Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 47. Belajarlah Dari Masa Lalu.


__ADS_3

Ayun menundukkan kepala saat lagi-lagi mendengar pujian yang Fathir berikan untuk masakannya. Pujian itu sangat sederhana sekali, tetapi berhasil menghunjam dadanya hingga membuatnya merasa malu dan senang disaat bersamaan.


"Terima kasih, masih banyak kekurangan dalam rasa masakan saya," balas Ayun dengan pelan.


Fathir lalu bergegas pamit dan beranjak mendekati Ezra yang sudah duduk di atas motor. Dia segera memakai helm pemberian laki-laki itu, dan naik ke atas kuda besinya.


"Kami pergi, Bu. Assalamu'alaikum," ucap Ezra sambil melambaikan tangannya pada sang ibu.


"Wa'alaikum salam, hati-hati, Ezra," jawab Ayun seraya membalas lambaian tangan Ezra.


Ayun tersenyum senang sambil terus menatap ke arah perginya kedua lelaki beda generasi itu. Dia lalu kembali masuk ke dalam rumah untuk istirahat. Hari ini dia merasa sangat lelah. Bukan hanya lelah fisik, tetapi juga lelah hati dan pikiran.


*


*


Beberapa hari kemudian, setelah menandatangani surat perjanjian dengan Keanu. Evan terus mengurung diri di dalam kamar. Otaknya tidak bisa diajak untuk berpikir, dia bahkan tidak tahu harus melakukan apa saat ini.


"Mau sampai kapan kau seperti ini terus, Evan?" tanya Endri sambil masuk ke dalam kamar putranya.


Sekilas Evan melihat ke arah sang ayah yang sudah masuk ke dalam kamarnya. Dia lalu menghela napas berat sambil menggeser kursi yang sedang diduduki.


Endri memperhatikan penampilan Evan yang tampak sangat kacau balau. Sudah hampir seminggu laki-laki itu terus mengurung diri di kamar, dan akan keluar jika saatnya makan saja.


"Dunia tidak akan berhenti berputar dengan kau melakukan ini. Bangkit dan semangatlah, apa gunanya mengurung diri begini? " sambung Endri dengan tajam.


Evan berdecih saat mendengarnya. Dia bukannya tidak mau melakukan apa-apa, tetapi dia benar-benar tidak tahu harus mulai dari mana.


Otaknya seolah berhenti bekerja, dan pikirannya tertutup tidak tahu bagaimana mencari jalan keluar. Padahal dia sudah berusaha untuk memikirkan semua, tapi pikirannya malah selalu tertuju pada wanita yang sudah menjadi mantan istrinya.


"Baiklah, terserah kau saja." Endri berbalik dan berjalan keluar dari kamar itu. Dia tidak tahu lagi harus bicara apa, dan dia juga tidak mau semakin menekan putranya.


Mery yang menunggu di depan kamar Evan segera menghampiri sang suami yang baru saja keluar. Dia bertanya apakah suaminya berhasil bicara dengan Evan atau tidak karena dia merasa cemas dengan putranya itu.

__ADS_1


"Sudahlah, biarkan saja dia," ucap Endri sambil melangkah pergi dari tempat itu.


Mery menghela napas kasar. Mereka bukannya mau memaksa Evan untuk mencari uang, tetapi mereka hanya tidak mau laki-laki itu terus mengurung diri di dalam kamar. Bukankah lama-lama seseorang akan menjadi gila jika terus mengurung diri seperti itu?


"Ya Allah, semoga anakku baik-baik saja," gumam Mery. Dia lalu beranjak pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam karena waktu sudah mulai beranjak sore.


Setelah sang ayah keluar dari kamar, Evan kembali melihat ke arah jendela dan memperhatikan orang-orang yang sedang berlalu-lalang.


Benar apa yang dikatakan oleh ayahnya, dunia tidak akan berhenti walau dia mati sekali pun. Kehidupan tetap akan berjalan seperti biasa, dan dia akan semakin jauh tertinggal.


Evan mengusap wajahnya dengan kasar dan frustasi. Dia lalu memutuskan untuk mandi agar tubuh dan pikirannya kembali segar. Jika dingat-ingat, sepertinya sejak semalam dia memang belum mandi sama sekali.


