
Air mata Evan langsung tumpah membasahi wajah saat mendengar ucapan Adel, begitu juga dengan Ayun dan Ezra yang menatap gadis itu dengan terisak.
Evan langsung menggenggam kedua tangan Adel dengan erat dan gemetar. "Maafkan ayah, Nak. Sungguh, ayah benar-benar tidak ingat tentang hari ulang tahunmu. Maafkan ayah." Dia kembali memeluk tubuh Adel, Dadanya terasa sakit bak ditusuk oleh ribuan anak panah saat mendengar ucapan putrinya tadi.
Adel menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk melepaskan pelukan sang ayah. "Tidak, aku tidak mau menerima permintaan maaf Ayah. Karena aku tidak mau mengingatnya kembali." Dia berucap dengan dingin, walau kedua matanya sudah kembali basah.
Evan memejamkam kedua matanya sambil merutuki kebod*ohan yang telah dia lakukan. Bagaimana mungkin dia melupakan hari penting ini? Dan kenapa waktunya bersamaan seperti ini?
Evan lalu kembali mengerjap dan menatap sang putri dengan sendu. "Adel, putriku. Sungguh, ayah tidak-" Dia tidak bisa melanjutkan ucapannya saat tiba-tiba tangan Adel ditarik oleh seseorang.
Ezra yang sejak tadi diam sudah merasa tidak sabar lagi. Dia langsung menarik tangan Adel hingga pelukan sang ayah terlepas, lalu membawa tubuh sang adik masuk ke dalam pelukannya.
"Sudah, Adel. Jangan menangis lagi, kakak mohon jangan menangis." Lirih Ezra membuat tangisan Adel malah semakin terisak.
Ezra mengusap puncak kepala Adel dengan sayang. Dia lalu melirik ke arah sang ayah yang terpaku sambil menatapnya dengan sendu dan sayu.
"Sudah kakak katakan kalau kau tidak butuh seorang ayah, Adel. Kalau kau memang membutuhkannya, maka kakak bisa memberikan yang kau mau. Kakak akan menjadi ayahmu, menjadi kakakmu, menjadi temanmu, juga menjadi sahabatmu. Apa kau mengerti?" ucap Ezra dengan lirih.
Seluruh tubuh Adel bergetar hebat saat mendengar ucapan sang kakak. Dia menganggukkan kepalanya walau masih terisak pilu dengan apa yang terjadi saat ini.
Ayun sendiri hanya bisa menundukkan kepalanya dengan tangan berpegangan pada meja. Seluruh tubuhnya terasa lemas dan tidak berdaya, sungguh dia merasa sangat sakit dan tidak tega melihat kedua anaknya seperti itu.
__ADS_1
"Ezra." Lirih Evan sambil mengusap air mata yang masih saja mengalir deras. "Maaf, Nak. Maafkan ayah. Ayah, ayah tidak-" Dia tidak dapat menyelesaikan ucapannya karena dadanya terasa sangat sesak.
Ezra tersenyum miris saat melihat sang ayah. Laki-laki yang sangat dia hormati dan banggakan, kini hanya meninggalkan mereka dengan penuh kedukaan.
"Jika seorang anak disakiti oleh orang lain, maka dia akan berlari dan berlindung pada ayahnya. Ayahnya akan melindungi dan menjaganya dari rasa sakit akibat kejahatan orang lain. Tapi, bagaimana jika ayah dari anak itu sendiri yang menyakitinya? Ke mana dia harus berlari, pada siapa dia harus minta pertolongan?" ucap Ezra dengan tajam.
Evan benar-benar merasa tertampar dengan apa yang Ezra katakan hingga tubuhnya limbung ke belakang. Tangannya lalu terulur berpegangan pada meja untuk menopang berat tubuhnya.
"Kami permisi, Ayah. Terima kasih atas luka yang telah kau buat. Kami belajar menjadi lebih dewasa dan belajar menerima rasa sakit dari orang yang sangat kami sayangi," sambung Ezra. Dia lalu berbalik dan berjalan mendekati Ayun sambil menuntun Adel dengan perlahan.
Evan hanya bisa terdiam dan tidak sanggup untuk mengucapkan kata-kata saat mendengar ucapan Ezra. Dia merasa tertampar, terpukul, dan juga tertusuk dengan semua ucapan itu, karena apa yang dikatakan putranya adalah benar.
Ayun langsung memeluk kedua anaknya dan segera membawa mereka pergi dari tempat itu. Dia tidak mau semakin membuat mereka sakit dan hancur atas perpisahannya dengan Evan.
"Tuan!" Agung memekik kaget saat melihat tubuh Evan terjatuh ke lantai. Dengan cepat dia menghampiri laki-laki itu dan berusaha memindahkannya ke kursi. "Tuan, Anda tidak-"
"Aku, aku telah menyakiti hati mereka. Aku, aku telah menghancurkan hati anak-anakku sendiri." Lirih Evan, membuat ucapan Agung terhenti.
Evan menatap ke arah lantai dengan pandangan kosong. Perkataan yang baru saja Ezra katakan benar-benar menghantam jiwanya. Kenapa, kenapa selama ini dia tidak memikirkan hati anak-anaknya?
"Tuan, Anda tidak apa-apa?" tanya Agung dengan panik. Dia merasa bingung karena Evan hanya diam sambil menatap ke arah lantai, sungguh dia tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak bisa melakukan semua itu,"
"Tuan, Anda mau ke mana?" panggil Agung saat Evan beranjak pergi dari tempat itu begitu saja, bahkan meninggalkan tas dan ponsel di atas meja.
Evan berlari ke luar dengan sempoyongan untuk mengejar kepergian Ezra dan Adel. Dia semakin mempercepat langkahnya saat melihat mereka masuk ke dalam mobil.
"Ezra, Adel!" teriak Evan membuat Ezra dan Adel yang sudah berada di dalam mobil Abbas memalingkan wajah ke arahnya.
Adel menatap ayahnya dengan tajam. Kedua tangannya terkepal erat dengan rasa sesak dalam dada. Dia lalu kembali melihat lurus ke depan. "Bisakah kita pergi ke sakarang, Kek? Aku, aku tidak mau ada di sini lagi." Lirihnya.
Abbas menganggukkan kepala dan segera melajukan mobilnya untuk meninggalkan tempat itu. Dia melirik ke arah Ayun dan kedua cucunya untuk memastikan jika mereka baik-baik saja.
"Ezra, Adel!" teriak Evan kembali saat mobil yang mereka naiki mulai melaju pergi. "Tunggu, tunggu Ayah!" Dia berusaha mengejar tetapi mobil itu sudah keluar gerbang dan melaju ke jalanan.
"Tunggu, tunggu Ayah, Nak. Maafkan ayah, ayah mohon maafkan ayah."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.