
Endri merasa bingung sendiri dengan apa yang harus dia lakukan perihal Suci. Jika dia membawa gadis kecil itu pulang ke rumah, sudah pasti istrinya akan mengamuk dan tidak akan membiarkan Suci bersama mereka. Namun, jika dia memberikannya pada Sherly. Bagaimana nasib anak itu kelak?
"Hais." Endri menghela napas kasar. Kepalanya berdenyut sakit dengan apa yang terjadi saat ini.
"Mama!"
Endri terkesiap saat mendengar teriakan Suci yang ternyata melihat keberadaan Sherly, begitu juga dengan Sherly yang langsung mendongakkan kepala dan berlari ke arah mereka.
"Suci," pekik Sherly dengan terisak. Dia mengambil Suci dari gendongan Endri dengan kasar, lalu memeluknya erat. "Anakku." Dia berucap dengan tubuh gemetaran.
Suci yang berada dalam gendongan sang mama hanya diam terpaku. Merasakan getaran tubuh sang mama, sekaligus melihat mamanya menangis membuatnya merasa takut dengan wajah yang pucat.
"Hentikan tangisanmu itu, Sherly. Kau membuat anakmu takut!" ucap Endri dengan tajam.
Sherly menggelengkan kepalanya dan tidak peduli dengan apa yang Endri ucapkan, jelas saja membuat Endri naik darah dan kembali merebut Suci dari pelukan wanita itu.
"Kembalikan putriku!" teriak Sherly dengan nyaring. Suaranya berhasil mengundang perhatian orang-orang yang sedang melintas di tempat itu.
"Tidak. Aku tidak akan memberikan Suci kalau kau masih saja seperti orang gila begini," tukas Endri sambil mendekap Suci dengan erat. "Kau tidak lihat betapa takutnya Suci, hah? Lihat dia!" Dia lalu menunjukkan wajah Suci yang memang sudah pucat pasi.
Sherly terdiam saat melihat wajah putrinya. Bukan hanya sekedar pucat saja, dia bahkan bisa melihat jika tubuh Suci gemetaran.
"Maaf, maafkan mama, Suci." Lirih Sherly sambil mengusap wajahnya yang basah karena air mata.
Endri menghela napas frustasi. "Kau pergi saja, biar kami yang merawat Suci."
"Apa?" pekik Sherly dengan kedua mata membulat sempurna. "Tidak. Dia adalah anakku, dia akan selalu bersamaku!" Dia merasa tidak terima, dan tidak akan pernah berpisah dari putrinya sendiri.
"Kau lihat keadaanmu sekarang. Apa kau tidak kasihan dengannya?" tanya Endri dengan sarkas.
Sherly menggelengkan kepalanya dengan tatapan nanar. "Seharusnya kalian yang kasihan dengan keadaan kami. Bagaimana mungkin kalian bisa mengusir kami begitu saja, hah?" Dia kembali membalas ucapan Endri dengan tidak kalah sarkas.
__ADS_1
Endri hanya diam sambil memberikan tatapan tajamnya. Mau mulutnya sampai berbusa sekali pun, tidak akan bisa membuat Sherly sadar dengan apa yang sudah wanita itu lakukan hingga berakhir seperti ini.
"Asal kau tahu, Sherly. Dulu Ayun juga diusir seperti ini oleh laki-laki yang katanya mencintaimu itu hanya demi kau, jadi sekarang kau mendapatkan hal yang sama. Bahkan nasibmu jauh lebih baik dari pada Ayun, karena selama ini kau menikmati hidupmu dengan kemewahan dan kebahagiaan. Tidak seperti Ayun yang harus berjuang keras demi kebahagiaan Evan dengan simpanannya," ucap Endri dengan tajam, telak menghunjam dada Sherly yang langsung terdiam.
Dengan cepat Endri menurunkan Suci dari gendongannya. "Baiklah, terserah kau mau melakukan apa pada anakmu. Yang jelas, suatu saat nanti kau pasti akan menyesal karena tidak memberikan lingkungan yang baik dan sehat untuk putrimu sendiri." Dia langsung beranjak pergi dari tempat itu.
Lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya. Jika terjadi sesuatu dengan mental Suci, maka orang yang akan paling menyesal adalah ibu kandungnya sendiri. Walau Endri merasa kasihan, tetapi dia lepas tangan karena sikap keras dan tidak tahu diri Sherly.
