Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 44. Selama 20 Tahun Ini.


__ADS_3

"Jika sudah selesai, ayah mau istirahat," ucap Beny setelah terjadi keheningan selama beberapa saat, dan bersiap untuk beranjak pergi ke kamar.


"Sebentar, Yah. Ada yang mau aku tunjukkan," seru Ayun untuk menahan kepergian sang ayah mertua.


Ayun lalu berbalik dan mengambil sesuatu yang tadi dia letakkan di belakang tubuhnya, membuat mereka semua merasa penasaran. Tentu tidak bagi Ezra yang memang sudah tahu, dan sejak tadi dia enggan untuk pergi dari tempat itu karena ingin melihat reaksi ayahnya.


"Tada," ucap Ayun dengan riang gembira sambil menunjukkan ponsel baru yang ada dalam genggaman tangannya. "Aku beli ponsel baru karena ponsel lamaku udah rusak. Bagaimana, apa ini bagus?" Dia bertanya sambil menggoyang-goyangkan ponsel itu, dan sengaja memperlihatkan logo apelnya ke arah Evan.


Evan membulatkan matanya saat melihat ponsel yang berada dalam genggaman tangan Ayun, sementara Beny dan Mery hanya menatap heran saja karena tiba-tiba Ayun membeli ponsel model layar sentuh.


"Apa kau sudah gila, Ayun?" teriak Evan dengan tajam, membuat semua orang terlonjak kaget karena suara teriakannya.


"Ini dia, beginilah reaksimu saat aku membeli ponsel mahal, 'kan?" Ayun tersenyum tanpa dosa saat melihat kemarahan Evan.


Dengan cepat Evan beranjak dari sofa untuk menghampiri Ayun, dan langsung merebut ponsel yang ada di tangannya.


"Apa yang Ayah lakukan?" pekik Ezra dengan tajam. Dia juga beranjak dari sofa, dengan tatapan nyalang ke arah sang ayah.


Evan sama sekali tidak memperdulikan ucapan Ezra, dia menatap Ayun dengan tajam sambil menggertakkan giginya.


"Ada apa, Mas? Kenapa kau semarah ini?" tanya Ayun dengan lirih, merasa tidak melakukan kesalahan apapun.


"Kau tanya kenapa aku marah, hah?" teriak Evan dengan nada membentak. "Apa kau tidak punya pikiran, kenapa kau membali ponsel semahal ini?" Dia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang wanita itu lakukan.


Ezra yang akan kembali bicara terpaksa mengurungkan niatnya saat mendapat isyarat dari sang ibu untuk diam, sementara Beni dan Mery menatap mereka dengan penuh kebingungan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi denganmu, Evan? Ayun 'kan hanya membeli ponsel, kenapa kau sampai semarah ini?" tanya Mery dengan tidak mengerti, memangnya apa yang salah dengan membeli ponsel baru?


"Apa Ibu tahu berapa harga ponsel ini?" tanya Evan dengan tajam sambil melihat ke arah sang ibu, dan tentu saja Mery menggelengkan kepalanya karena memang tidak tahu. "Ponsel ini sangat mahal, dan dia menghambur-hamburkan uangku hanya untuk benda seperti ini!" Dia ingin sekali membanting ponsel berlogo apel itu, tetapi saat mengingat harganya, dia mengurungkan niat.


Ayun tersenyum getir saat mendengar ucap Evan, apalagi saat laki-laki itu mengatakan jika dia sudah menghambur-hamburkan uang milik Evan. Jadi, apakah dia sama sekali tidak berhak atas uang suaminya sendiri?


"Memang berapa harganya?" tanya Mery kembali. "Masak gara-gara ponsel saja kau sampai seperti ini." Dia menghela napas kasar.


Evan kembali menatap Ayun dengan tajam "katakan, katakan berapa harga dari ponsel ini!" Dia berucap dengan suara tertahan, dan wajah merah padam.


Ayun tetap tersenyum walau Evan sudah marah seperti itu, membuat laki-laki itu semakin kesal. "Harganya memang mahal, 11 juta."


"Apa?" Mery dan Beni memekik kaget saat mengetahui harga dari ponsel yang Ayun beli. "Ayun, apa kau sedang bercanda?" Mery menatap dengan tidak percaya.


Evan menatap Ayun dengan nyalang, darahnya seakan mendidih saat mendengar ucapan wanita itu. "Kau memang benar-benar sudah tidak waras. Apa kau tidak tahu jika aku mencari uang 11 juta itu harus kerja keras? Tapi kau malah menghabiskannya begitu saja untuk barang yang tidak berguna." Wajahnya memerah penuh emosi.


"Selama 20 tahun, baru sekali ini aku membeli sesuatu untuk diriku sendiri. Jadi, bukankah ini sesuatu yang wajar?"


"Tidak!" bantah Evan dengan cepat. "Pokoknya aku tidak mau tahu, kau harus mengembalikan ponsel ini dan ganti dengan yang murah." Dia melempar ponsel itu ke arah Ayun yang langsung ditangkap dengan gelagapan.


"Kenapa, kenapa aku harus melakukan itu?" tanya Ayun dengan lirih, membuat Evan kembali menatapnya dengan sengit. "Kenapa aku harus mengembalikannya? Apa kau juga mengatakan hal seperti ini pada wanita itu?" Sinisnya.


"A-apa?" Evan menatap tidak mengerti saat mendengar ucapan Ayun.


"Selama 20 tahun aku tidak pernah memakai uang untuk membeli keperluanku sendiri, kalau pun aku memakainya, aku hanya membeli pakaian yang harganya tidak seberapa. Tapi wanita itu, wanita yang menjadi simpananmu. Kau memberikan semua uang padanya tanpa bertanya, kau bahkan mempersilahkannya memakai uang itu untuk membeli ponsel yang lebih mahal dari ini dengan penuh hormat. Apa kau pikir, aku tidak tahu itu, Mas?" Pekiknya dengan tajam, membuat Evan terkesiap.

__ADS_1


"20 tahun aku menemanimu dan tidak pernah meminta apapun, tapi kau memperlakukan aku dengan buruk hanya karena uang 11 juta. Lalu, bagaimana dengan wanita itu? Hanya hitungan sebentar, kau memberikan segalanya untuk dia. Kau memujanya seperti dia yang selama ini  menemanimu, berada di sisimu saat kau susah, dan berjuang bersamamu sampai kau mendulang kesuksesan," tambahnya dengan lirih dan suara yang bergetar.


"Kenapa kau membandingkannya dengan dia? Dia itu bekerja, tidak sepertimu yang hanya diam di rumah!"


Deg.


Evan membalas semua ucapan Ayun dengan tajam, tentu saja karena sudah tidak tahan dengan semua ocehan wanita itu.


Ayun terdiam dengan apa yang Evan katakan, sementara Ezra mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


"Jadi begitu, jadi menurutmu aku selama ini hanya diam di rumah?" Lirih Ayun dengan senyum miris, membuat Evan menatap dengan sinis.


"Sudah cukup, hentikan semua ini," ucap Mery dengan penuh penegasan.


"Tidak, Ibu. Aku tidak akan menghentikannya," bantah Ayun sambil menatap sang mertua, lalu kembali menoleh ke arah Evan yang terdiam di tempat itu.


"Jika menurutnya selama ini aku hanya diam di rumah, maka aku akan menunjukkan apa yang bisa aku lakukan diluar sana. Tapi bukan sebagai istrinya, tapi sebagai Ayundya Nadira. Karena setelah ini, kita akan bertemu di meja hijau, suamiku."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2