
Evan yang tadinya menatap mereka dengan sendu, kini berubah tajam. Apalagi saat melihat kedekatan antara Ayun dan juga Fathir membuat dadanya tiba-tiba terasa panas.
Tanpa menunggu lama, Evan beranjak dari tempat itu untuk mengikuti langkah mereka yang sepertinya akan keluar dari rumah sakit. Tidak peduli jika nanti mereka mengetahui keberadaannya, karena dia pun memang ingin menemui mereka semua.
Ayun sendiri sedang asyik bercerita dengan Fathir tentang Keanu dan Nindi, karena sampai saat ini sepasang suami istri itu masih betah berada diluar negeri dan belum ada tanda-tanda untuk kembali.
"Pasti pekerjaanmu di perusahaan sangat banyak, aku jadi merasa tidak enak karena terus merepotkanmu," ucap Ayun dengan perasaan bersalah.
Sejak Ayun sakit, Fathirlah yang banyak direpotkan tentang pekerjaannya. Memang sudah ada David yang bisa menghendel segala urusan kantor, hanya saja saat ini mereka mulai bekerja sama dengan perusahaan besar sesuai dengan arahan dari Keanu.
Untuk itu, David masih harus banyak belajar dari Fathir tentang apa saja yang harus disiapkan. Fathir juga harus mulai mengajari Ezra tentang bisnis, agar laki-laki itu nanti bisa mengambil alih Dhean property.
"Yah, pekerjaanku memang sangat banyak," sahut Fathir sambil menatap ke arah Ayun yang sejak tadi meliriknya, membuat wanita itu semakin merasa bersalah. "Tapi aku sudah biasa dengan semua itu, jadi tidak ada masalah." Dia kembali menambahkan.
Walau sekarang Keanu tidak ada di tempat, tetapi laki-laki itu tetap bekerja seperti biasanya. Keadaan saat ini jauh lebih baik ketimbang dulu, meskipun pekerjaan Fathir tetap saja menumpuk.
Ayun menatap Fathir dengan sedih. Pantas saja laki-laki itu tidak ada waktu untuk bersama dengan Faiz, karena setiap hari Fathir hanya disibukkan dengan pekerjaan saja tanpa bisa beristirahat.
"Besok-besok tidak perlu mengantarku, Fathir. Kalau ada waktu, lebih baik digunakan untuk istirahat," ucap Ayun lagi, dia tidak mau jika Fathir sampai jatuh sakit.
Fathir tersenyum tipis saat mendengar ucapan Ayun, dia merasa senang karena wanita itu memberikan perhatian padanya.
"Baiklah, aku-" Fathir langsung menghentikan ucapannya saat melihat ada seorang lelaki yang sedang berlari ke arah Ayun. Dengan cepat dia menarik tangan wanita itu dan memeluknya agar tidak tertabrak oleh laki-laki tersebut.
Bruk.
"Hey, kau sudah gila yah!" teriak Faiz saat tubuhnya ditabrak kuat oleh laki-laki yang akan menabrak Ayun tadi, tetapi tidak jadi karena sudah ditarik oleh papanya. Alhasil dialah yang tertabrak, dan untungnya tidak sampai tersungkur ke atas tanah.
"Maaf, aku sedang buru-buru. Maafkan aku!" sahut laki-laki itu sambil berlari masuk ke dalam rumah sakit.
Rahang Faiz mengeras saat melihat laki-laki itu, seenaknya saja menabrak sampai tubuhnya terasa sakit.
"Awas aja kau, aku pasti-"
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa, Faiz?" tanya Adel dengan wajah panik, sebab suara tabrakan mereka tadi terdengar cukup kuat.
Faiz berdecak kesal saat mendengarnya. "Aku baik-baik saja. Tapi kalau tadi kau yang ditabrak, pasti kau nangis." Dia benar-benar merasa murka sekali.
Adel langsung memukul lengan Faiz saat mendengar ucapan laki-laki itu. Padahal dia sudah bersikap baik dengan menanyakan keadaan Faiz, tetapi dengan menyebalkannya laki-laki itu malah mengatainya.
Dilain sisi, saat ini Ayun masih berada dalam pelukan Fathir karena merasa terkejut dengan apa yang terjadi. Dia merasa kaget karena tarikan tangan laki-laki itu, dan kekagetannya semakin menjadi saat berada dalam dekapan Fathir hingga membuat tubuhnya membeku.
