Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 97. Masa Lalu.


__ADS_3

Hasna terkesiap saat mendengar ucapan Abbas. Kedua tangan yang sejak tadi saling bertautan, kini tampak mengepal erat.


"Hem, begitu. Mungkin saya bisa menunjukkan foto almarhum suami saya pada Anda? " ucap Hasna, mencoba untuk menangapi ucapan Abbas dengan santai seperti biasa.


Abbas langsung tertawa miris. "Benarkah? Apa kau sama sekali tidak merasa bersalah karena sudah memisahkan seorang anak dari ayah kandungnya sendiri, Hasna?" Dia berkata dengan pelan, tetapi setiap kata yang terucap penuh dengan penekanan.


Hasna terdiam. Sepertinya apa yang Abbas katakan saat ini bukan hanya sekedar omong kosong belaka, mungkinkah laki-laki itu mengetahui sesuatu tentang Ayun? Tetapi dari mana dia mengetahuinya?


"Aku tidak mau berbelit-belit, Hasna. Kau sendiri sudah tahu bagaimana sifatku, bukan?" lanjut Abbas, dia mengambil sesuatu di dalam saku celananya lalu menyodorkan secarik kertas ke hadapan Hasna. "Kenapa selama ini kau tidak memberitahuku tentang Ayun?"


Hasna menatap kertas yang ada ditangan Abbas, sepertinya dugaannya benar jika laki-laki itu sudah mengetahui perihal Ayun.


"Karena itulah yang terbaik untuk Anda, Tuan,"


"Yang terbaik untukku?" tanya Abbas dengan tidak percaya. "Dibagian mananya yang terbaik untukku, hah?" Dia berucap dengan marah.


Hasna kembali diam sambil menundukkan kepala, memangnya dia sendiri mau mengandung tanpa suami? Tetapi jika waktu diulang pun, dia akan tetap memilih untuk pergi.


"Sekarang katakan padaku, Hasna. Katakan kenapa kau pergi dan tidak memberitahuku tentang anak kita!" ucap Abbas dengan penuh penekanan.


Kepalan tangan Hasna semakin menguat, tanpa terasa air mata mengalir dari sudut matanya. Namun, dia langsung mengusapnya sebelum meninggalkan jejak.


"Semua itu sudah berlalu, Tuan. Tidak baik kita membahas-" Hasna tidak bisa melanjutkan ucapannya saat tangannya ditarik dengan kuat oleh Abbas, sontak dia mendongakkan kepala dan menatap laki-laki itu dengan nanar.


Abbas menarik tangan Hasna lalu meletakkannya tepat didada. "Tidak ada yang berlalu begitu saja, Hasna. Getaran didada ini masih tetap sama seperti puluhan tahun silam."


Hasna terpaku melihat apa yang Abbas lakukan, tubuhnya juga terasa kaku tidak bisa untuk digerakkan dan memberi reaksi atas apa yang terjadi.

__ADS_1


"Dulu kau sudah menolakku dan pergi meninggalkanku, aku mohon sekarang jangan lakukan itu lagi, Hasna. Aku hanya meminta jawaban darimu." Lirih Abbas membuat Hasna terkesiap.


Dengan cepat Hasna menarik tangannya dari dada Abbas lalu memalingkan wajah yang mungkin bersemu merah, karena saat ini tubuhnya terasa sangat panas.


"Anda tahu benar alasan kepergian saya, Tuan. Dan memang tidak seharusnya saya hadir dalam hidup Anda," ucap Hasna. Bagaimana mungkin dia bisa menjadi orang yang tidak tahu diri, dengan merebut tunangan dari wanita yang sudah sangat baik padanya? Tidak, dia tidak bisa melakukan itu.


Abbas terdiam. Dia masih ingat betul bagaimana rumitnya hubungan mereka di masa lalu, tentu dia tahu juga alasan kepergian Hasna karena dia sudah menjadi milik wanita lain.


