
Ayun tercengang, terbebelak, dan terheran-heran saat mendengar ucapan Fathir. Nyawanya terasa seperti terbang meninggalkan raga karena merasa terkejut dan tidak menyangka jika laki-laki itu mengatakan hal sedemikian rupa.
Untuk beberapa saat mereka berdua saling diam dengan bertatapan, sampai akhirnya Fathir mengeluarkan suaranya.
"A-ayo kita masuk!" ajak Fathir kemudian. Dia yang menggoda Ayun, tetapi kenapa malah dia yang merasa malu sendiri?
"Si*al, aku jadi malu sendiri. Lagian kenapa dia diam saja sambil menatapku seperti itu sih?" Fathir memalingkan wajahnya yang memerah.
Ini adalah kali pertama Fathir melayangkan sebuah gombalan pada seorang wanita, dan dia sudah mempersiapkannya sejak pagi tadi hingga akhirnya bertemu dengan Ayun.
Namun, reaksi yang Ayun berikan benar-benar diluar ekspektasinya. Hingga membuatnya merasa malu sendiri dengan apa yang telah dilakukan.
"Dasar bocah kurang ajar itu, ngapain juga aku percaya sama omongannya!" Fathir mendengus sebal.
Sebenarnya, Fathir bisa sampai melakukan hal memalukan seperti ini karena saran dari Faiz. Semalam saat sedang melamun di balkon, tiba-tiba putranya mendekat dan bertanya apa yang sedang dia pikirkan.
Awalnya Fathir tidak mau mengatakan jika sedang memikirkan Ayun, tetapi Faiz memaksa karena ingin membantu meringankan beban pikirannya. Sampai akhinya dia menceritakan tentang kebingungan dan kesedihannya tentang permintaan Ayun mengenai pernikahan mereka.
Setelah mendengar semuanya, Faiz lalu memberi saran bahwa dia harus merebut hati Ayun. Serang wanita itu dengan jutaan cinta dan kata-kata manis, juga rayuan dan gombalan hingga Ayun tidak berdaya dan mengubah keputusan tentang pernikahan mereka.
Dengan lugunya, Fathir mempercayai apa yang Faiz katakan dan mulai memikirkan cara untuk membuat Ayun jatuh dalam serangannya, tetapi malah dia sendiri yang terperangkap oleh rasa malu.
"Fathir, kau baik-baik saja?"
Fathir terkesiap saat mendengar suara Ayun, spontan tubuhnya terperanjat kaget saat melihat wanita itu sudah berdiri tepat di hadapannya.
"A-ada apa?" tanya Fathir dengan tergagap.
Ayun menatap Fathir dengan serius sambil menahan tawa yang sudah hampir lepas dimulutnya. "Dari tadi aku bicara denganmu, tapi kau tidak mendengar ucapanku. Aku kira kau sedang sakit." Dia lalu berpindah ke samping sambil memalingkan wajah karena merasa lucu.
Fathir menghela napas kasar. "Aku tidak sakit kok." Dia sudah mulai merasa tenang.
"Benarkah? Aku pikir kau sedang demam," sahut Ayun sambil kembali melihat ke arahnya.
"Tidak, aku baik-baik saja," bantah Fathir seraya menggelengkan kepalanya.
Ayun menghentikan langkah kakinya membuat langkah Fathir juga ikut terhenti. Dia lalu menarik kerah kemeja laki-laki itu hingga membuat tubuh Fathir menunduk dan wajah laki-laki itu berada tepat di depan wajahnya.
__ADS_1
Kedua mata Fathir terbelalak lebar dengan apa yang Ayun lakukan saat ini, sementara Ayun sendiri menatap Fathir dengan wajah merah merona.
"Wajahmu memerah, aku rasa kau sedang terkena demam, yaitu demam akan cintaku," ucap Ayun sambil mengulas senyum tipis membuat Fathir tercengang dengan mulut terbuka lebar.
"Ayo, desainer sudah menunggu kita!" seru Ayun kemudian sambil berbalik dan beranjak pergi meninggalkan Fathir. Dia merasa sangat malu karena sudah berkata seperti itu, tetapi dia juga merasa bahagia karena bisa membalas gombalan laki-laki itu.
Jantung Fathir berdebar kencang dengan tatapan terkunci ke arah Ayun. Sesaat kemudian senyum merekah terbit dibibirnya dengan wajah berbinar-binar penuh bahagia.
"Dia, dia membalas gombalanku," gumam Fathir dengan wajah berseri-seri. Dia tidak menyangka jika Ayun akan membalasnya dengan kata-kata manis seperti itu. "Papa akan menambah uang jajanmu, Faiz." Dia merasa senang karena sudah mengikuti saran dari putranya.
Setelah apa yang terjadi, Ayun dan Fathir kemudian bertemu dengan seorang desainer yang akan menyiapkan pakaian pernikahan mereka.
Kebahagiaan terpancar jelas diwajah mereka berdua, walau masih ada semburat rona merah diwajah masing-masing hingga membuat desainer itu merasa heran.
"Sepertinya kau bahagia sekali ya, Fathir," ucap desainer bernama Mitha. Dia masih ada hubungan keluarga dengan Fathir walau jauh.
