Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 33. Pengusiran Paksa.


__ADS_3

Evan menatap Fathir dengan tidak suka, tetapi mulutnya tetap tertutup rapat dan tidak membalas ucapan laki-laki itu sampai Fathir berlalu keluar dari ruangannya.


"Brengs*ek!" umpat Evan dengan penuh kemarahan. "Beraninya mereka melakukan ini padaku." Dia menggerutu penuh rasa benci.


Evan mencoba untuk mengendalikan diri saat dadanya kembali berdenyut sakit. Dia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan, dan terus seperti itu sampai kemarahannya sedikit berkurang.


Hanya orang bod*oh saja yang akan menuruti kemauan Keanu tadi, dan tentu saja Evan tidak akan pernah melakukan hal tersebut. Namun, saat ini dia kembali diselimuti rasa bingung bagaimana mencari uang dengan cepat.


Entah pada siapa lagi Evan bisa meminjam uang untuk membayar denda, belum lagi sisa hutang pada Robin yang pasti akan ditagih dalam waktu dekat membuat kepalanya terasa pusing.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Sedang terjadi keributan besar. Di mana Mery menyeret paksa Sherly agar keluar dari rumahnya, apalagi dia sudah mendengar cerita dari Evan bahwa putranya itu sudah menjatuhkan talak 3.


"Pergi dari tempat ini sekarang juga!" usir Mery dengan tajam. Dia sama sekali tidak peduli walau wanita itu bersimpuh dikakinya, karena selama ini dia sudah cukup sabar dengan apa yang Sherly lakukan.


"Tidak, Bu. Aku mohon jangan usir aku," pinta Sherly dengan terisak. Wajahnya sembab dengan kedua mata memerah, terlihat jelas jika sejak kemaren dia terus menangis.


Beberapa tetangga yang mendengar keributan itu jelas pada keluar dari rumah. Baik yang tua mau pun yang muda, semua orang tampak semangat menyaksikan pertengkaran itu dengan ponsel yang siap merekam semua yang terjadi.


"Kau sudah bukan lagi istri putraku, jadi kau tidak pantas tinggal dirumah kami!" tukas Mery dengan sarkas.


Sherly segera menggelengkan kepalanya dan bersimpuh di hadapan Mery, berharap agar wanita itu bersimpati padanya dan kembali mengizikannya tinggal bersama mereka.


Endri sendiri saat ini sedang berada di taman bersama dengan Suci. Dia tahu jika Mery sedang mengusir Sherly, itu sebabnya dia membawa Suci pergi agar gadis kecil itu tidak melihat apa yang terjadi.


Tatapan iba Endri berikan pada Suci karena merasa kasihan dengan apa yang terjadi pada gadis kecil itu saat ini. Hanya karena keegoisan kedua orang tuanya, Suci harus menjadi korban atas keributan yang terjadi. Sama persis seperti apa yang Adel dan Ezra rasakan.


Endri mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak tahu harus melakukan apa saat ini, apalagi saat melihat Suci yang berhasil membuat air matanya lolos dari pelupuk mata.


"Maafkan kami, Nak. Karena keegoisan kami kau harus menanggung semuanya, tapi aku yakin suatu saat nanti kau akan menjadi gadis yang kuat dan sukses." Endri mengusap puncak kepala Suci membuat gadis itu menatapnya dengan mata berbinar-binar.


"Kakek, mau sama papa," ucap Suci dengan pelan. Semalam padahal dia diajak ke rumah sakit, tetapi tidak tahu apa yang terjadi sehingga dia pulang bersama dengan kakek dan neneknya.

__ADS_1


"Nanti yah, papa masih istirahat," balas Endri.


Suci mengangguk paham. Dia lalu kembali menikmati makanan yang berada di pangkuannya, makanan ringan yang sengaja sang kakek berikan untuknya.


Di sisi lain, keributan masih terus terjadi di halaman rumah Mery. Orang-orang yang berkerumun semakin banyak, tetapi tidak membuat wanita paruh baya itu menghentikan pengusirannya.


