Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 161. Sebelum Pernikahan.


__ADS_3

Wajah Rian semakin merah padam dengan napas yang mulai memburu. Detak jantungnya juga semakin berpacu cepat membuat mesin pendeteksi jantung yang ada di samping ranjang langsung berbunyi.


Tit.


Tit.


Tit.


Dokter dan perawat yang ada di depan pintu bergegas masuk ke dalam ruangan saat mendengar suara mesin itu, sementara Fathir hanya diam sambil bersedekap dada. Tidak lupa memasang smiriknya yang tampak sangat menyeramkan.


"Apa yang terjadi, Tuan?" tanya Dokter itu sambil melihat ke arah Fathir. Padahal beberapa saat yang lalu kondisi Rian sudah membaik, tetapi sekarang malah kembali mengalami tekanan darah dan juga jantung.


Fathir mengendikkan bahu dengan tidak peduli. "Anda kan Dokternya, kenapa malah bertanya pada saya?" Dia berucap dengan acuh tak acuh.


Dokter itu menghela napas kasar. Setelah itu dia meminta Fathir untuk keluar dari ruangan Rian karena dia harus segera memeriksa kondisi laki-laki itu.


"Anda harus merawatnya dengan baik, Dokter. Jangan sampai dia mati," ucap Fathir dengan penuh penekanan sambil menepuk bahu Dokter itu. Dia lalu beranjak keluar dari ruangan itu tanpa menoleh ke belakang, merasa benar-benar puas melihat kondisi Rian saat ini.


Setelah dari rumah sakit, Fathir dan yang lainnya segera pulang ke rumah masing-masing. Dalam perjalanan, dia sempat berhenti di sebuah toko bunga dan membeli sebuket bunga mawar berwarna merag, lalu memberikan bunga itu pada sang calon mertua.


"Aku titip bunga ini untuk Ayun, Pa. Semoga dia menyukainya," ucap Fathir dengan pelan. Kedua matanya berbinar indah memperlihatkan ketulusan cinta pada Ayun sesuai dengan makna bunga yang dia beri.


Abbas tersenyum, dia lalu mengambil buket bunga itu dan membelainya dengan senang. "Dia pasti akan sangat menyukainya, Fathir. Terima kasih."


Fathir mengangguk. Lalu mereka semua pergi menuju tempat masing-masing. Keanu dan Abbas memutuskan untuk pulang ke rumah Ayun karena memang semua orang sudah berkumpul di sana.


Sesampainya di rumah Ayun, semua orang langsung menyambut Keanu dan Abbas dengan perasaan cemas. Walau ini bukan kali pertama mereka diperiksa oleh polisi, tetapi semua keluarga merasa sangat khawatir. Terlebih-lebih karena Fathir juga ikut menjalani pemeriksaan.


"Kalian tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja," ucap Abbas dengan senyum hangat, mencoba meyakinkan semua orang jika tidak ada hal buruk yang akan terjadi.


Walau masih merasa sedikit khawatir, semua orang tampak menghela napas lega mendengar ucapan Abbas. Terutama Ayun yang sejak tadi merasa sangat cemas saat membaca pesan Fathir yang memberitahukan jika pergi ke kantor polisi.


"Oh iya, ini ada titipan dari Fathir untukmu, Ayun," sambung Abbas seraya menyerahkan buket bunga yang sejak tadi dia pegang. Hampir saja dia lupa tentang pemberian Fathir itu.


Ayun tersenyum lebar sambil menerima bunga dari sang papa. "Terima kasih karena sudah membawakannya, Pa."


Abbas mengangguk. Dia lalu mengajak sang istri untuk ke kamar karena ingin mendiskusikan sesuatu, sementara yang lain kembali melanjutkan aktivitas mereka.

__ADS_1


"Apa Fathir benar-benar baik-baik saja, Mas?" tanya Hasna saat sudah berada di dalam kamar pada sang suami. Dia tetap merasa cemas dengan keadaan calon menantunya.


Abbas mengangguk sambil mengusap punggung tangan Hasna. "Untuk saat ini semuanya baik-baik saja, Sayang. Semua bukti kejahatan Rian sudah berada di tangan polisi, hanya tinggal menunggu waktu saja sampai sidang digelar dan laki-laki itu mendapat hukuman atas kejahatannya selama ini."


Hasna mengangguk paham. Namun, biar bagaimana Fathir terlibat dengan semua itu, bahkan sampai menghilangkan nyawa mendiang istrinya.


"Tapi tetap saja aku khawatir, Mas. Bukankah rekaman itu menunjukkan bahwa Fathir yang menembak mending istrinya?" ucap Hasna dengan sendu.


Abbas mengangguk. "Benar, rekaman itu memang menunjukkan bahwa Fathir yang sudah menembak Clarissa, tapi semua itu tidak akan membuatnya dhukum berat." Dia kembali meyakinkan. "Kalau pun dia menerima hukuman, maka aku tidak akan tinggal diam. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan semua itu, fokus saja untuk pernikahan putri kita." Dia memeluk tubuh sang istri dengan erat.


Hasna kembali mengangguk dan mencoba untuk menenangkan diri. Dia membalas pelukan sang suami dengan erat, meresapi kehangatan yang suaminya berikan.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Fathir sedang berkumpul dengan keluarganya. Mereka tengah membahas tentang persiapan pernikahannya dan Ayun yang akan diadakan lusa, bahkan beberapa saudara sudah datang ke rumah mereka.