Fathir juga tidak kalah terkejut dari Ayun karena tidak sengaja memeluk tubuh wanita itu, sampai akhirnya dia terpaku ketika bersitatap mata dengan Ayun.
Deg, deg, deg.
Dada Ayun dan Fathir sama-sama berdebar dengan kuat atas apa yang terjadi saat ini. Waktu seolah berhenti untuk mereka berdua, hingga mereka tidak sadar jika saat ini ada 3 pasang mata yang sedang menatap dengan tajam.
Faiz dan Adel yang berada tidak jauh dari mereka menatap dengan tidak berkedip, sementara Evan yang sejak tadi mengikuti mereka semakin menajamkan tatapan matanya.
"Ayun!"
Ayun tersentak kaget saat mendengar panggilan seseorang, sontak pelukan Fathir terlepas dan dia tampak menjauhkan diri dari laki-laki itu.
Ayun sendiri terlihat salah tingkah dengan wajah merah padam. Dia lalu menganggukkan kepalanya untuk menanggapi ucapan Fathir, dan segera menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang tadi memanggilnya.
Adel dan Faiz yang juga mendengar suara panggilan itu ikut menoleh ke belakang. Kedua mata mereka langsung menajam saat melihat keberadaan Evan, terutama Adel yang langsung memberikan tatapan kemarahan.
"Mas Evan?" ucap Ayun dengan lirih saat melihat Evan, dan laki-laki itu kini sedang berjalan ke arahnya.
Evan melangkahkan kakinya dengan cepat untuk menghampiri mereka. Matanya menatap ke arah Ayun dengan tajam.
Fathir yang juga melihat ke arah Evan tampak tersenyum tipis, dia lalu menoleh ke arah samping kanan di mana apotek rumah sakit itu berada karena tadi Ezra pergi ke sana untuk menebus obat Ayun.
"Pasti akan terjadi keributan di sini," gumam Fathir yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
Evan menghentikan langkahnya tepat di hadapan Adel yang langsung memalingkan wajah ke arah samping, membuat hatinya kembali berdenyut sakit.
__ADS_1
"Sejak tadi ayah mencarimu, Nak. Kenapa kau tidak menunggu ayah?" tanya Evan dengan lirih. Kedua matanya tampak menggantung mendung, dan berharap jika Adel mau bicara dengannya.
Adel terdiam dan tetap tidak ingin bicara atau menatap ayahnya. Amarahnya semakin menjadi-jadi dengan kedatangan sang ayah saat ini.
Ayun sendiri mengernyitkan kening heran saat mendengar ucapan Evan. Mungkinkah tadi laki-laki itu menemui Adel?
"Ada apa, Mas?" tanya Ayun saat tidak ada jawaban dari Adel. Dia beralih mendekati putrinya itu, lalu menggenggam tangannya.
Evan tersenyum sinis mendengar pertanyaan Ayun. "Aku ingin bicara dengan putriku, Ayun. Dan aku juga ingin bicara denganmu." Dia menjawab dengan penuh penekanan, seolah tidak ingin ada orang lain yang bersama dengan mereka saat ini.
"Untuk apa Anda bicara dengan adik dan juga ibuku?"
Deg.
Semua orang langsung menoleh ke arah samping di mana Ezra sedang berjalan sambil membawa bungkusan obat untuk sang ibu.
Evan menatap Ezra dengan lembut, sekarang semuanya sudah berkumpul. Baik kedua anaknya, juga mantan istrinya.
"Bagaimana kabarmu, Ezra? Kau dan adikmu baik-baik saja 'kan?" tanya Evan.
Ezra langsung menganggukkan kepalanya dengan senyum sinis. "Alhamdulillah, kami semuanya sehat dan dalam keadaan baik-baik saja. Jauh lebih baik ketimbang dulu saat bersama dengan Anda." Dia memberikan jawaban yang menohok.
Evan tertegun saat mendengarnya, tetapi dia mencoba untuk menahan diri. "Syukurlah kalau seperti itu. Ayah ingin sekali bertemu dan bicara dengan kalian, tapi ayah selalu-"
"Untuk apa, untuk apa Anda ingin bertemu dan bicara dengan kami?" potong Ezra dengan cepat, membuat ucapan Evan terpaksa berhenti. "Ah, aku tahu. Anda pasti mau minta bantuan karena sekarang sedang susah 'kan? Apalagi anak kesayangan Anda sedang sakit. Apa Anda tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1