Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 37. Waktu Tidak Bisa Diputar Kembali.


__ADS_3

Evan terdiam dengan tidak percaya saat mendengar jawaban sang ayah. Bagaimana mungkin ayah dan ibunya sampai menjual rumah mereka seperti itu? Tidak, itu tidak boleh terjadi.


"Kenapa, Yah? Kenapa Ayah menjualnya? Aku masih bisa mendapatkan uang sendiri," ucapnya dengan tajam.


"Sudahlah, kita bicarakan nanti."


"Tunggu, Ayah-"


Tut.


Evan tidak dapat melanjutkan ucapannya karena panggilan itu terputus, membuatnya langsung mengusap wajah dengan kasar dan frustasi.


"Tidak, aku tidak bisa membiarkan ayah dan ibu menjual rumah itu," gumam Evan.


Dia sama sekali tidak menyangka jika kedua orang tuanya sampai berniat untuk menjual rumah. Jelas saja keputusan itu sangat membuatnya terkejut dan sedih secara bersamaan, karena apa yang orang tuanya lakukan itu demi membantunya.


"Aku benar-benar anak yang tidak berguna. Bagaimana bisa aku membuat orang tuaku jadi seperti ini." Lirih Evan dengan tubuh gemetar.


Selama ini Evan bekerja keras demi keluarganya, termasuk demi kebahagiaan dan masa depan kedua orang tua. Namun, siapa sangka jika akhirnya dia jugalah yang menghancurkan keluarganya sendiri?


Air mata Evan jatuh membasahi wajah. Sungguh dia benar-benar merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi, apalagi semua masalah yang dia lakukan sampai membuat kedua orang tuanya menderita seperti ini. Sesusah-susahnya keadaan mereka dulu, tidak sampai menjual rumah seperti sekarang.


"Apa yang terjadi padamu, Evan?" pekik Mery saat baru masuk ke dalam ruangan. Dia merasa terkejut melihat Evan menangis di atas ranjang.


Endri sendiri juga mengernyitkan kening bingung saat melihat apa yang Evan lakukan, sementara Evan terus menundukkan kepala dengan tubuh gemetar.


"Maaf, maafkan aku Ibu, Ayah. Maafkan aku." Lirih Evan dengan pelan.

__ADS_1


Mery terdiam saat mendengar ucapan Evan, dia lalu melirik ke arah sang suami seakan bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Evan lalu mendongakkan kepala untuk menatap kedua orang tuanya dengan sendu. "Ayah dan Ibu tidak boleh menjual rumah itu, aku pasti akan mendapatkan uangnya." Dia berucap pelan.


Akhirnya Mery dan Endri tahu alasan Evan menjadi seperti itu, dan mereka sebenarnya merasa bingung dari mana laki-laki itu mengetahuinya.


"Mendapatkan uang dari mana, Evan?" tanya Endri dengan tajam. "Kau butuh uang setidaknya 300 juta untuk membayar denda dan juga utang-utangmu, apa kau pikir ada yang mau meminjamkannya padamu?"


Evan terdiam. Dia tidak bisa membalas ucapan sang ayah, karena semua orang-orang yang dia hubungi tidak mau meminjamkan uang padanya.


"Sudahlah, rumah itu memang harus dijual. Kita bisa membeli rumah lain nanti, dan bisa juga membayar utang-utangmu," ucap Endri kemudian.


Hati Evan terasa seperti diremmas-remmas saat mendengar ucapan sang ayah. Bukannya menjadi anak yang membahagiakan, tetapi dia malah menjadi anak yang menghancurkan orang tuanya sendiri.


"Tidak, Yah. Aku mohon jangan lakukan itu," pinta Evan. "Rumah itu adalah milik Ayah dan Ibu, juga satu-satunya harta yang Ayah dan Ibu miliki. Aku tidak bisa melihat Ayah dan Ibu menjualnya." Dia tidak akan sanggup melihat kedua orang tuanya kehilangan sesuatu yang sangat berharga.


Evan terdiam dan terpaku. Semua yang terjadi ini terasa benar-benar meng*ulitinya hidup-hidup, dan sama sekali tidak memberikan kesempatan padanya untuk berpikir.


