Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab. 143. Tempat Terduga.


__ADS_3

Rian tersenyum ramah. "Tidak, Tuan. Saya masih begini-begini saja." Dia merendah.


Ayun yang sejak tadi memperhatikan tampak terkejut saat mendengar Fathir menyebut nama laki-laki itu. Ternyata itulah yang bernama Rian, laki-laki yang sudah memanfaatkan Fathan dan mengadu domba hubungan kakak beradik itu.


Fathir sendiri tersenyum sinis mendengar ucapan laki-laki itu. "Terus apa yang kau lakukan di sini?" Tatapan matanya berubah menjadi penuh selidik.


Rian hanya mengatakan jika dia ingin mengunjungi Fathan setelah sekian lama. Namun, ternyata laki-laki itu sudah kembali ke penjara.


"Apa Anda berada di sini juga karena habis mengunjungi beliau?"


"Tentu saja," jawab Fathir dengan cepat. "Aku kan harus melihat penderitaannya, apalagi setelah apa yang sudah dia lakukan padaku. Aku merasa sangat senang melihatnya seperti itu." Dia mengarang bebas agar Rian tidak merasa curiga.


Rian hanya diam dengan tatapan puas saat mendengar ucapan Fathir. Bahkan bibirnya tampak mengulas senyum tipis yang serasa membakar dada Fathir.


"Kepar*at! Kau tunggu saja, aku pasti akan membalas senyum yang ada diwajahmu itu dengan air mata darah." Kedua tangan Fathir yang sedang berada di bawah meja mengepal erat.


"Apa Anda sudah makan? Jika belum silahkan bergabung dengan kami," ajak Ayun dengan ramah.


Melihat kemarahan yang ada dalam diri Fathir berkobar dahsyat dengan kedua tangan terkepal erat, membuat Ayun buka suara. Dia tidak ingin jika Fathir menunjukkan amarah dan kebencian pada Rian, dikhawatirkan laki-laki itu akan merasa curiga.


Rian beralih melihat ke arah Ayun dengan tetap menebar senyum ramah. "Terima kasih atas tawarannya, Nyonya. Saya hanya ingin membeli kopi saja, jadi nikmatilah makanan Anda."


Ayun mengangguk sambil terus menatap Rian. Ternyata benar kata orang, jika tampilan luar tidak bisa menetukan bagaimana isi yang ada dalam hatinya.


Jika dilihat seperti ini, Rian sangat ramah dan bertutur kata sopan. Berbeda jauh dengan Fathir yang ketus dan sombong. Namun, siapa sangka jika perbuatan laki-laki itu sangat luar biasa buruk? Bahkan Rian sampai membuat seorang wanita kehilangan nyawa.


Rian lalu pamit untuk pergi dari tempat itu sambil membawa minuman yang sudah dia pesan sebelumnya, sementara Fathir hanya diam sambil memalingkan wajahnya ke arah lain karena tidak ingin emosinya meledak jika melihat wajah laki-laki itu.


Rian lalu masuk ke dalam mobil yang sejak tadi terparkir di depan kafe itu. Sesaat kemudian dia tertawa dengan keras membuat anak buahnya yang ada dikursi kemudi merasa heran.


"Jadi dia akan menikahi wanita itu?" gumam Rian. Dia sudah mendengar kabar bahwa Fathir akan menikah dengan seseorang, dan kebetulan saja hari ini dia bertemu dengan wanita itu.


Rian lalu beralih melihat ke arah anak buahnya yang sejak tadi memperhatikan dari kaca spion depan. "Selidiki siapa wanita itu dan awasi mereka." Perintahnya kemudian.


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Mereka lalu melaju pergi dari tempat itu menuju perusahaan. Masih ada banyak hal yang harus Rian persiapkan untuk pelantikannya nanti, dan jangan sampai ada masalah yang terjadi.


Setelah selesai bertemu dengan Ayun, Fathir segera pergi menuju perusahaan untuk bertemu dengan Keanu. Dia tidak mengantar Ayun pulang karena wanita itu bersama dengan supir.


Tidak berselang lama, Fathir sudah sampai di tempat tujuan dan bergegas untuk menemui Keanu. Sebenarnya dia sudah masuk masa cuti pernikahan sejak semalam, itu sebabnya para karyawan heran melihat kedatangannya ke perusahaan.


"Anda mencari Tuan Keanu, Tuan?" tanya seorang wanita yang merupakan sekretaris di perusahaan itu.


Fathir mengangguk. "Apa hari ini Tuan ada pertemuan di luar?"


Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tuan. Tuan Keanu bilang beliau sedang ada urusan pribadi, jadi tidak berada di tempat untuk beberapa hari ke depan."


Fathir mengernyitkan keningnya, dia lalu mengambil ponsel yang ada di dalam saku untuk menghubungi Keanu dan bertanya di mana laki-laki itu saat ini.