Setelah selesai, Evan berpikir untuk keluar rumah sekalian menghirup udara segar di sore hari ini. Mana tahu dia bisa kembali berpikir dengan jernih, dan memutuskan akan melakukan apa demi keberlangsungan hidup keluarganya.


Evan berjalan ke arah taman yang berada tidak jauh dari rumah. Sepanjang langkah kakinya, banyak pasang mata yang terus memperhatikan. Bukan itu saja, mereka bahkan terang-terangan menghardik kehidupannya.


"Dasar laki-laki tidak tahu malu. Masih sanggup ya dia menampakkan wajah sampahnya itu di depan semua orang, mati aja udah."


"Kasihan buk Mery dan pak Endri punya anak kayak dia, bisanya bikin malu aja!"


Evan mengepalkan kedua tangannya dengan erat saat mendengar bisikan dari orang-orang, apalagi tatapan mereka yang terus menajam dan menghakimi.


Tidak tahan lagi mendengarnya, Evan memutuskan untuk kembali pulang ke rumah padahal kakinya belum mencapai tempat tujuan.


Brak.


Evan menutup pintu rumahnya dengan kuat sambil berusaha untuk menahan emosi. Dia sadar jika apa yang orang-orang katakan adalah benar, hanya saja kenapa mereka harus peduli? Kenapa mereka tidak memikirkan kehidupan mereka sendiri dan malah sibuk menceritainya?


"Ada apa, Evan?" tanya Mery dengan wajah panik saat melihat Evan bersandar di pintu.


Evan terkesiap mendengar suara sang ibu, dengan cepat dia berdiri tegak dan mengubah raut wajahnya.


"Aku tidak apa-apa, Bu. Aku hanya abis jalan-jalan saja," jawabnya sambil mengulas senyum tipis.

__ADS_1


Mery menatap Evan dengan sendu. Tentu saja dia tahu apa yang terjadi di luar rumah ini, khususnya disekitar lingkungan rumah mereka yang hampir 24 jam membicarakan tentang keburukan putranya.


"Sini, ikut ibu."


Mery menarik tangan Evan membuat laki-laki itu terhenyak. Dia mengajak Evan untuk duduk dikursi, karena sudah lama mereka tidak duduk berdua seperti ini.


Mery lalu menawari minuman apa yang ingin Evan minum, tetapi putranya itu menjawab bahwa dia sama sekali tidak haus.


Dengan perlahan Mery menarik tangan Evan ke atas pangkuannya, lalu mengusap punggung tangan putranya itu dengan wajah sendu.


"Sudah banyak sekali sesuatu yang terjadi dalam keluarga kita, Nak. Dan semua itu membuat banyak hal berubah, baik dirimu dan juga kita semua. Ibu tidak akan lagi membahas apa yang sudah terjadi. Biarlah semua itu menjadi pelajaran untuk kita kedepannya," ucap Mery dengan lirih.


Evan terdiam dengan mata berkaca-kaca. Dia menunduk, dan tidak sanggup untuk menatap kedua manik mata ibunya.


"Ibu tau kau sedang menderita, Nak. Tapi ingatlah, masih ada ibu dan ayah di sini. Kami akan selalu berada di sisimu dan akan selalu memberi dukungan untukmu, jadi jangan menyerah dan jangan dengarkan omongan orang," sambung Mery dengan terisak, padahal dia sudah berusaha untuk menahan air matanya.


"Maaf, Bu. Maafkan aku, maafkan aku yang sudah membuat keluarga kita hancur seperti ini," ucap Evan dengan lirih. Tubuhnya merosot jatuh ke lantai dan langsung memeluk kaki ibunya.


"Sudah, Nak. Jangan seperti ini."


Mery berusaha untuk menarik tubuh Evan agar kembali duduk, tetapi kekuatannya mana bisa dibandingkan dengan tubuh kekar putranya itu.


"Jadikan semuanya pelajaran agar kedepannya kau bisa lebih baik lagi, Nak. Menyesal harus, tapi bukan berarti terpuruk seperti ini," pinta Mery dengan sendu.


"Bangkitlah dan buktikan pada dirimu sendiri bahwa kau sudah menyesali semuanya. Jangan lagi mengulangi kesalahan yang sama, dan minta maaflah pada semua orang yang sudah kau sakiti. Apa kau sudah meminta maaf pada anak-anakmu?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2