"Kalau kau tidak pergi, maka jangan salahkan aku jika memanggil polisi," ancam Mery. Dia sebenarnya sudah sangat lelah dan merasa malu dengan orang-orang, tetapi saat ini juga dia harus mengusir wanita itu dari rumahnya.


Sherly menundukkan kepalanya dengan terisak. Sungguh dia tidak mau keluar dari rumah itu, dia bahkan tidak mau berpisah dengan Evan.


"Aku mohon jangan usir aku dan Suci, Bu. Aku mohon." Sherly terus menghiba, manjatuhkan harga dirinya yang memang sudah tidak ada lagi di hadapan semua orang. Biarlah dia melakukan semua itu, asalkan bisa tetap bersama dengan Evan.


Tanpa memperdulikan ucapan Sherly, Mery langsung berbalik dan berjalan cepat menuju pintu. Tentu saja membuat Sherly segera berlari untuk menahannya.


"Tidak, Ibu!"


Brak.


"Aku mohon jangan lakukan ini, Bu. Buka pintunya!" teriak Sherly sambil menggedor-gedor pintu rumah itu, tetapi teriakannya sama sekali tidak dipedulikan oleh Mery.


"Dasar perampuan murahan. Udah diusir tetap aja gak mau pergi,"


"Iya benar. Pergi kau j*a*l*a*ng! Jangan kotorin tempat tinggal kami dengan keberadaanmu,"


"Usir dia!"


Ucapan demi ucapan orang-orang layangkan pada Sherly membuat wanita itu menutup kedua telinganya. Salah satu dari mereka menarik lengan Sherly lalu menghempaskannya ke atas tanah dengan kasar.


"Aargh." Sherly memekik kesakitan saat dihempaskan dengan keras oleh seseorang. Kemudian mereka melemparkan pakaian-pakaiannya yang berserakan di teras tepat ke tubuhnya, dengan hinaan-hinaan dan pengusiran yang sangat tajam.


"Diam kalian semua!" bentak Sherly dengan kemarahan yang berkobar dahsyat mendengar hinaan mereka. "Tau apa kalian semua tentangku, hah? Kalian tidak pantas ikut campur urusan pribadiku!" Hardiknya sarkas.

__ADS_1


"Kau yang diam dasar pelakor, p*e*l*a*c*u*r. Wanita sundel, wanita murahan!"


Lengkap sudah panggilan yang orang-orang sematkan untuk Sherly, membuat wanita itu merasa tidak tahan dan berlari dari tempat itu.


"Diam, diam!" teriak Sherly seperti orang gila. Dia menutup telinganya sambil berlari ke jalanan agar tidak lagi mendengar hinaan yang orang-orang katakan.


Beberapa pengendara tampak terkejut dengan apa yang Sherly lakukan, karena wanita itu hampir saja tertabrak sepeda motor atau pun mobil yang sedang melintas.


"Su-Suci, Suci." Lirih Sherly. Dia baru ingat jika tadi putrinya dibawa pergi oleh Endri dan belum kembali.


Bruk.


Kaki Sherly tidak sengaja tersandung batu besar membuatnya tersungkur di atas tanah. Dia mendesis menahan sakit, tampak lutut dan sikunya terluka hingga mengeluarkan darah segar.


"Dasar batu sia*lan. Hiks."


Sherly kembali menangis dengan tersedu-sedu. Bukan karena rasa sakit dikaki dan tangannya, tetapi karena rasa sakit yang saat ini sedang menghunjam dadanya.


"Kenapa, kenapa semua ini terjadi padaku? Hiks, kenapa?" Lirih Sherly. Dia menelungkupkan kepalanya di antara kedua kaki yang sedang terlipat. Tidak peduli ada banyak pasang mata yang sedang memperhatikan, apalagi saat ini keadaannya terlihat sangat berantakan.


Dari kejauhan, Endri yang akan kembali ke rumah menghentikan langkah kakinya saat melihat Sherly. Awalnya dia merasa ragu, tetapi dia ingat dengan warna baju yang wanita itu pakai pagi tadi.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, haruskah aku memberikan Suci padanya dalam keadaan seperti itu?





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2