
Untuk pertama kalinya, Fathir menundukkan kepala di hadapan wanita selain ibunya. Dia bahkan tidak pernah menundukkan kepala di hadapan mendiang sang istri.
"Terima kasih telah membuat Faiz senang. Aku, aku tidak akan bisa memberikan itu padanya," ucap Fathir kemudian. Dia benar-benar merasa sangat berterima kasih pada Ayun, karena wanita itu telah memberikan kebahagiaan pada Faiz.
Ayun terdiam saat mendengar ucapan Fathir. Sesaat kemudian, dia mengulas senyum tipis membuat laki-laki itu menatap sendu.
"Jangan berterima kasih, Fathir. Aku tidak melakukan apapun, anakmu sendirilah yang telah membuka hatinya padaku," balas Ayun dengan senyum hangat. "Dan jangan berkata bahwa kau tidak bisa memberikan kebahagiaan pada anakmu, Fathir. Karena semua itu tidak benar. Lebih dari siapapun, kau adalah orang yang paling membuat dia bahagia." Dia menganggukkkan kepala pada laki-laki itu.
Fathir memalingkan wajahnya ke arah samping saat merasakan dadanya yang kian berdegup kencang, bahkan dia merasa jika jantungnya akan meledak saat ini juga.
"Tuhan, aku mohon jangan lakukan ini lagi padaku." Fathir mengepalkan kedua tangannya dengan erat, mencoba untuk menahan debaran jantung yang mulai merambat ke seluruh tubuh.
"A-aku pergi dulu, besok aku akan kembali lagi ke sini," ucap Fathir tanpa sadar, membuat Ayun langsung mengangguk.
"Dasar gila, kenapa aku mengatakan jika besok akan datang ke sini lagi?" Fathir merutuki dirinya sendiri yang sudah mengucapkan sesuatu diluar akal sehatnya. Dia lalu segera pergi dari tempat itu sebelum terjadi sesuatu yang dia inginkan.
Dari kejauhan, ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan Fathir dan juga Ayun. Dia yang akan masuk ke dalam gerbang rumah itu terpaksa menghentikan sepeda motornya di luar, dan segera turun dari kuda besinya itu untuk memperhatikan apa yang sedang mereka bicarakan.
"Apa om Fathir menyukai ibu?" gumam Ezra dengan bertanya-tanya. Terlihat jelas gerak-gerik Fathir yang sepertinya tertarik dengan sang ibu, apalagi saat melihat tatapan mata laki-laki itu saat menatap ibunya.
__ADS_1
Ezra lalu kembali ke tempat di mana sepeda motornya berada saat melihat Fathir masuk ke dalam mobil. Dia segera menghidupkan motornya itu dan melajukannya ke halaman rumah.
Setelah kepergian Fathir, Ayun kembali masuk ke dalam rumah dan bergabung dengan yang lainnya. Berbagai pertanyaan diberikan oleh sang ibu dan juga adiknya, tentu saja tentang kejadian yang telah membuat tangannya terluka.
Sementara itu, di tempat lain terlihat seorang lelaki sedang duduk di depan sebuah ruko berlantai dua. Sudah hampir satu jam dia berada di tempat itu, tetapi sang pemilik ruko tidak juga menampakkan diri.
"Hah, sebenarnya di mana dia?" gumam Evan dengan kesal.
Sudah beberapa hari dia mencari ruko yang murah dan berada tidak jauh dari rumah, karena nantinya dia berniat untuk membuka sebuah usaha demi keberlangsungan hidup keluarganya kelak.
"Suci!"
Evan langsung beranjak dari duduknya saat mendengar nama seseorang, sontak dia langsung menoleh ke arah belakang di mana sumber suara berasal.
"Suci," gumam Evan sambil menghela napas kasar. Dia menatap seorang gadis kecil berkerudung merah yang sedang digendong oleh seorang wanita, kemungkinan gadis kecil itulah yang bernama Suci.
Tiba-tiba, Evan teringat dengan putri kecilnya yang sudah lama tidak terlihat. Sebenarnya dia sangat merindukan Suci, tetapi dia enggan untuk bertemu dengan Sherly yang pastinya sedang bersama dengan putri kecilnya itu.
Beberapa saat kemudian, perhatian Evan teralihkan dengan kedatangan seorang lelaki yang sejak tadi dia tunggu-tunggu.
__ADS_1
"Maaf membuat Anda menunggu," ucap seorang lelaki pemilik ruko yang akan dibeli oleh Evan.
Evan menganggukkan kepalanya. "Tidak apa-apa." Dia lalu berjalan mengikuti laki-laki itu untuk masuk ke dalam ruko tersebut.
Sebelumnya, Evan sudah memikirkannya jika dia akan membuka sebuah coffe shop. Dia juga sudah mengatakan keinginannya itu pada kedua orang tuanya, dan tentu saja mereka mendukung apapun keputusan yang dia buat.
Setelah transaksi dilakukan, akhirnya Evan berhasil membeli ruko itu dengan harga yang lumayan murah dari yang lainnya.
"Tapi maaf, Tuan. Banyak ruangan yang sudah rusak akibat dimakan usia, saya harap Anda bisa melakukan perbaikan agar tidak membahayakan."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1