Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 75. Tuduhan Tidak Berdasar.


__ADS_3

Semua karyawan yang bekerja di kantor itu sudah berkumpul di ruang Aula yang ada di lantai 2. Mereka semua bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang terjadi, karena sebelumnya mereka tidak pernah dikumpulkan seperti ini.


Sebagian dari mereka sudah tahu jika telah terjadi pencurian di dalam ruangan atasan mereka, tetapi tidak tahu barang apa yang menghilang.


Beberapa saat kemudian, Evan masuk ke dalam aula tersebut diikuti oleh David membuat orang-orang yang tadinya berbisik-bisik langsung terdiam.


Evan menatap mereka semua dengan tajam, ada sekitar 15 orang karyawan yang dia pekerjakan di kantornya sementara yang lain bekerja di lapangan.


"Apa kalian tahu kenapa aku mengumpulkan kalian di sini?" tanya Evan dengan tajam, membuat mereka semua bergidik ngeri. Matanya menatap mereka satu-persatu untuk memperhatikan raut wajah mereka.


"Aku telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga di dalam ruanganku sendiri. Sebelum aku melihat cctv dan menemukan pencuri itu secara langsung, lebih baik kalian mengaku saat ini juga!" ucap Evan dengan penuh penekanan. Tangannya yang ada di atas meja mengepal sempurna, dengan rahang mengeras dan wajah yang memerah.


Semua orang tampak menunduk dengan takut. Jantung mereka berdegup kencang, bahkan keringat dingin sudah mengelir diseluruh tubuh. Namun, tidak ada satu pun di antara mereka yang mengaku karena memang sama sekali tidak melakukan apapun. Jangankan mengambil, mereka bahkan tidak tahu apa yang hilang.


"Kenapa kalian diam, hah?


Brak.


Semua orang terjingkat kaget saat mendengar benturan keras saat tangan Evan memukul meja dengan kuat, apalagi disertai dengan teriakan kemarahannya.


David yang berdiri tidak jauh dari Evan tampak memperhatikan semua bawahannya. Dia yakin sekali jika tidak ada dari mereka semua yang masuk ke dalam ruangan sang atasan, jika ada pekerjaan pun maka dia sendiri yang akan masuk ke dalam ruangan tersebut. Itu pun menunggu saat Evan datang.


"Bagaimana jika kita lihat cctv saja, Tuan?" ucap David memberi usul, tetapi dia tidak yakin jika di dalam ruangan Evan sendiri ada cctvnya.


Evan menghela napas kasar dan menyuruh mereka untuk menunggu di tempat itu. Jika ada satu orang saja yang pergi, maka dia akan menganggapnya sebagai pelaku.

__ADS_1


Evan lalu beranjak keluar dari aula untuk mengecek cctv di ruang kontrol. Kakinya melangkah cepat dan langsung membuka pintu ruangan itu dengan kasar.


"Se-selamat siang, Pak," ucap seorang lelaki yang menjaga ruang kontrol itu, dia terlonjak kaget saat tiba-tiba Evan masuk ke dalam ruangan dengan kasar.


"Tunjukkan semua tayangan cctv seminggu yang lalu," perintah Evan dengan cepat, membuat laki-laki itu langsung menjalankan apa yang dia perintahkan.


David juga tidak tinggal diam, dia ikut mengambil alih komputer yang satunya lagi karena ada dua komputer di dalam ruangan tersebut.


Mata Evan terus menatap ke layar monitor yang menampakkan cctv tepat di depan ruangannya, memudahkan dia untuk melihat siapa saja yang keluar masuk dari ruangan itu.


Waktu terus berjalan, tetapi Evan sama sekali tidak melihat ada orang lain yang masuk ke dalam ruangannya selain dia sendiri, Sherly, keluarganya, dan juga David.


"Si*alan!" umpat Evan dengan kesal. Dia mengusap wajahnya dengan kasar karena merasa menyesal tidak memasang cctv di dalam ruang kerjanya.


"Maaf, Tuan. Apa di dalam ruangan Anda tidak ada cctv?" tanya David, walau dia sudah tahu apa jawabannya.


"Siapa, siapa yang telah mencurinya?" Evan mengepalkan kedua tangannya dengan erat sampai membuat kuku-kukunya memutih. "Bukan orang sembarangan yang mengambilnya, aku yakin dia tahu persis kalau berkas itu untuk pelelangan."


Evan menghela napas frustasi. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Apakah yang mengambilnya Sherly atau keluarganya sendiri? Tidak, tidak mungkin mereka yang melakukannya.


Lagi pula untuk apa? Mereka tidak tahu-menahu masalah itu, apalagi Ayun dan kedua anaknya. Satu-satunya tersangka terkuat saat ini adalah David. Yah, dia melihat dua kali David masuk ke ruangannya saat dia tidak ada di dalam sana. Apalagi laki-laki itu tahu benar bahwa berkas itu sangat penting.


Dengan cepat Evan menarik kerah kemeja bagian belakang David, hingga membuat laki-laki itu terlonjak kaget dan langsung terjungkal ke belakang.


Brak.

__ADS_1


David tersungkur ke lantai karena tiba-tiba ditarik dengan kuat oleh Evan, sontak dia menatap laki-laki itu dengan tajam.


"Beraninya kau mengkhianati dan menipuku!" teriak Evan sambil kembali mencengkram kerah kemeja David, tentu saja membuat laki-laki yang ada di dalam ruangan itu membulatkan mata.


Dengan cepat David menepis tangan Evan dari kerah kemejanya. "Sudah saya katakan berapa kali jika saya sama sekali tidak tau dan tidak mengambil apapun dari dalam ruangan Anda, jadi jangan asal menuduh saja, Pak." Dia berucap dengan marah, memangnya siapa yang tidak akan murka jika dituduh seperti ini? Walaupun Evan adalah atasannya sendiri.


"Diam kau dasar bajing*an!" teriak Evan dengan tidak kalah marah. "Cuma kau satu-satunya orang yang masuk ke dalam ruanganku saat aku tidak ada, dan aku yakin kalau saat itu kau lah yang mengambilnya." Dia menatap dengan nyalang.


David menatap dengan tidak percaya. "Anda sendiri yang waktu itu menyuruh saya ke ruangan untuk mengambil berkas pinjaman, dan besoknya Anda juga yang menyuruh mengembalikannya. Lalu, bagaimana mungkin Anda menuduh saya hanya karena masuk ke dalam ruangan Anda?"


"Kau benar-benar brengs*ek. Sekarang katakan di mana berkas itu!" ucap Evan tanpa memperdulikan bantahan laki-laki itu.


Evan terus saja menuduh David tentang berkas yang hilang itu, walau David sudah bersumpah bahkan menyuruh untuk menggeleda seisi apartemennya jika memang dia yang mengambilnya.


"Jika kau tidak mau mengaku dan mengembalikannya, maka aku akan melaporkanmu pada polisi dan kau harus mengganti semua kerugianku," ucap Evan dengan tajam. Dia sudah mengambil ponselnya dan bersiap menelepon polisi.


David mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Silahkan saja. Laporkan apa yang kau mau, karena aku tidak pernah mencuri apapun!" Tantangnya. Tidak ada lagi rasa hormat karena harga dirinya terasa diinjak-injak oleh Evan.


"Aku sudah bekerja dengan jujur selama bertahun-tahun denganmu, tapi kau menuduhku layaknya pencuri. Kau lihat saja, aku pasti akan membalasnya."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2