menunjuk ke arah Ayun.


"Dia yang telah merusak pikiran anak-anakku sampai mereka berlaku tidak sopan padaku! Dia juga menghasut mereka agar mengikuti semua yang dia inginkan, dasar wanita tidak tahu diri!" hina Evan dengan tajam, dan tatapan yang menusuk.


"Kau-"

__ADS_1


"Ibu."


Mery tidak dapat melanjutkan ucapannya saat mendengar suara Ayun, dan wanita itu memintanya untuk diam.


Ayun tersenyum tipis, dia lalu berbalik untuk bicara dengan Adel. "Masuklah bersama dengan kakak, mandi dan ganti baju ya." Ayun mengusap puncak kepala Adel dengan sendu, malang sekali nasib anak-anaknya yang mempunyai orang tua sepertinya dan Evan.


Adel mengangguk dengan lemah. Kedua tangannya masih bergetar dengan dada berdegup kencang. Dia mengayunkan kakinya dengan menahan rasa takut yang seakan ingin melahapnya hidup-hidup.


Evan menatap putrinya dengan nanar. "Adel, Ayah-"


"Kalau kau sampai melarang anak-anakku masuk ke rumah kakak dan neneknya, maka aku aku akan benar-benar menghancurkanmu, Mas!" ucap Ayun dengan tajam membuat Evan tidak jadi mengeluarkan suaranya. Padahal tadi dia hanya ingin meminta maaf karena sudah membuat putrinya takut.


Ayun menghela napas kasar sambil melangkah masuk ke dalam rumah, tetapi berhenti tepat di balik pintu.


"Aku tidak mau rumah tanggaku menjadi bahan tontonan orang-orang, jadi aku akan menumpang di rumahmu ini sebentar supaya bisa bicara denganmu," ucap Ayun dengan cepat membuat Evan dan Mery langsung melihat ke sekeliling mereka, dan benar saja jika banyak para tetangga yang memperhatikan mereka.


Evan segera berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah, begitu juga dengan Mery yang langsung menutup pintu rumah mereka.


"Baiklah, kau selalu menyalahkan aku untuk semua keributan ini. Kau menyalahkan aku karena anak-anakmu berubah, kau menyalahkan aku saat menyambut tamumu, bahkan kau menyalahkan aku karena perselingkuhanmu. Sungguh, Evan. Tidak ada manusia yang lebih egois dan picik darimu!"


Deg.


Tubuh Evan langsung menegang saat mendengar ucapan Ayun, begitu juga dengan Mery yang masih berada di tempat itu.


"Yang selalu buat masalah kau, yang selingkuh juga kau. Yang ngajak wanita yang kau cintai itu untuk menyambut Burhan, juga kau. Yang membuat anak berubah juga kau, karena kau lebih mentingin wanita itu dari pada mereka. Dan masalah uang juga, aku rasa uang yang kau keluarkan untuk wanita itu jauh lebih banyak dari pengeluaranku hari ini. Padahal ini kali pertama aku belanja seperti itu selama 20 tahun." Ayun tersenyum dengan getir. Miris, sungguh sangat miris.


"Kau tau, Evan. Bahkan saat kau mempekerjakan pembantu saja, kau harus mengeluarkan uang yang besar. Lalu aku? Sebenarnya sampai serendah apa aku di matamu? Padahal aku sudah mengerjakan semua pekerjaan pembantu, aku juga melakukan pekerjaan sebagai istri, aku melakukan pekerjaan sebagai menantu. Tapi kau benar-benar yah."

__ADS_1


Ayun sampai kehabisan kata-kata untuk menggambarkan keberadaan dirinya dalam hidup laki-laki itu. Mungkin dibandingkan pulpen saja, lebih berharga pulpen itu dari pada dirinya.


"Ya sudahlah. Terserah kau mau anggap aku apa, toh kita sekarang sudah berakhir. Kau memintaku untuk pergi kan? Baik, aku akan pergi malam ini juga. Tapi jangan pernah usir anak-anakku, mereka berhak tinggal di mana pun yang mereka mau!" ucap Ayun dengan tajam.


Ayun lelah, sangat lelah. Sudah cukup selama ini dia direndahkan, dan tidak dianggap sama sekali. Biarlah sekarang dia pergi, mungkin di luar sana akan ada tempat yang mau menghargainya sebagai manusia.


"Tunggu Ayun-"


"Jangan mengatakan apa-apa, Ibu. Cukup restui apapun yang aku lakukan," potong Ayun dengan cepat sambil melangkahkan kakinya menuju kamar. Tentu saja dia harus mengambil barang-barangnya bukan?


Evan terdiam dan sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Ada sesuatu yang terasa nyeri didadanya, tetapi dia tidak tahu perasaan apa yang sedang dia rasakan saat ini.


"Puas, kau sudah puas, Evan?" tanya Mery dengan tajam. "Hari ini kau mengusir istri dan juga anak-anakmu, maka besok kau juga akan mengusir orang tuamu."


Deg


Evan langsung melihat ke arah sang Ibu yang sudah melangkah pergi dari tempat itu. "Tidak, aku tidak akan mengusir orang tuaku."


Ayun yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya mendadak jadi lemas, kakinya bergetar karena menangisi nasib si*al yang menimpanya. Namun, dia kembali menguatkan hati dan membuka pintu kamarnya.


Deg.


"Ezra, Adel? Apa, apa yang kalian lakukan?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2