
Nia langsung tersenyum lebar saat mendengarnya, dia lalu meminta nomor ponsel Sherly agar lebih mudah jika ingin menghubungi wanita itu. Dia memberi waktu selama 2 hari pada wanita itu, jika tidak maka dia akan mengambil tindakan.
Setelah semuanya berjalan sesuai dengan rencana, Nia segera keluar dari toilet dan kembali ke ruangan di mana semua orang berada.
Sherly sendiri masih berada di dalam toilet sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal. Dia menyesal sekali karena sudah datang sesuai dengan kemauan Evan, jika tidak maka semua ini tidak akan terjadi.
"Tidak, semua ini bukan salahku. Jadi aku tidak bersalah jika mengambil formulir itu, lagi pula Evan bisa mendapatkan yang lebih dari apa yang mereka inginkan," gumam Sherly. Dia lalu beranjak keluar dari tempat itu.
Setelah makan siang bersama, Burhan dan Nia bergegas pamit karena masih ada pekerjaan lain yang harus mereka kerjakan. Nia melirik ke arah Sherly dengan penuh arti, membuat Sherly menatap dengan kesal.
Ayun dan yang lainnya masih berada di tempat itu, lebih tepatnya di parkiran restoran dengan Sherly juga yang sejak tadi menatap Ayun dengan kekesalan luar biasa.
"Aku mau pergi belanja dengan ibu dan kakak, Yah. Boleh aku minta uang?" tiba-tiba ucapan Adel memecah keheningan yang terjadi di tempat itu, membuat semua orang beralih melihat ke arahnya.
"Belanja apa?" tanya Evan sambil mengeluarkan dompetnya dari dalam saku.
"Banyaklah, udah lama aku enggak belanja," ucap Adel. Dia lalu melihat ke arah kartu kredit sang ayah yang sama sekali tidak pernah dia pakai.
"Ini. Jangan beli makanan sembarangan ya, banyak orang yang bod*oh dan tidak tau sehingga membiarkan anak mereka jajan sembarangan," ucap Evan sambil menyindir Ayun yang tersenyum dengan sinis.
Mendengar itu, senyum tipis tampak di wajah Sherly karena merasa senang jika Evan terus memojokkan Ayun. Bukankah itu pertanda bahwa laki-laki itu sudah tidak mau lagi dengan Ayun? Tetapi wanita itu masih saja tidak tahu diri dan tinggal di rumah itu.
"Benar, Nak. Ada seorang ibu bod*oh yang membiarkan kalian jajan sembarangan pada saat kecil, tapi ketika besar atau setelah kalian nanti menikah. Seorang ibu tidak akan membiarkan kalian jajan sembarangan, apalagi jika ibu itu sendiri yang jajan diluar yang akhirnya akan membuat malu semua orang," balas Ayun. Kata-katanya tepat menancap di hati Evan dan juga Sherly.
Ezra hampir saja tergelak saat mendengar ucapan sang ibu, ibunya itu sekarang memang sudah ahli dalam membalas cibiran dari orang lain. Tentu saja dialah yang terus mengasah lidah sang ibu agar selalu tajam menebas siapa saja yang mencari masalah.
"Aku mau pakai kartu kredit itu," ucap Adel sambil menunjuk ke arah dompet sang ayah, membuat ayahnya terkejut.
"Untuk apa, Nak? Ayah bawak uang kok," tolak Evan sambil menunjukkan beberapa lembar uang seratus ribuan yang ada di dalam dompetnya.
__ADS_1
"Untuk apa kau pake itu, Adel? Kartu itukan disiapkan untuk membiayai mama tirimu," seru Ezra sambil melirik ke arah Sherly yang juga sedang meliriknya.
Evan menatap Ezra dengan sengit, berani sekali putranya itu berkata demikian, semakin hari ucapan Ezra semakin tidak terkendali.
Mendengar ucapan sang kakak, membuat tangan Adel bergerak cepat dengan merebut dompet sang ayah, lalu mengambil kartu beserta uang juga membuat Evan terkesiap.
"Apa yang kau lakukan, Adel?" tanyanya dengan tajam. Rahangnya mengeras dengan urat-urat yang mulai menonjol ke permukaan.
"Dia boleh pakai ini, tapi kenapa aku sama Ibu sama kakak juga gak boleh?" tanya Adel sambil menunjuk ke arah Sherly yang langsung menatapnya dengan tajam.
