Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 36. Saling Melempar Kemarahan.


__ADS_3

Evan mematung di ujung tangga saat melihat keberadaan Abbas dan keluarga laki-laki itu ada di rumahnya. Mendadak dia menjadi tegang dan gelisah saat melihat mereka.


"Sekarang dengarkan aku baik-baik. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah memaafkanmu atau pun anakmu itu, aku bersumpah bahwa kalian akan mendapatkan balasan dari yang maha kuasa. Hidup kalian tidak akan pernah bahagia sampai kapan pun!" teriak Mery yang mengeluarkan sumpah serapahnya untuk Abbas. Tubuhnya bahkan sampai bergetar karena menahan gejolak emosi yang terus membara.


"Hentikan, Bu. Apa yang Ibu lakukan?" tanya Ayun dengan tajam. Matanya menatap nanar, dengan gurat kecewa yang terlihat jelas diwajahnya.


"Kenapa, apa ibu tidak boleh menyumpahi manusia-manusia tidak punya otak seperti mereka?" ucap Mery dengan nada membentak. Dia sangat kesal hingga membuatnya tidak bisa lagi mengendalikan diri.


Nindi yang sejak tadi diam melihat ayahnya di caci maki, bahkan mendapat sumpah serapah seperti itu benar-benar tidak bisa lagi menahan diri. Sontak dia beranjak dari sofa membuat suami dan papanya terkesiap.


"Kami datang ke sini untuk meminta maaf, tapi bukan berarti Anda bisa menginjak-nginjak harga diri kami," ucap Nindi dengan tajam dan penuh penekanan membuat papanya ikut berdiri.


"Nindi!" tegur Abbas sambil menatap putrinya dengan tajam. Dia lalu memberi isyarat agar Nindi kembali duduk bersama dengan Keanu.


"Wah, lihat dia. Apa dia anakmu juga?" cibir Mery sambil menatap dengan sinis, dan apa yang dia lakukan benar-benar membuat Ayun syok setengah mati.


Selama 20 tahun hidup bersama, baru kali ini Ayun melihat kemarahan yang luar biasa dari mertuanya. Apalagi sampai memaki dan mengeluarkan sumpah serapah untuk orang lain.


"Lebih baik kau pergi dari rumahku sekarang juga, dan jaga-jaga anakmu ini. Jangan-jangan laki-laki yang bersamanya adalah suami orang?" cibir Mery membuat semua orang menatap dengan emosi.


"Tutup mulutmu!" bentak Keanu sambil beranjak bangun dari sofa. Dia yang biasanya hanya diam mendengarkan, sekarang benar-benar tidak bisa lagi menahan diri.


"Sebelum kau membicarakan orang lain, lihat dulu putramu yang brengs*ek itu!" ucap Keanu dengan sarkastik, dia menunjuk ke arah Evan yang sejak tadi menonton pertunjukan mereka.

__ADS_1


Evan terkesiap saat semua mata tertuju padanya, apalagi saat mendapat tatapan yang sangat tajam dari Abbas membuat tubuhnya langsung menegang.


"Ya, dia memang brengs*ek. Tapi apa yang wanita itu lakukan juga tidak kalah bi*dab dari dia," balas Mery tidak mau kalah.


Keanu tersenyum sinis. "Tidak ada laki-laki yang lebih brengs*ek dan hina dari anakmu itu. Sudah punya anak dan punya istri, tapi masih sanggup menjalin cinta dengan wanita lain. Dasar banci!"


Abbas dan Nindi terkesiap saat mendengar ucapan Keanu. Apa laki-laki itu sedang kemasukan setan? Mereka tidak habis pikir jika Keanu akan melawan dan balik mencaci, padahal biasanya hanya diam dengan tenang dikursi.


"Kau bilang apa?" Evan merasa tidak terima dengan apa yang Keanu katakan. Dia lalu melangkah kakinya untuk mendekati laki-laki itu.


"Kau-" Evan tidak bisa melanjutkan ucapannya saat tiba-tiba Abbas juga beranjak dari sofa, dan berdiri tepat di hadapannya.


Glek.


Mata mereka berdua saling beradu pandang dengan tajam selama beberapa detik, sampai akhirnya Evan memalingkan wajahnya karena tidak sanggup ditatap seperti itu oleh Abbas.


Endri yang berdiri di depan pintu kamar bergegas mendekati sang istri, lalu menarik tangannya membuat Mery terkesiap.


"Hentikan, Mery. Kenapa sejak tadi kau terus saja mencaci maki orang yang datang dengan baik-baik ke sini, hah?" tanya Endri dengan tajam. Dia diam karena tidak mau menambah keributan, tetapi istrinya malah semakin menjadi-jadi.


"Dengan baik-baik? Jangan ngarang kamu Mas!" Mery menepis tangan Endri, lalu kembali menoleh ke arah Abbas dan yang lainnya. "Aku yakin sekali mereka datang ke sini bukan karena ingin minta maaf, tapi karna mau memasukkan anak mereka ke dalam rumah ini." Tuduh Mery dengan sarkas.


Abbas dan yang lainnya menatap dengan tidak percaya, bagaimana mungkin wanita paruh baya itu bisa menuduh mereka tanpa alasan? Jelas-jelas sejak tadi mereka diam walau di hina habis-habisan.

__ADS_1


"Jadi lupakan niat busuk kalian itu. Sampai kapan pun aku tidak akan menerima anak kalian masuk ke dalam keluargaku, apalagi menjadi menantuku,"


"Cukup, Ibu!" teriak Ayun dengan nada membentak, membuat Mery tersentak kaget. Begitu juga dengan semua orang yang ada di tempat itu.


Ayun menatap ibu mertuanya dengan tajam. Kemarahan terlihat dari sorot kedua matanya, dengan wajah memerah karena menahan emosi.


"Cukup, Bu. Sudah cukup." Lirih Ayun. Dadanya tampak naik turun karena sejak tadi terus menahan rasa kesal.


"Kau membentak ibu, Ayun?" tanya Mery dengan getir. Dia merasa tidak percaya menantunya sanggup menaikkan nada suara seperti itu.


Ayun menghela napas kasar sambil menatap sang mertua dengan tatapan nyalang. "Maafkan aku, Bu. Tapi apa yang Ibu lakukan sudah sangat keterlaluan." Dia berucap dengan getir.


Mery terdiam. Dia masih merasa kaget karena bentakan Ayun, dan sekarang wanita itu malah mengatakan jika dia sudah keterlaluan.


"Kenapa Ibu terus memaki mereka?" tanya Ayun dengan bibir bergetar. Dia menoleh ke arah Nindi dengan sendu, lalu kembali melihat ke arah sang mertua. "Mereka sama sekali tidak bersalah, tapi kenapa Ibu terus saja berkata buruk?" Dia berucap dengan penuh kecewa.


"Memangnya kenapa jika mereka datang untuk menemuiku? Aku berteman dan mengenal Nindi, dan posisi mereka juga sama seperti Ayah dan Ibu," ucap Ayun dengan suara serak menahan tangis.


"Mereka mungkin tidak tau tentang perselingkuhan yang telah suamiku lakukan dengan anak mereka. Jadi kalau Ibu mau menyalahkan dan mencaci maki seseorang, maka caci makilah anak Ibu sendiri. Dialah yang telah membuat masalah, dia yang sudah menghancurkan keluarga, dan dia juga yang tidak punya otak hanya duduk tenang tanpa merasa bersalah."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2