"Semuanya sudah selesai, Ma. Undangan untuk para kolega bisnis papa dan semua teman-teman Mama dan papa sudah dibagikan," ucap Fathir sambil menunjukkan catatan yang berisi nama-nama para tamu undangan.


Alma mengangguk lega. Kini mereka hanya tinggal menunggu hari pernikahan saja, setelah semua masalah yang terjadi selama ini.


"Oh yah, Fathir. Tadi malam Faiz menemui mama dan bertanya tentang rekaman itu, sepertinya dia mendengar obrolan kita," ucap Alma dengan pelan.


Ah, Fathir baru ingat dengan putra sulungnya itu. Sepertinya ada banyak hal yang harus dia bahas dengan Faiz, apalagi menyangkut kematian ibu putranya itu.


Alma dan Farhan mengaangguk membuat Fathir beranjak pergi dari ruangan itu menuju kamar Faiz. Terlihat putranya sedang fokus dengan laptop yang ada di hadapannya.


Fathir tersenyum. Sangking fokusnya mengerjakan sesuatu, Faiz sampai tidak sadar dengan keberadaannya.


"Papa tidak tahu kalau kau pandai menggambar, Faiz."


Faiz terjingkat kaget saat mendengar suara papanya, spontan dia menoleh ke arah samping di mana papanya berada.


"A-aku cuma iseng-iseng aja kok," sahut Faiz sambil menutup laptopnya, merasa malu atas pujian yang papanya katakan.


Fathir kembali tersenyum seraya mendudukkan tubuhnya ke ranjang. Dia tahu jika selama ini Faiz sangat gemar sekali bermain game, bahkan putranya itu pernah berkata jika ingin membangun perusahaan tentang game. Sepertinya ucapan Faiz memang tidak main-main, buktinya laki-laki itu terlihat sangat serius saat menggambar salah satu karakter hero yang sering dimainkan.


"Apa Papa baik-baik saja?" tanya Faiz sambil menatap sang papa dengan sendu.


Fathir mengangguk. "Papa baik-baik saja, Faiz. Bagaimana denganmu sendiri, apa kau baik-baik saja?"

__ADS_1


Faiz mengernyitkan kening bingung mendengar pertanyaan sang papa. "Apa maksud Papa? Tentu saja aku baik-baik saja."


Fathir menatap sendu. Dengan cepat dia menarik tubuh Faiz dan memeluknya dengan erat, membuat putranya itu terkejut dengan kedua mata membulat lebar.


"Maafkan Papa, Faiz. Maafkan Papa. Papa tidak bermaksud untuk membohongimu, dan papa tidak bermaksud untuk membuatmu kehilangan mamamu. Papa merasa sangat bersalah, maafkan papa."


Dada Faiz berdegup kencang mendengar ucapan sang papa. Kedua matanya terpejam mencoba untuk menerima semua yang sudah terjadi. Walau papanya yang sudah menghilangkan nyawa sang mama, tetapi dia juga tahu siapa yang berada dibalik semua itu.


"Semua itu sudah berlalu, Pa, dan Papa tidak perlu minta maaf karena itu bukan kesalahan Papa," sahut Faiz.


Fathir melerai pelukannya lalu menatap putranya dengan sendu. "Kau benar-benar anak yang baik, Faiz. Terima kasih karena sudah menjadi putra papa."


Faiz tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Tentu saja aku menjadi anak papa, jika tidak maka tidak mungkin aku akan memiliki wajah setampan ini."


Fathir tergelak mendengar ucapan Faiz, lalu mereka sama-sama tertawa bahagia seolah tidak ada masalah yang terjadi, karena memang mereka sudah mengikhlaskan semua itu dan menjadikannya sebagai pembelajaran.


Tanpa keduanya sadari, saat ini ada tiga orang yang memperhatikan dari pintu. Mereka senang melihat kebahagiaan diwajah Fathir dan Faiz, lalu beralih menjauh dari tempat itu sebelum Fathir dan Faiz menyadarinya.


"Kau sudah melihatnya 'kan, Arvin?" ucap Farhan saat sudah menjauh dari kamar Faiz.


Laki-laki bernama Arvin itu menganggukkan kepalanya dengan perasaan senang. Dia merasa lega melihat keakraban cucunya dengan sang menantu, padahal selama ini dia mendengar kabar bahwa Fathir membenci putranya sendiri.


"Kami memintamu untuk datang ke sini dan melihatnya secara langsung. Kami harap kau bersedia untuk membantu, walau kami tahu bahwa semuanya pasti sangat menyakitkan untukmu," sambung Alma.


Yah, Farhan, Alma, dan laki-laki bernama Arvinlah yang tadi mengintip Fathir dan Faiz. Arvin merupakan ayah kandung mending Clarissa yang sudah lama pindah sejak wanita itu meninggal.


Farhan sengaja menghubunginya dan meminta Arvin untuk datang karena kasus kematian Clarissa kembali dibuka, sementara Fathir sendiri tidak tahu tentang kedatangan mertuanya itu.


Awalnya Arvin merasa terkejut saat mendengar kenyataan bahwa Fathirlah yang tidak sengaja membunuh Clarissa. Namun, akhirnya dia paham bahwa semua itu karena perbuatan Rian.


"Kalian tidak perlu khawatir. Aku pasti akan menemui polisi dan memberikan keterangan, aku tidak akan membiarkan Fathir di penjara dan terpisah oleh cucuku."




__ADS_1


Tbc.



__ADS_2