Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 107. Hari yang Sudah ditunggu-tunggu.


__ADS_3

Evan mengusap wajahnya dengan kasar. Kenapa dia selalu saja kalah cepat dari Ayun? Kepalanya terasa benar-benar mau pecah sekarang. Tidak tahu mana yang harus dia selesaikan, semua datang secara bersamaan.


"Ayun," gumam Evan. Ingin sekali dia bicara pada wanita itu saat ini. Biasanya semua masalah pasti akan selesai jika ada wanita itu, dia bahkan tidak pernah terkena masalah seperti ini sebelumnya. "Sudahlah, besok aku akan bicara dengan Ayun." Dia menghela napas kasar sambil menundukkan tubuhnya ke kursi.


***


Keesokan harinya, tibalah saat yang sangat ditunggu-tunggu oleh Ayun. Hari ini sidang terakhir perceraiannya akan dilaksanakan, dia merasa benar-benar gugup dan gelisah untuk menghadapinya.


"Ibu baik-baik aja 'kan?" tanya Ezra sambil berjalan masuk ke dalam kamar sang ibu.


Ayun memalingkan wajahnya ke arah samping saat mendengar ucapan sang putra. Dia lalu mengulas senyum sambil menganggukkan kepalanya. "Ibu baik-baik saja, Nak. Cuma gugup sedikit." Dia menjawab dengan gugup.


Ezra lalu duduk di atas ranjang dan meminta sang ibu untuk duduk di sampingnya. "Ibu tau, sejak dulu aku tidak pernah membanggakan ibu pada siapa pun. Aku bahkan tidak pernah menceritakan pada teman-temanku tentang ibu. Aku, aku selalu saja membahas dan membanggakan ayah di depan mereka semua." Lirihnya dengan kepala tertunduk.


Ayun tersenyum simpul, tangannya terulur mengusap punggung sang putra dengan lembut. "Seorang ibu tidak butuh semua itu, Nak. Asal kau dan adikmu hidup bahagia dan cukup, itu sudah lebih dari cukup untuk ibu."


Ezra semakin bergetar saat mendengar ucapan sang ibu. Dulu dia selalu membanggakan betapa hebat dan suksesnya sang ayah, apalagi saat mengadakan acara hari ayah di sekolah.


Tidak pernah sekali pun Ezra membahas betapa baik dan hebatnya ibu yang dia miliki, karena dulu dia menganggap ibunya sama seperti ibu-ibu yang lain. Seorang ibu rumah tangga yang hanya tinggal di rumah, dan tidak mengerjakan apa-apa. Tanpa dia sadari jika pekerjaan ibu rumah tangga tidak ada habisnya, bangun paling cepat dan tidur paling lama.


"Tapi sekarang aku sadar betapa mulia dan hebatnya seorang ibu. Aku bahkan tidak bisa membayangkan akan jadi seperti apa hidupku ini jika tidak ada Ibu. Maafkan aku, Bu. Maafkan aku." Lirih Ezra.


Ayun langsung memeluk tubuh putranya dengan erat. Dia merasa terharu dan sedih dengan apa yang Ezra ucapkan, karena baginya tidak ada yang lebih penting dari kedua buah hatinya.

__ADS_1


"Sudahlah, Nak. Kau tidak perlu meminta maaf, karena kau tidak melakukan kesalahan. Ibu hanya ingin kalian bisa terus bersama dengan ibu, dan menjadi kekuatan ibu untuk melangkah maju."


Ezra mengangukkan kepalanya dan mengiyakan ucapan sang ibu, dia terus memeluk ibunya dengan erat seperti memberi kekuatan agar sang ibu terus semangat.


Dari balik pintu, ternyata sejak tadi Adel mendengar semua ucapan ibu dan juga kakaknya. Dia yang akan memanggil mereka memilih untuk diam di tempat itu, dengan perasaan sedih karena ucapan sang kakak.


"Aku juga sangat mencintai, ibu." Lirih Adel.


Sama halnya dengan Ezra, Adel pun sejak dulu tidak terlalu dekat dengan ibunya karena dia dekat dengan sang ayah. Ayahnya selalu menuruti apa yang dia inginkan, dan membelikan semua barang-barang yang dia sukai. Sementara sang ibu, ibunya malah lebih banyak melarang dia ini dan itu, bahkan mengatakan jika dia tidak boleh boros dan foya-foya.


Namun, sekarang dia sadar jika uang tidak bisa dihambur-hamburkan segitu saja. Apalagi sejak mereka keluar dari rumah sang ayah, dia jadi mengerti betapa susahnya mencari uang selama ini.


Setelah merasa tenang, mereka lalu beranjak pergi ke pengadilan. Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, dan persidangan akan dimulai tepat pukul 10 pagi.


Mereka semua lalu berangkat menuju pengadilan dengan menggunakan taksi. Di sana sudah ada Bram yang menunggu dan mempersiapkan semuanya agar persidangan berjalan lancar dan tidak ada kesalahan.


Sekitar 15 menit perjalanan, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Mereka segera keluar dari taksi dan berjalan cepat untuk memasuki tempat itu.


"Selamat pagi menjelang siang, Buk. Bagaimana keadaan Anda hari ini?" sambut Bram yang sudah menunggu kedatangan mereka.


"Selamat pagi menjelang siang juga, Pak. Alhamdulillah saya baik, hanya sedikit gugup saja," jawab Ayun dengan jujur, membuat Bram tersenyum simpul.


Bram lalu mengajak mereka untuk masuk ke dalam ruangan, tetapi langkah mereka terhenti saat mendengar panggilan seseorang.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, Ayun."


Ayun dan yang lainnya menoleh ke arah belakang, terlihat Evan dan pengacaranya sudah datang juga ke tempat ini.


"Ayun, aku ingin-"


"Maaf, Tuan Evan. Kami ingin membicarakan sesuatu, saya harap Anda tidak bicara dengan klien saya sebelum persidangan selesai," potong Bram dengan cepat, dia tahu apa yang saat ini ada dalam pikiran laki-laki itu.


Evan mengepalkan kedua tangannya dengan marah. Berani sekali pengacara itu menghalanginya, memangnya siapa dia?


"Aku tidak butuh izin dari siapa pun untuk bicara dengan Ayun!" ucapnya dengan tajam.


"Ayo kita masuk, Pak. Jangan buang-buang waktu di sini," tukas Ayun tiba-tiba, membuat Evan terkesiap. Dia lalu mengajak kedua anaknya untuk masuk.


Evan hanya bisa menatap Ayun dengan nyalang. Dia merasa kesal dan sedih secara bersamaan, apalagi saat bersitatap mata dengan kedua anaknya.


"Padahal aku hanya mau bicara selama 5 menit saja, tapi dia sama sekali tidak mau dengar."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2