
Wajah Sella merah padam dengan rahang mengeras karena benar-benar terbakar amarah. Bisa-bisanya Evan bersikap egois seperti ini, padahal semua masalah yang terjadi bermula dari laki-laki itu.
Evan sendiri tetap diam karena tidak bisa membantah ucapan Sella. Namun, bukan berarti semua masalah bisa selesai begitu saja, bahkan sekarang saja dia sedang pusing memikirkan uang yang telah raib karena ulah Sherly.
"Itu adalah hasil dari perilaku jahat kalian," seru Mery dengan tajam. "Suruh siapa putrimu merusak rumah tangga orang lain, hah? Apa dia tidak bisa mencari laki-laki lajang sehingga menikah dengan laki-laki yang punya istri?" Sambungnya dengan sarkas.
Ucapan Mery terasa menghunjam dada Sella hingga terasa sesak, dia lalu menatap wanita itu dengan tajam. "Seharusnya kau katakan itu pada putramu, karena dia dululah yang mengejar-ngejar putriku dan mengemis cinta darinya. Seharusnya dia sadar jika sudah beristri dan punya anak, tapi dengan tidak tahu malunya mengejar wanita lain."
Seketika Mery tergelak saat mendengar ucapan Sella, membuat suasana kian memanas. "Kau baru berkata seperti itu sekarang? Ke mana saja kau selama ini?" Dia menatap penuh dengan ejekan. Jika sekarang Sella bisa berkata seperti itu, kenapa dulu malah merestui hubungan mereka? Benar-benar tidak habis pikir.
"Kau-"
"Cukup!" Potong Endri dengan cepat. "Sudah cukup, hentikan semua ini." Dia berucap dengan tajam dan penuh penekanan, membuat semua orang terdiam.
Seketika suasana menjadi hening. Masing-masing dari mereka terdiam dengan menahan kekesalan yang sama-sama akan meledak jika tidak dihentikan.
"Apa kalian pikir, dengan terus berdebat akan menyelesaikan masalah?" tanya Endri dengan tajam. Kepalanya terasa mau pecah mendengar pertengkaran mereka, dia lalu melihat ke arah Sella yang juga sedang melihatnya.
"Saya tidak tahu alasan kenapa putri Anda mengambil berkas penting milik Evan, hingga berakhir dikantor polisi. Tapi datang ke sini membuat keributan dan meminta agar dia dilepaskan, bukankah itu juga sudah sangat keterlaluan? Apa Anda tidak memikirkan kerugian yang Evan alami? Jika Anda ingin menyelesaikan, bukan seperti itu caranya!" ucap Endri dengan menohok membuat Sella bungkam.
Endri lalu melihat ke arah Evan. "Dan kau juga, Evan. Ayah benar-benar tidak tahu lagi bagaimana jalan pikiranmu. Saat bersama dengan Ayun, kau mengeluh ini itu dan memutuskan untuk mencari wanita lain yang katanya kau cintai. Lalu sekarang apa, hah? Bukankah wanita itu adalah pilihanmu?" Dia bertanya dengan sarkas. "Kau harus menelannya bulat-bulat walau pahit, karna itu adalah pilihanmu."
Evan terdiam dengan kepala tertunduk. Apa yang papanya katakan memang benar, tetapi dia juga tidak menyangka bahwa Sherly akan melakukan hal seperti ini.
__ADS_1
"Jangan jadi laki-laki pengecut yang lompat sana lompat sini. Semalam kau mengatakan dengan bangga bahwa kau mencintai wanita itu, jadi telan cintamu itu sekarang. Berhenti membuat kami malu dengan semua masalah yang kau ciptakan."
Ucapan sang ayah telak menancap dihati Evan. Dia merasa benar-benar salah, dia sudah salah mengambil keputusan.
"Dan kau juga, Mery," ucap Endri sambil melirik ke arah sang istri. Sepertinya masing-masing dari mereka mendapat bagian.
"Berhenti menyalahkan orang lain dan berkacalah. Putramu itu yang mencipatakan semua masalah ini, jadi kalau kau ingin memaki, maka makilah dia," tukas Endri sambil menunjuk ke arah Evan.
"Semua orang menyalahkan pihak ketiga yang merusak rumah tangga orang lain, dan menghardiknya. Tanpa sadar kalau dia tidak akan masuk ke dalam rumah tangga orang lain jika tidak ada yang membuka pintu untuknya. Lalu Evan? Bahkan dialah yang mengundang wanita lain untuk menghancurkan rumah tangganya sendiri." Lirihnya dengan helaan napas frustasi.
"Jadi hentikan perdebatan kalian, tidak ada yang benar di antara kalian semua. Seharusnya kalian merasa malu atas apa yang terjadi, bukan malah bangga memamerkan masalah ini."
Endri langsung pergi dari tempat itu karena benar-benar sudah merasa tidak tahan. Persetan dengan mereka, dia sudah mencoba untuk menasehati. Jika tidak juga berhenti, maka mampuslah mereka sendiri.
Evan terkesiap. "Apa maksud Ibu? Aku dan Suci akan tetap tinggal di sini."
"Tidak," tolak Mery dengan cepat. "Aku tidak mengizinkan orang lain berada di sini kecuali Ezra dan juga Adel."
Sella kembali tersulut emosi. Cucunya juga berhak tinggal di rumah Evan, lalu kenapa dilarang?
"Suci juga anakku, Bu. Cucu Ibu." Lirih Evan.
Mery langsung menatapnya dengan tidak suka. "Aku bahkan tidak tau bagaimana keadaan Ezra dan Adel sekarang, tapi kau malah memaksaku untuk menerima anak wanita itu?"
__ADS_1
Evan menatap sang ibu dengan sendu. Kenapa ibunya tidak menyukai Suci? Biar bagaimana pun Suci adalah darah dagingnya dan penerus keluarga ini.
"Jika kau tetap memaksa tinggal di sini, maka baiklah. Silahkan saja, biar ibu dan ayahmu yang pergi dari sini," ancam Mery, dia lalu berbalik dan masuk ke dalam kamar.
Evan menghela napas kasar saat mendengar ucapan sang ibu, sementara Sella mengepalkan kedua tangannya menahan geram dan amarah.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Bram sedang berada di pengadilan untuk menemui seseorang karena ada hal penting yang ingin dia bicarakan.
"Tolonglah, Tuan. Ini terakhir kalinya saya meminta bantuan Anda,"
"Cih." Laki-laki itu mendengus sebal mendengar ucapan Bram. "Persidangan klienmu itu sudah sangat cepat, Bram. Mana bisa aku persingkat lagi jadi minggu depan sidang akhir." Dia menolak keinginan Bram.
"Ayolah, Tuan! Mantan suami klien saya sedang tersandung kasus, jika mereka tidak segera bercerai dan pembagian harta, maka bagian harta klien saya akan ikut terambil oleh kasus itu," ucap Bram menjelaskan.
Laki-laki itu diam sejenak sambil berpikir. "Baiklah, aku akan mengusahakannya."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1