"Tidak, Adel. Tidak ada siapa pun yang-"
"Ayo, Adel!" Ezra langsung menarik tangan Adel dan membawa adiknya naik ke atas motor, tentu saja membuat Evan memekik kesal.
"Kembalikan, Adel! Kau-"
Deg.
Evan yang akan menarik tangan Adel tiba-tiba langsung membeku saat mendengar ucapan Adel. Tidak mau melewatkan kesempatan itu, Ezra langsung menghidupkan motornya dan beranjak pergi dari sana.
Evan mengepalkan kedua tangannya dengan erat, dia lalu berbalik dan menatap Ayun dengan tajam.
"Kau 'kan, kau yang telah membuat anak-anakku menjadi seperti itu." Lirih Evan sambil menahan amarah yang sudah akan meledak.
Ayun tersenyum. "Bukan aku yang membuat mereka seperti itu, tapi mereka mencontoh ayah mereka." Dia menjawab dengan santai.
"Tutup mulutmu!" bentak Evan dengan suara yang tertahan, membuat Sherly tersenyum senang. "Sebenarnya racun apa yang sudah kau masukkan ke dalam pikiran mereka, sampai mereka tidak lagi punya sopan santun pada ayah mereka sendiri, hah?" Dia menatap Ayun seakan ingin menelannya secara bulat-bulat.
Sherly segera menghampiri Evan dan memeluk lengan laki-laki itu dengan erat, seakan ingin menunjukkan bahwa hubungannya dan Evan sangat dekat.
__ADS_1
"Sabar, Sayang. Orang tua yang tidak berpendidikan memang seperti itu, dia akan menghasut anak-anaknya supaya mau mengikuti apa yang dia inginkan," ucap Sherly yang semakin memanaskan suasana.
Ayun langsung tergelak saat mendengar ucapan dua manusia yang merasa paling suci dimuka bumi, membuat Evan dan Sherly menatap dengan tajam.
"Jangan berkata buruk tentang anakmu sendiri, Mas. Karna apa yang mereka lakukan itu mencontohmu sebagai ayah mereka, lalu jangan bicara tentang sopan santun karena anak-anakku sangat sopan pada semua orang. Tapi coba tanya pada dirimu sendiri, ke mana kau saat anak-anakmu menunjukkan nilai mereka tentang perilaku? Ke mana kau saat mereka ingin belajar tentang akhlak?" ucap Ayun dengan tajam dan penuh sindiran membuat Evan langsung terdiam.
"Dan kau juga, pelakor! Berani sekali kau membandingkan diriku dengan dirimu, apa kau pikir ada orang berpindidikan tinggi yang melakukan hal serendah ini?" Ayun menunjuk ke arah mereka sendiri untuk menunjukkan perilaku buruk mereka.
"Kau-"
"Dan satu lagi." Potong Ayun dengan cepat. "Anak-anakku merebut sesuatu dari ayah mereka sendiri, bukan dari ayahmu atau ayah tetangga. Jadi itu semua adalah hak mereka. Tapi kalau kau kan beda, orang berpendidikan tinggi sepertimu malah merebut suami orang lain. Su-a-mi o-rang la-in," ucap Ayun dengan penuh penekanan, apalagi pada saat di akhir kalimat.
"Benar-benar luar biasa bod*oh dan rendahnya harga diri kalian,"
"Ayun!" bentak Evan yang sudah sangat kesal, sementara Sherly terdiam dengan gurat kemarahan yang terlihat diwajahnya.
"Kalau gitu aku pamit." Ayun langsung berbalik tanpa menghiraukan kemarahan mereka. Masak baru segitu saja sudah marah-marah sih? Padahal apa yang dia lakukan belum seberapa dengan apa yang mereka lakukan dalam hidupnya.
"Baiklah, lupakan saja semuanya. Mereka yang jahat padaku, tapi malah seperti aku yang orang jahatnya. Benar-benar playing victim," gumam Ayun sambil terus berjalan untuk memanggil taksi.
"Sekarang lupakan mereka, anak-anakku pasti sudah menunggu di sana. Saatnya aku menghabiskan uangmu, suamiku. Jika bukan istri dan anak yang menghabiskannya, lalu siapa lagi?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1