
Sherly terkesiap saat mendengar ucapan seseorang, sontak dia memalingkan wajahnya ke arah samping dan terlonjak kaget saat melihat keberadaan Ayun.
"M-mbak Ayun?" Lirih Sherly dengan wajah yang sangat terkejut. Dia benar-benar kaget saat melihat wanita itu ada di tempat seperti ini, dan apa yang mau Ayun lakukan di sini? Apa ingin membeli ponsel juga?
"Kenapa kau diam?" tanya Ayun kembali membuat lamunan Sherly terhenti. Dia menatap wanita itu dengan tajam, lalu melirik ke arah tangan Sherly di mana wanita itu sedang menggenggam sebuah ponsel.
"I-itu, itu Mbak-" Sherly tidak bisa mengeluarkan suaranya karena masih merasa terkejut dengan keberadaan Ayun.
Semua karyawan yang ada di toko itu terdiam sambil menatap kedua pelanggan mereka dengan penuh tanda tanya. Apalagi beberapa dari mereka sempat mendengar ucapan Ayun.
Ayun menghela napas kasar. Sebenarnya dia tidak pantas untuk ikut campur seperti ini, tetapi hatinya menjadi panas saat wanita itu menyebut kata suami.
"Maaf, apa saya boleh bertanya berapa ponsel seperti yang nyonya itu punya?" tanya Ayun sambil melirik ke arah ponsel yang ada dalam genggaman tangan Sherly. Ponsel terbaru dan ternecis dengan apel tergigit di bagian belakangnya.
"Yang seperti itu harganya 11 juta, Buk. Ada lagi yang versi bawahnya jika ingin lebih murah," jawab karyawan itu.
Jantung Ayun hampir melompat keluar dari rongga dadanya saat mendengar harga ponsel yang wanita itu miliki. 11 juta? Bukankah itu sudah sangat keterlaluan hanya untuk sebuah ponsel? Dengan uang segitu, dia sudah bisa memenuhi kebutuhan dapur untuk beberapa bulan ke depan.
"Wah, ternyata harganya sangat mahal. Saya tidak akan sanggup untuk membelinya," ucap Ayun dengan tersenyum miris.
Selama 20 tahun dia berumah tangga dengan Evan, sesuatu yang paling mahal yang dia beli adalah barang-barang elektronik, itu pun digunakan oleh semua keluarga. Jika perkara ponsel, terakhir kali dia membelinya pada saat masih mengandung Adel. Itulah ponsel pertama dan terakhirnya selama ini.
"Maaf, apa Anda berdua saling kenal?" tanya salah satu karyawan yang ada ditoko itu. Jiwa penasarannya sudah meronta-ronta, dan tidak bisa lagi ditahan.
Sherly terdiam dengan tubuh kaku. Kalau sampai Ayun mengatakan yang tidak-tidak tentangnya bagaimana? Dia pasti akan merasa malu karena toko ini adalah toko langgangannya setiap gonta-ganti ponsel.
__ADS_1
"Tentu saja, beliau adalah istri dari seseorang yang sangat saya kenal. Benarkan, Nyonya?" tanya Ayun dengan senyum penuh kegetiran. Kata-kata yang dia ucapkan terasa sangat pahit dilidah.
"Be-benar. Kalau gitu saya permisi dulu, saya melupakan sesuatu di rumah. Besok saya akan berkunjung lagi," ucap Sherly dengan suara bergetar. Dengan cepat dia keluar dari tempat itu sebelum mereka mengatakan sesuatu.
"S*ial! Kenapa dia ada di sana juga sih?" Sherly menghentak-hentakkan kakinya dengan kasar. Dia benar-benar merasa malu karena tidak bisa berbuat apa-apa di hadapan semua orang.
"Tunggu!"
Langkah Sherly terhenti saat mendengar suara seseorang. Dia lalu berbalik dan menatap orang tersebut dengan tajam.
Ayun melangkahkan kakinya untuk menghampiri Sherly yang terdiam di samping mobil, tidak tahu itu mobil wanita itu atau mobil orang lain.
"Mbak mau apa lagi?" tanya Sherly dengan sarkas. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan emosi.
Ayun menghela napas kasar. "Maaf, tadi aku tidak sengaja berkata seperti itu." Lirih Ayun yang merasa sedikit bersalah.
Ayun menganggukkan kepalanya. Mulutnya refleks mengatakan perkataan seperti itu, dan setelah ucapan itu keluar dia baru menyadarinya.
"Apa Mbak gak tau bagaimana tanggapan mareka saat Mbak mengatakan tentang suamiku seperti itu?" ucap Sherly dengan nada kesal.
Ayun terdiam saat mendengar apa yang Sherly ucapkan. Dia datang untuk minta maaf secara baik-baik, tetapi kenapa wanita itu malah memarahinya? Bukankah itu sudah sangat tidak tahu diri sekali?
"Bukankah apa yang aku katakan benar adanya?" ucap Ayun dengan tajam. Jangan salahkan jika dia membuat kesal, karena saat ini tanduknya sudah keluar.
"A-apa?" Sherly menatap wanita itu dengan bingung.
__ADS_1
"Bukankah kau benar-benar memakai uang suamiku untuk membeli sesuatu yang sudah kau miliki?" ucap Ayun dengan sarkas. Tangannya menunjuk ke arah ponsel yang masih berada dalam genggaman tangan Sherly.
Sherly terdiam karena tidak dapat membalas atau membantah apa yang wanita itu katakan, membuat Ayun tersenyum sinis sambil menghela napas kasar.
"Lain kali ingat batasan yang tidak boleh kau lewati, Sherly. Aku datang untuk meminta maaf dengan tulus, tapi bukan berarti aku berada di bawahmu yang bisa kau marahi sesuka hati. Dan untuk masalah tadi, aku benar-benar minta maaf kalau sudah mempermalukanmu. Permisi," ucap Ayun dengan pelan, tetapi penuh dengan penekanan lalu beranjak pergi dari tempat itu.
Sherly mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Wajahnya merah padam dengan tatapan tajam yang terhunus ke arah Ayun yang sedang menaiki ojek online.
"Dasar wanita tidak tau diri. Dia pikir siapa dirinya itu, seenaknya saja mempermalukanku!" gumam Sherly dengan sangat kesal, bahkan sampai membuat dadanya terasa sesak.
"Selama ini aku diam dan tetap menghargainya karena merasa bersalah, tapi dia malah merasa seperti sedang berada di atas angin. Baguslah Evan lebih memilihku dari pada wanita kampungan sepertinya," ucap Sherly dengan tajam, tetapi ada rasa bangga dan senang yang terselip dalam hatinya karena Evan lebih memilih dia dari pada wanita itu.
Ayun yang sedang berada di atas motor beberapa kali mengucap istighfar untuk menenangkan hatinya yang terasa panas. Tidak disangka dia akan bertemu dengan wanita itu saat sedang seperti ini, dan apa itu tadi? Bagaimana mungkin mulutnya ini sangat berani melawan wanita itu?
Huh, Ayun merasa takjub dengan dirinya sendiri yang bisa berubah-ubah layaknya bunglon. Padahal selama ini dia hanya diam jika berhadapan dengan orang lain, mungkin karena diamnya itulah yang membuat sang suami berpaling pada wanita lain.
"Tapi, bagaimana tanggapannya ya kalau aku beli ponsel yang sama dengan wanita itu?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Ayo follow akun aku ya 🥰