Setelah pengusiran dan keributan yang terjadi, Sherly memutuskan untuk pergi ke rumah ibunya. Dengan tertatih menahan sakit dikaki dan tangannya, dia memanggil taksi dan membawa putrinya pergi dari tempat itu.
Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat Ayun sedang duduk bersama dengan ibu dan adiknya di taman yang ada di samping rumah. 3 gelas teh hangat tersaji di atas meja, dengan ditemani kue yang semalam dibeli oleh Ezra.
Suara gelak tawa dari kedua anak Yuni yang sedang bermain menambah keramaian di rumah itu, sementara Adel dan Ezra sudah berangkat ke sekolah mereka masing-masing.
"Bagaimana pekerjaan Angga, Yun? Aku dengar dia kerja di perusahaan Keanu," tanya Ayun.
"Alhamdulilllah lancar, Mbak. Dia masih harus banyak belajar dari para seniornya di perusahaan, tapi dia bilang semuanya baik dan ramah. Mereka bahkan saling membantu," jawab Yuni.
Tidak berselang lama, tiba-tiba Ayun mendapat telepon dari Fathir membuat obrolannya dan keluarganya terhenti. "Tuan Fathir?" Dengan cepat dia mengambil ponselnya yang ada di atas meja, lalu permisi sebentar pada Adik dan juga ibunya untuk menjawab panggilan tersebut.
"Halo, assalamu'alaikum Tuan Fathir," ucap Ayun saat sudah mengangkat panggilan itu dan menjauh dari keluarganya.
"Wa'alaikum salam, Nona. Maaf mengganggu waktu Anda, bisakah saya bertemu dengan Anda sebentar?"
Ayun mengernyitkan kening saat mendengar ucapan Fathir. Apakah laki-laki itu ingin menanyakan perihal Adel? Gawat, dia lupa mengatakan semua itu pada putrinya.
"Bi-bisa, Tuan," jawab Ayun dengan tergagap, mencoba untuk pura-pura tenang.
"Baiklah. Setengah jam lagi saya akan sampai di rumah Anda," ucap Fathir kemudian.
"Baik, Tuan. Kalau gitu-"
__ADS_1
Tut.
Ayun tidak dapat melanjutkan ucapannya karena panggilan itu sudah dimatikan oleh Fathir, membuat dia merasa gelisah.
"Aduh, bagaimana ini?" gumam Ayun. Dia yakin jika Fathir ingin membahas masalah permintaan yang laki-laki itu katakan tempo hari.
Tidak mau semakin gelisah, Ayun lalu memutuskan untuk bersiap-siap karena saat ini dia hanya sedang memakai daster rumahan saja. Tidak mungkin dia menyambut kedatangan Fathir dengan pakaian seperti itu.
Beberapa saat kemudian, Ayun sudah tampil cantik dan rapi dengan menggunakan dress yang menutup seluruh tubuhnya sampai ke ujung kaki. Tidak lupa dengan memakai hijab yang selalu menutup kepalanya saat berada di luar rumah, atau pun saat kedatangan tamu seperti ini.
Suara bel tiba-tiba berbunyi menandakan bahwa Fathir sudah sampai di tempat itu. Dengan cepat, Ayun berjalan ke arah pintu untuk mempersilahkan laki-laki itu masuk.
Fathir berdiri di depan pintu sambil membawa tas kerjanya. Saat ini dia tampak sangat tampan dan gagah, walau umurnya bisa dibilang sudah tidak muda lagi.
"Anda sudah sampai, Tuan?" ucap Ayun saat sudah membuka pintu. Dia tersenyum hangat menyambut kedatangan Fathir, dan membuka pintu rumahnya dengan lebar.
Fathir terpaku di tempatnya berdiri saat melihat penampilan Ayun. Pasalnya, selama ini dia melihat wajah wanita itu selalu pucat dan lemas. Pakaian yang dipakai pun sangat sederhana. Namun, bukan berarti saat ini Ayun memakai pakaian mewah. Hanya saja penampilannya sangat jauh berbeda, terutama wajah wanita itu yang tampak bersinar dengan senyum manis yang menghiasi.
"A-anda baik-baik saja, Tuan?" tanya Ayun dengan khawatir saat melihat Fathir hanya diam sambil menatapnya.
Fathir terkesiap dan langsung memalingkan wajahnya saat mendengar suara Ayun, bisa-bisanya dia menatap wanita itu dengan tidak sopan.
"Maaf, saya tidak bermaksud menatap Anda seperti itu. Saya hanya pangling melihat penampilan Anda saat ini, lebih rapi dan cantik dari biasanya,"
"A-apa?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.