"Tentu saja. Memangnya ada, orang yang tidak bahagia kalau mau menikah?" sahut Fathir dengan cepat.
"Cih. Bisa-bisanya calon istrimu mau dengan laki-laki kayak kau gini," cibir Mitha membuat Fathir langsung mendengus sebal.
Mitha sendiri merasa terkejut saat mendengar kabar pernikahan Fathir. Dia sendiri tahu bagaimana keadaan keluarga laki-laki itu, bahkan dulu dia sangat dekat dengan mendiang istri Fathir.
"Suamimu terlihat sangat bahagia, Claris. Kau tidak perlu lagi mengkhawatirkannya, atau merasa bersalah atas apa yang terjadi di masa lalu. Kini dia sudah baik-baik saja, dan dia mendapat wanita yang sangat baik. Tenanglah di sana, sahabatku." Mitha memejamkan kedua matanya sekilas saat bayangan Clarissa melintas. Terlihat bayangan wanita itu tersenyum ke arahnya, hingga tanpa sadar air mata menetes dari sudut matanya.
Ayun yang melihat Mitha meneteskan air mata tampak menatap dengan heran dan khawatir. Dia lalu mendekati wanita itu, sementara Fathir sudah duduk di atas sofa.
"Maaf, apa Anda baik-baik saja?" tanya Ayun dengan pelan.
Mitha mengerjapkan kedua matanya saat mendengar suara seseorang. Dia lalu tersenyum ketika melihat Ayun sambil mengusap bekas air mata diwajahnya.
"Anda baik-baik saja?" tanya Ayun kembali.
Mitha menganggukkan kepalanya. "Saya baik-baik saja. Terima kasih karena Anda sudah membuat Fathir kembali tersenyum, dan membuatnya sangat bahagia seperti itu. Terima kasih." Dia menggenggam kedua tangan Ayun dengan lembut.
Ayun merasa tertegun, sesaat kemudian dia menganggukkan kepalanya. "Jangan berterima kasih padaku, Nyonya. Semua kebahagiaan yang Fathir rasakan datangnya dari Allah, sementara aku hanya perantaranya saja."
Mitha tersenyum senang saat mendengarnya. "Panggil aku Mitha. Apa kita bisa berteman?" Dia menatap Ayun dengan penuh harap.
__ADS_1
"Tentu saja, Mitha," jawab Ayun sambil menganggukkan kepalanya.
Mereka berdua lalu tertawa bersama sambil saling mengakrabkan diri, membuat Fathir yang sejak tadi memperhatikan ikut tersenyum senang.
"Karena melihat Mitha, aku jadi teringat denganmu, Claris. Mungkin sudah saatnya aku mengunjungimu. Aku juga akan membawa calon istriku," gumam Fathir.
Setelah semuanya selesai, Fathir dan Ayun beranjak pergi dari tempat itu. Cuaca yang tadinya panas berubah menjadi sedikit mendung dan berangin, membuat hawa sejuk masuk ke dalam mobil yang kacanya sedang terbuka.
"Apa kita boleh singgah ke suatu tempat dulu sebelum pulang?" tanya Fathir tanpa menolehkan kepalanya.
"Apa kita mau ke taman bunga itu lagi?" sahut Ayun sambil menatap curiga.
Fathir menggelengkan kepalanya. "Kalau sekarang sudah tidak sempat, apalagi cuacanya mau hujan seperti ini. Kita akan singgah ke tempat lain."
Ayun mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia lalu mengatakan tidak masalah asal jangan sampai malam, takutnya hujan turun dan mereka belum sampai rumah membuat yang lain merasa khawatir.
Fathir menghentikan mobilnya ke toko bunga sebelum sampai ke tempat tujuan, membuat Ayun mengernyitkan kening bingung.
"Tunggu di sini sebentar, aku akan kembali," ucap Fathir sambil membuka pintu mobilnya dan berlalu keluar dari sana.
Ayun hanya diam sambil mengikuti Fathir dengan sorot matanya. "Rupanya dia benar-benar suka dengan bunga." Dia merasa kagun dengan kecintaan Fathir terhadap bunga, bahkan sampai membelinya seperti ini.
Tidak berselang lama, Fathir kembali masuk ke dalam mobil sambil membawa dua buket bunga besar ditangannya.
"Ambillah, bunga ini sama indahnya dengan senyummu," ucap Fathir sambil memberikan buket bunga mawar berwarna hijau pada Ayun.
Wajah Ayun bersemu merah saat mendengar ucapan Fathir. "Terima kasih." Dia menerima bunga itu dengan sangat senang.
Fathir lalu meletakkan buket bunga yang lain ke kursi belakang, setelahnya dia kembali melajukan mobil itu hingga sampai ke tempat tujuan.
Ayun memperhatikan ke sekitar tempat saat mobil Fathir sudah berhenti dipinggir jalan. "Apa kita akan ziarah?" Dia bertanya sambil menatap ke arah Fathir.
Fathir menganggukkan kepalanya. "Benar. Ayo, kita harus cepat sebelum turun hujan."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.