Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 20. Sangat Terguncang.


__ADS_3

Seketika tubuh Evan menegang sempurna saat mendengar ucapan hakim, tangannya terulur menekan dada yang terasak sesak dengan pandangan mulai buram.


"Namun, dalam penyelidikan terakhir. Kami menemukan bahwasannya tuduhan itu dilakukan karena unsur ketidaksengajaan, semua itu disebabkan keadaan tersangka yang sedang terguncang. Tapi, kami tetap tidak membenarkan adanya fitnah dalam bentuk apapun dan disengaja atau tidak. Untuk itulah, pihak pengadilan mengambil keputusan. Bahwasannya, saudara Evan Deandra dijatuhi pidana penjara selama 2 tahun 3 bulan, atau pidana denda sebesar seratus juta rupiah."


Duk.


Duk.


Duk.


Hakim mengetuk palu sebagai tanda bahwasannya keputusan sudah diambil, bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.


David yang mendengar semuanya tersenyum penuh kemenangan, sementara Evan menundukkan tubuhnya karena dadanya terasa semakin sakit dan sesak saat mendengar semua itu.


Sementara itu, Mery tampak menangis tersedu-sedu dalam pelukan sang suami saat mendengar keputusan Hakim. Sherly sendiri terdiam dengan tatapan tidak percaya saat menyaksikan semuanya. Matanya terbuka lebar, dengan tubuh gemetar mendengar hukuman untuk Evan.


Hakim lalu mengatakan jika terdakwa dapat mengajukan banding dan tuntutan jika tidak berkenan, tetapi tentu saja dengan berkas dan bukti pendukung untuk bantahan mereka.


"A-anda baik-baik saja, Tuan?" tanya Rima dengan panik saat melihat wajah Evan pucat pasi. Tubuh laki-laki itu gemetar hebat, dengan keringat dingin yang mengucur deras.


Bruk.


"Evan!" Endri memekik kaget saat melihat Evan tersungkur ke lantai, membuat semua orang yang berada di dalam ruangan itu menjadi gempar.


Rima yang berada di samping Evan segera memegangi laki-laki itu, sementara Mery dan yang lainnya bergegas menghampirinya.


"Evan, apa yang terjadi padamu, Nak?" tanya Mery dengan panik, dia menepuk-nepuk wajah Evan untuk menyadarkan putranya itu.


Pihak keamanan segera mengamankan tempat itu dan menyuruh orang-orang untuk keluar. Tidak lupa mereka segera menghubungi ambulance, agar segera datang ke tempat itu.


Bram yang sejak tadi memperhatikan merasa cukup terkejut dengan apa yang terjadi pada Evan. Dia mengira laki-laki itu akan kembali mengamuk seperti sidang perceraian waktu itu, tetapi yang terjadi malah diluar prediksi BMKG.


Sementara itu, Sherly yang melihat sang suami tidak sadarkan diri terlihat sangat panik dan cemas. Dia berusaha untuk mendekat, tetapi dengan cepat didorong oleh sang mertua.

__ADS_1


"Apa yang Ibu lakukan, aku ingin-"


"Jangan sentuh putraku!" bentak Mery dengan penuh amarah. "Apa kau belum puas sudah membuat anakku jadi seperti ini, hah?" Dia menatap Sherly dengan nyalang, membuat wanita itu terdiam kaku.


"Kau benar-benar sudah menghancurkan hidup putraku. Kau bukan hanya menghancurkan pekerjaan dan bisnisnya, tapi kau juga membuat anakku jadi sakit seperti ini. Semua ini gara-garamu, terkutuk lah kau wanita murahan!" maki Mery sambil menunjuk tepat ke wajah Sherly.


Sherly terdiam dengan mata berkaca-kaca, sungguh dia sama sekali tidak bermaksud seperti ini. "Tidak, Bu. Aku, aku tidak-"


"Diam!" bentak Mery kembali membuat Endri terpaksa menenangkannya. "Pergi kau, aku tidak mau lagi melihat wajahmu. Dan jangan muncul lagi di hadapan putraku untuk selamanya!" Dia sudah tidak bisa lagi menahan diri.


Sherly menggelengkan kepalanya dan menolak ucapan sang mertua, tetapi dia tidak dapat melakukan apa-apa karrna Endri memintanya untuk pergi agar suasana tidak bertambah runyam.