"Sudahlah, tidak ada lagi yang harus diperdebatkan," tukas Endri dengan helaan napas lelah. Terserah mau menjual rumah atau apa, dia hanya ingin masalah ini selesai dan tidak menjadi bulan-bulanan masyarakat. Apalagi orang-orang yang tinggal disekeliling mereka, yang setiap hari terus mengunjingkan masalah ini.


Evan menggeleng lemah. Dia benar-benar merasa tidak ikhlas dan tidak rela. "Tidak, Ayah. Aku tetap tidak akan setuju rumah itu dijual. Biar bagaimana pun, banyak sekali kenangan kita di sana. Dan rumah itu adalah saksi bisu bagaimana perjuangan kita selama ini."


"Kalau rumah itu adalah saksi bisu, maka saksi hidupnya adalah Ayun," ucap Endri dengan cepat, membuat Evan dan Mery terkesiap. "Kau tidak rela menjual saksi bisu, tapi kau malah membuang saksi hidup dan orang yang selama ini berjuang bersamamu. Sadarlah, Evan. Semua yang terjadi ini adalah balasan dari Tuhan atas apa yang sudah kau lakukan pada Ayun dan anak-anakmu." Dia berucap dengan emosi.


Evan tertegun dan merasa tertampar dengan keras. Ucapan yang ayahnya lontaskan tepat menancap didadanya, dan langsung menembus ke dalam hati yang paling dalam.


Apakah rasa sakit, kesal, amarah yang sedang dia rasakan saat ini sama seperti yang Ayun rasakan dulu? Benar, wanita itu pasti jauh lebih menderita dari apa yang sedang dia rasakan saat ini. Parahnya, sampai saat ini dia bahkan terus menganggu Ayun tanpa sadar jika sudah berbuat demikian.

__ADS_1


"Aku, aku salah. Aku-" Evan tidak dapat melanjutkan ucapannya karena dadanya terasa seperti sedang diremmas kuat, hingga rasa sakit dan sesak mendera jiwanya.


Mery hanya bisa diam dengan mata berkaca-kaca melihat keadaan Evan saat ini. Bagaimana pun juga putranya memang sudah melakukan kesalahan terhadap Ayun, dan dia juga tidak bisa menghentikannya.


"Jika kau benar-benar merasa bersalah, maka hentikanlah. Jangan lagi mengganggu Ayun, karena kau tidak tahu bagaimana perjuangannya untuk melupakan semua perbuatanmu. Atau malah dia sama sekali tidak bisa melupakannya." Lirih Endri. Dia hanya berharap jika setelah ini Evan dapat intropeksi diri dan memulai semuanya dari awal lagi, walau harus merangkak dan tertatih.


Evan hanya bisa diam meratapi semuanya. Andai waktu bisa diulang, maka dia bersumpah tidak akan pernah melakukan hal seperti ini. Namun, sayangnya semua itu sudah terjadi, dan dia hanya bisa meratapi kehancurannya saja sekarang.


Lalu, tiba-tiba Evan teringat dengan penawaran yang Keanu berikan. Dari pada kedua orang tuanya harus kehilangan rumah itu, lebih baik dia yang kehilangan usaha yang telah puluhan tahun dirintis.


"Tidak, Ibu dan Ayah tidak perlu menjual rumah itu. Aku, aku sudah dapat uangnya," ucap Evan dengan tergagap membuat Mery dan Endri menatap bingung.


Evan lalu mengusap air matanya dan segera menceritakan perihal penawaran yang Keanu berikan. Setidaknya uang yang laki-laki itu beri masih bersisa, dan bisa digunakan untuk membangun usaha yang lain.


Endri dan Mery terdiam mendengar cerita Evan, tidak disangka jika Keanu memberikan tawaran seperti itu, dan tawaran itu memiliki keuntungan dan kerugiannya sendiri. Namun, jika dibandingkan dengan menjual rumah, jelas penawaran itu jauh lebih baik.


Kedua orangtua Evan lalu menyerahkan semua keputusan itu ditangannya, mereka hanya berharap semuanya cepat berakhir.


"Baiklah, aku akan mengirim pesan pada Keanu. Aku, aku akan menerima tawarannya."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2