
Fathir merasa kesal dengan ulah putranya yang selalu saja membuat masalah, dia bahkan sampai menghentikan pekerjaannya hanya untuk menemui anak nakal itu.
Kemarin sore, dia mendapat telepon dari wali kelas sang putra yang mengatakan jika putranya ketahuan membawa minuman keras ke sekolah. Walau dia donatur terbesar di sekolah elit itu, tetapi putranya tetap mendapat peringatan keras jika melakukan pelanggaran.
Selama di rumah pun, putranya selalu menghindari Fathir. Apalagi dia memang sering pulang larut malam, itu sebabnya dia ingin bertemu anak nakal itu tetapi malah dibohongi.
Fathir terpaksa mengadukannya pada sang ibu tentang apa yang putranya lakukan, karena hanya ibunyalah yang bisa bicara dengan anak nakal itu dengan cara baik-baik. Jika dia yang bicara, maka bisa dipastikan barang-barang yang ada di rumah hancur berantakan.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Abbas sudah sampai di depan rumah yang ditempati oleh Ayun. Dia segera membantu Hasna untuk keluar dari mobil, sementara Yuni dibantu oleh Angga yang langsung keluar saat mendengar kedatangan mereka.
"Hati-hati," ucap Abbas saat membantu Hasna keluar dari mobil dan kembali duduk di kursi roda.
"Terima kasih, Tuan," balas Hasna dengan senyum simpul. Sebenarnya dia merasa tidak enak hati memperlakukan Abbas seperti ini, tetapi lelaki itu ngotot ingin merawatnya. Dia juga tidak bisa menolak saat Abbas mengungkit hubungan ayah dan anak dengan Ayun.
Abbas lalu mendorong kursi roda itu untuk masuk ke dalam rumah. Setelah itu dia bertanya pada Angga apakah semua barang-barang sudah selesai dibereskan, karena dia akan memanggil para bawahannya untuk mengangkut barang-barang itu.
"Semua sudah saya bereskan, Tuan. Em ... apa Anda sudah membaca pesan saya?" tanya Angga.
Abbas mengernyitkan kening sambil menggelengkan kepalanya. "Aku tidak sempat pegang ponsel. Apa ada masalah?" Dia bertanya seolah tahu dari raut wajah Angga.
Angga lalu melirik ke arah sang mertua karena merasa tidak enak membahas masalah Evan di hadapan Hasna, dan Abbas yang paham arti lirikan itu segera menyuruh Hasna untuk bersiap-siap.
"Ada apa?" tanya Abbas pada Angga saat mereka sudah berada di luar rumah.
Angga lalu menceritakan tentang kedatangan Evan beberapa saat yang lalu, tentu saja membuat Abbas langsung murka.
"Laki-laki itu sepertinya belum sadar juga, ya," gumam Abbas sambil mengepalkan kedua tangannya. Dia harus segera menunjuk salah satu orang kepercayaannya untuk mengambil alih usaha property milik Ayun, karena dia tidak akan mengizinkan jika Ayun sendiri yang mengelolanya. Apalagi masih ada Evan di sana. Namun, dia tahu jika sebentar lagi laki-laki itu akan keluar sepenuhnya.
__ADS_1
"Tenang saja, saya akan membereskan semua itu. Kau fokus saja untuk pindahan kita hari ini, karena lusa kau harus sudah bekerja di perusahaan Keanu," ucap Abbas kemudian.
Angga lalu menganggukkan kepalanya dan kembali masuk ke dalam rumah, sementara Abbas masih berada di tempat itu memikirkan siapa kira-kira orang yang tepat untuk mengambil alih usaha itu, sembari membimbing Ayun atau pun Ezra..
"Tuan."
Abbas tersentak kaget saat mendengar panggilan seseorang, dia lalu berbalik dan melihat Hasna sedang berjalan pelan ke arahnya.
"Di mana kursi rodamu?" tanya Abbas dengan tajam. Dia bergegas menghampiri Hasna dan memegangi tubuh wanita itu.
Hasna tersenyum simpul. "Saya sudah bisa berjalan, Tuan. Tidak baik juga berlama-lama di atas kursi roda." Dia melepaskan pegangan tangan Abbas pada lengannya, dan meyakinkan laki-laki itu jika dia baik-baik saja.
Abbas menghela napas kasar. "Kau selalu saja keras kepala." Dia melepaskan pegangan tangannya, tetapi tetap berada di samping Hasna untuk jaga-jaga.
Hasna tergelak saat mendengarnya. "Anda juga tetap sama, Tuan." Dia berpegangan pada sandaran kursi, lalu mendudukkan tubuhnya di tempat itu.
Abbas menatap Hasna dengan tajam, tetapi hatinya terasa hangat saat melihat dan mendengar gelak tawa wanita itu.
"Tetap baik dan berhati hangat."
Blush.
Seketika wajah Abbas langsung merah padam saat mendengar ucapan Hasna. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan salah tingkah.
"Ka-kau masih saja bermulut manis, ya." Abbas memalingkan wajahnya ke arah samping karena merasa malu.
Hasna tersenyum lebar saat melihat wajah Abbas yang memerah, bahkan rona merah itu sampai ke telinga laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Terima kasih, Tuan. Terima kasih untuk semua kebaikan Anda," ucap Hasna dengan tulus, membuat Abbas kembali melihat ke arahnya.
Tatapan mereka berdua bertemu untuk beberapa saat, seolah memancarkan kehangatan yang penuh cinta dengan debaran jantung yang seakan saling berirama.
"Saya tidak pernah membayangkan jika takdir akan kembali mempertemukan kita di tengah luasnya kota ini. Tapi yah, Allah melakukan itu karena ingin mempertemukan ayah dan anak. Saya bersyukur akan hal itu," sambung Hasna kemudian. Kedua tangannya saling bertautan dengan erat, mencoba untuk menahan gejolak hati yang tiba-tiba menggila.
"Kau benar, Hasna," balas Abbas. "Allah mempertemukanku denganmu karena Dia ingin menyatukanku dengan putriku, tapi dibalik semua itu. Apa kau tidak merasa ada sesuatu hal lain yang ingin Allah satukan juga?"
Hasna mengernyitkan kening bingung saat mendengar ucapan Abbas. "Sesuatu hal yang lain?" Dia kembali mengulang pertanyaan laki-laki itu karena tidak mengerti.
Abbas menganggukkan kepalanya. "Kini aku sudah tahu jika Ayun adalah putriku, dan hubungan kami berjalan dengan sangat baik. Jadi, apakah hubungan kita juga tidak bisa seperti itu, Hasna?"
Hasna terdiam dengan tatapan tercengang, mencoba memahami apa yang sebenarnya ingin Abbas katakan padanya.
"Hasna, percaya atau tidak. Perasaanku masih sama seperti puluhan tahun yang lalu, aku masih memiliki perasaan yang sangat dalam untukmu." Lirih Abbas dengan tatapan nanar.
"Tidak ada yang berubah. Aku mengira, perasaanku untukmu sudah padam saat kau pergi meninggalkanku. Aku hidup dengan baik bersama dengan Naira, kau juga tahu bagaimana sikap hangat dan penuh kasih sayang yang selalu dia berikan untukku. Tapi, ada malam di mana aku teringat bayangmu. Aku merindukan setiap momen kita bersama, aku bahkan beberapa kali mencoba untuk mencarimu. Walau sosokmu tak juga aku temukan."
Hasna menundukkan kepalanya dengan pilu. Air mata langsung berjatuhan tanpa izin, dengan rasa sakit yang menyesakkan dada.
"Maaf, maafkan aku."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.