"Tapi semua itu tidak sama, Hasna. Ada anakku dalam kandunganmu, kenapa kau sama sekali tidak memikirkannya dan memutuskan untuk pergi?" Lirih Abbas dengan sendu.


Hasna tersenyum getir. "Anda bahkan tidak tahu jika saya mengandung, 'kan? Bukankah itu sama saja?"


Abbas menelan salivenya dengan kasar. Jangankan tahu jika Hasna mengandung, dia bahkan tidak tahu kapan membuat anak yang ada dalam kandungan wanita itu.


"Tolong jangan membuatku pusing, Hasna. Katakan saja kenapa kau pergi tanpa mengucapkan apa-apa padaku," ucap Abbas dengan tajam. Dia tidak berani bertanya kapan mereka melakukan hubungan int*im, bukankah itu akan membuat Hasna tersinggung?


Deg.


Tubuh Abbas langsung menegang, malam yang disebut Hasna pasti malam dia membuat wanita itu sampai hamil. Namun, apa yang terjadi sebenarnya?


"Anda bahkan tidak ingat malam itu, 'kan?"


Tubuh Abbas semakin menegang sempurna mendapat pertanyaan seperti itu dari Hasna. "Maaf, sungguh maafkan aku." Dia berucap lirih, rasa bersalah kini menghantamnya.


Hasna menganggukkan kepala dengan raut wajah sendu, sudah dia duga jika laki-laki itu sama sekali tidak ingat dengan malam itu. Malam di mana dia diperkosa oleh Abbas, laki-laki yang sangat dia cintai. Bukankah rasanya sangat sakit sekali?


"Anda memperkosa saya, seharusnya saya melaporkan Anda ke kantor polisi,"

__ADS_1


"Apa?" Abbas memekik kaget. "Tidak, aku tidak akan pernah melakukan itu." Bantahnya. Dia tidak mungkin melakukan hal biad*ab seperti itu, apalagi dengan wanita yang dia cintai.


Flashback.


Malam itu, Hasna terlihat khawatir menunggu kepulangan Abbas yang biasanya sudah kembali beberapa jam yang lalu. Dia hanya sendirian di rumah, karena kedua majikannya sedang pergi ke luar kota.


Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, tetapi Abbas belum juga kembali. Tidak bisa hanya diam menunggu, Hasna segera menghubungi nomor ponsel Abbas. Namun, ponsel laki-laki itu malah tidak aktif. Dia lalu memutuskan untuk menelepon Naira, mungkin saja Abbas sedang bersama dengan tunangannya.


Namun, ternyata Naira juga tidak tahu di mana Abbas dan mengatakan akan mencari laki-laki itu membuat Hasna merasa tenang. Dia lalu kembali menunggu karena matanya enggan untuk terpejam.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu yang dibuka dengan sedikit keras membuat Hasna terlonjak kaget. Dia segera melihatnya, ternyata Abbas sudah pulang ke rumah dalam keadaan kacau.


Hasna segera membantu Abbas yang berjalan sempoyongan, sepertinya laki-laki itu sedang mabuk dan tidak sadar. Dia memapahnya sampai ke kamar, lalu membaringkannya di ranjang dengan susah payah.


Hasna berusaha untuk membangunkan Abbas, tetapi laki-laki itu sama sekali tidak bergerak dan hanya bergumam saja. Dia lalu berniat untuk membuatkan sup agar bisa menghangatkan perut anak majikannya itu, jika nanti terbangun.


Namun, tiba-tiba Abbas menarik tangannya hingga dia terjerembab di atas ranjang. Tanpa mengatakan apa-apa, laki-laki itu langsung melakukan hal yang tidak pantas padanya.


Awalnya Hasna berusaha untuk menolak dan mempertahankan harga dirinya, tetapi Abbas sama sekali tidak mendengarkan bahkan tidak peduli. Sampai akhirnya dia ternoda, dan mereka melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.


Flashback off.




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2