Beberapa saat kemudian, petugas kesehatan sampai di tempat itu dan segera membawa Evan ke rumah sakit. Mery dan Endri ikut masuk ke dalam ambulance, sementara Sherly mengikuti mereka dengan menggunakan taksi.


David yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan tampak tertawa melihat apa yang terjadi. Tidak disangka Evan akan terguncang saat mendengar putusan hakim, padahal selama ini dia tidak pernah melihat laki-laki itu tumbang seperti itu.


"Padahal ini baru serangan awal, tapi kau sudah terkapar seperti itu," gumam David, bukankah balas dendamnya terasa hampa jika lawannya sekarat seperti itu?


"David!"


"Sepertinya kau sangat senang melihat lawanmu tumbang, ya," ucap Bram dengan smirik iblisnya, membuat David tergelak.


"Tentu saja, tapi semua jadi tidak seru kalau tidak ada perlawanan, kan?" cibir David membuat Bram menggelengkan kepalanya.


Sepupunya yang satu itu memang diluar akal sehat, itu sebabnya sang kakak selalu bertengkar dengan David.


"Oh yah, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu, Vid. Ayo, ikut aku!" ajak Bram kemudian, membuat David mengernyitkan kening bingung.


David bertanya siapa yang ingin bertemu dengannya, tetapi Bram tidak menjawabnya dan hanya berkata jika dia nanti juga akan mengetahuinya.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Abbas dan Keanu sedang berada di salah satu restoran milik Abbas. Tampak mereka sedang menunggu seseorang, yang saat ini sedang berada dalam perjalanan.


"Aku tidak menyangka kasus itu sangat cepat selesai," ucap Abbas. Baru beberapa hari yang lalu dia mendengar tentang kasus pencemaran nama baik yang melibatkan Evan, dan hari ini sidang putusan sudah dilaksanakan.

__ADS_1


"Tentu saja semuanya berjalan cepat jika ada Bram, Pa," balas Keanu.


Abbas menganggukkan kepalanya. Dia bersyukur sekali saat ini Ayun sudah benar-benar lepas dari Evan, jika tidak mungkin putrinya akan kembali menderita.


Beberapa saat kemudian, datang juga orang-orang yang sejak tadi ditunggu-tunggu oleh Abbas dan juga Keanu. Tampak David membulatkan matanya saat melihat siapa orang yang ingin bertemu dengannya, dia segera menganggukkan kepala dan menyapa mereka.


"Se-selamat siang, Tuan," ucap David dengan gugup. Dia sudah mendengar betapa berkuasanya dua orang lelaki yang ada di hadapannya dari Bram, tetapi kenapa mereka ingin bertemu dengannya?


"Selamat siang juga, David. Maaf jika kami mengganggu waktumu, silahkan duduk," balas Abbas dengan ramah membuat David tersenyum canggung.


Mereka semua lalu duduk di tempat itu. Beberapa pelayan datang untuk menyajikan makan siang mereka, karena kebetulan pas sekali waktunya.


"Saya sudah memesan makanan untuk kalian, saya harap kalian menyukainya," ujar Abbas sambil mempersilahkan mereka untuk menikmati makanan tersebut.


David dan Bram merasa berterima kasih dengan apa yang Abbas lakukan, lalu menikmati makanan itu dengan canggung dan tegang.


Setelah selesai, para pelayan kembali datang dan membereskan bekas makan mereka. Agar pembicaraan terasa nyaman dan tenang.


"Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih pada David yang sudah bersedia untuk memenuhi permintaan kami. Padahal kau pasti sedang sibuk saat ini," ucap Abbas, membuka obrolan mereka saat ini.


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya merasa senang dan terhormat jika bisa bertemu dengan Anda. Tapi, bolehkan saya bertanya kenapa Anda ingin bertemu dengan saya?" tanya David dengan pelan.


Abbas menganggukkan kepalanya sambil melirik ke arah Keanu, memberikan perintah agar menantunya itu yang bicara.


"Saya dengar kau adalah karyawan yang paling berkompeten dalam bisnis yang Evan jalankan, saya juga sudah dengar tentang apa yang terjadi di antara kalian."


Ucapan Keanu seketika membuat dada David berdegup kencang, karena tidak menyangka jika mereka akan membahas masalah itu.


"Tapi semua itu tidak ada hubungannya dengan kami, dan kami tidak peduli. Terlepas dari masalah yang terjadi antara kau dan dia, kami ingin memberikan sebuah penawaran untukmu."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2