"Halo, Fathir?" jawab Keanu di seberang telepon setelah dihubungi oleh Fathir beberapa kali.


"Anda ada di mana, Tuan?" tanya Fathir dengan tajam. Mungkinkah saat ini Keanu sedang mengurus masalah Rian?


"Aku sedang ada di luar. Kenapa, apa ada pekerjaan penting sampai kau meneleponku?"


Keanu lalu mengatakan keberadaannya saat ini dan menyuruh Fathir untuk menemuinya, karena sebenarnya dia sudah menemukan bar yang diduga kuat milik Rian.


"Baiklah, saya akan segera ke sana, Tuan." Fathir lalu mematikan panggilan itu dan bergegas untuk menemui Keanu, apalagi jarak ke tempat laki-laki itu menghabiskan waktu 4 sampai 5 jam perjalanan.


Fathir mengemudikan mobilnya dengan kencang melintasi perbatasan kota, begitu dengan sebuah mobil yang sejak tadi mengikutinya.


"Kenapa aku merasa sejak tadi mobil hitam itu mengikutiku?" gumam Fathir saat memperhatikan sebuah mobil hitam melaju di belakangnya. Dia merasa jika sejak tadi mobil itu terus mengikutinya.


Fathir semakin menekan pedal gasknya agar bisa mengelabui mobil itu. Jika benar mobil itu mengikutinya, berarti ada seseorang yang sengaja mengawasinya sejak tadi, atau bahkan selama ini.


Dia menyalip semua kendaraan yang melaju di depannya dan semakin melaju kencang. Fathir harus mencari celah agar bisa lolos dari mobil itu, apalagi sebentar lagi dia akan memasuki kawasan pelabuhan.


Fathir yang sedang melaju kencang langsung membelokkan mobilnya ke kanan saat sampai dipertigaan jalan, bahkan dia hampir saja bertabrakan dengan sebuah bus besar yang berisi puluhan orang.


"Berhasil!" Fathir memekik senang saat berhasil lolos dari mobil hitam itu. Tidak ada yang bisa menandingi kehebatan menyetirnya, bahkan Keanu saja mengakui keahliannya itu.

__ADS_1


Setelah berhasil lolos, Fathir segera mengambil ponselnya untuk menghubungi anak buah Keanu tanpa mengurangi kecepatan mobilnya.


Fathir sendiri memang tidak punya anak buah atau semacamnya, karena memang tidak pernah berhubungan dengan hal seperti ini. Begitu juga dengan Fathan, itu sebabnya semua perbuatan laki-laki itu diserahkan pada Rian.


Lain hal dengan Keanu yang memang pernah berhubungan dengan dunia gelap, sama halnya dengan Rian. Namun, sejak mengenal Nindi dan memutuskan untuk menikahi wanita itu. Keanu sudah tidak berurusan lagi dengan hal semacam itu. Apalagi memiliki mertua seorang Jenderal, yang saat itu sangat segani oleh semua lapisan masyarakat. Mana mungkin dia menjadi menantu bajingan, jelas Abbas tidak akan memberi restu.


"Ada sebuah mobil yang mengikutiku, tapi segera bereskan semua cctv sepanjang perjalanan menuju pelabuhan," ucap Fathir saat panggilan teleponnya sudah tersambung.


"Baik, Tuan. Apa sekarang Anda sudah lolos dari kejaran mereka?" tanya laki-laki itu.


"Sudah. Sekitar 2 jam lagi aku akan sampai ke tempat itu." Fathir lalu mematikan panggilannya saat sudah mendapat sahutan dari laki-laki itu.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Ayun sedang duduk bersama dengan Nindi yang hampir setiap hari berada di rumahnya untuk menyiapkan pesta.


"Kau sudah makan siang, Dek?" tanya Ayun sambil duduk di samping sang adik.


Nindi mengangguk. "Sudah Mbak, baru aja." Dia tersenyum. "Aku dengar Fathan sudah kembali ke penjara, apa benar?"


"Benar, hari ini dia kembali ke penjara," jawab Ayun. "Mbak harap masalah mereka cepat selesai."


Nindi mengaminkan ucapan sang kakak. Dia juga berharap agar semuanya cepat selesai, karena jujur saja dia sangat mengkhawatirkan suaminya.


"Tapi, di mana suamimu, Dek?" tanya Ayun. "Apa dia sedang mengurus masalah Rian?"


Nindi menghela napas kasar sambil menganggukkan kepala. "Iya, Mbak. Tadi pagi dia pergi ke palabuhan bersama dengan anak buahnya." Doa berucap dengan khawatir.


Ayun segera menggenggam tangan Nindi dengan erat. "Insyaallah mereka akan baik-baik saja, Dek. Mbak yakin Allah akan selalu bersama dengan orang-orang baik."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2