
Hasna tercengang dengan kedua mata membelalak lebar saat melihat sosok laki-laki yang sangat dia kenali di masa lalu. Begitu juga dengan lelaki itu, yang menatapnya dengan tajam tanpa berkedip sedikit pun.
Ayun bergegas masuk dan menghampiri sang ibu. "Bu." Dia mengusap punggung tangan sang ibu membuat wanita paruh baya itu tersentak kaget.
"Ka-kau sudah datang, Nak?" tanya Hasna dengan tergagap, membuat Ayun mengernyitkan kening merasa heran dengan reaksi ibunya.
"Iya, Bu. Ibu baik-baik saja 'kan?" tanya Ayun dengan khawatir, dia berusaha menepis rasa penasarannya atas reaksi sang ibu tadi.
Hasna menganggukkan kepalanya. "Ibu baik-baik aja, Nak. Kau sendiri bagaimana, hem? Apa sidangnya berjalan lancar?"
Ayun terkesiap saat mendengar pertanyaan sang ibu. Kedua pupil matanya melebar, dengan tatapan terkejut dengan apa yang ibunya katakan.
"I-ibu, itu-"
"Kenapa kau terkejut, apa kau berencana menyembunyikan semuanya sampai ibu mati?" ucap Hasna membuat Ayun tersentak kaget dan langsung menggenggam tangannya dengan erat.
"Ibu enggak apa-apa, Nak. Kenapa merahasiakannya?" Lirih Hasna dengan suara yang bergetar. "Ceritakan semuanya pada ibu, dan menangislah dipangkuan ibu. Kau putri ibu. Jika tidak mengadu dan menangis dipangkuan ibu, lalu pada siapa lagi?"
Ucapan Hasna terasa menyayat-nyayat hati Ayun, membuatnya langsung menangis di atas kedua paha sang ibu yang saat ini sedang duduk sambil bersandar di sandaran ranjang.
Semua orang yang ada di tempat itu ikut merasakan betapa hancur dan sakitnya perasaan Ayun, begitu juga dengan Nindi dan keluarganya yang masih setia berada di tempat itu.
"Menangislah, Nak. Maaf karena ibu baru ada untukmu sekarang." Lirih Hasna sambil mengusap kepala Ayun dengan lembut. Air mata tampak tumpah membasahi wajah, sungguh hatinya benar-benar terluka dengan apa yang sudah Evan lakukan pada putri sulungnya.
__ADS_1
Ezra yang juga ada di tempat itu beranjak bangun dan mendekati Abbas. Dia menyalim tangan laki-laki paruh baya itu, tidak lupa dengan Nindi dan Keanu juga.
"Bagaimana kabarmu, Ezra?" tanya Abbas sambil merangkul tubuh Ezra, membuat laki-laki itu tersenyum senang.
"Aku baik, Kakek. Bagaimana dengan Kakek?" jawab Ezra, dan berakhir dengan pertanyaan pula. Dia benar-benar menganggap Abbas seperti kakeknya sendiri, terlihat betapa nyamannya dia berada dalam pelukan laki-laki paruh baya itu.
Setelah merasa tenang, Ayun mengangkat kepalanya dari paha sang ibu. Dia mengusap wajahnya yang basah karena air mata, bisa-bisanya dia menangis sampai sesenggukan seperti itu di hadapan semua orang. Namun, entah kenapa perasaannya terasa sangat amat lega sekali.
"Oh ya, Bu. Aku ingin mengenalkan Ibu pada sahabatku dan keluarganya, mereka sudah sangat banyak membantuku selama ini," ucap Ayun sambil beranjak berdiri. Dia lalu memiringkan tubuhnya, dan melihat ke arah Nindi.
Nindi tersenyum kepada Hasna sambil melangkahkan kakinya untuk mendekati wanita paruh baya itu. "Bagaimana kabarnya, Tante?" Dia menyalim tangan Hasna, sambil bertanya kabar wanita paruh baya itu.
"Ahamdulillah baik, Nona," jawab Hasna, membuat Nindi langsung mengernyitkan kening saat mendengar panggilan yang tersemat untuknya.
Abbas ikut tersenyum simpul sambil memajukan langkahnya. Matanya menatap wanita paruh baya itu lekat-lekat. Tidak banyak yang berubah dari wajah wanita itu, mungkin hanya kerutan saja yang bertambah karena termakan usia.
"Lama tidak bertemu, Hasna," ucap Abbas, membuat semua orang refleks melihat ke arahnya. "Bagaimana kabarmu? Sudah puluhan tahun kita tidak bertemu setelah hari itu." Lirihnya membuat senyuman Hasna berubah menjadi getir.
Semua orang menatap Abbas dan Hasna secara bergantian. Tentu saja dengan penasaran dan dipenuhi tanda tanya, karena sepertinya mereka sudah saling kenal di masa lalu.
"Benar, Tuan. Sudah sangat lama sekali saat terakhir kali kita bertemu, kalau gitu silahkan duduk," ucap Hasna sambil mempersilahkan Abbas dan yang lainnya untuk duduk.
Dengan sigap Abbas berjalan ke arah sofa dan duduk di sana, sementara Nindi dan Keanu saling pandang saat melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
Ayun yang merasa bingung hanya bisa diam saja saat melihat interaksi antara Abbas dan ibunya, dia sendiri tidak pernah mendengar jika ibunya punya kenalan di kota ini.
Hasna yang paham arti tatapan semua orang hanya bisa tersenyum getir. "Kenapa kalian semua diam saja?" Dia menatap ke arah anak-anaknya dan juga Ezra. "Jangan menatap bingung seperti itu, ibu memang sudah mengenal tuan Abbas. Dulu, ibu pernah menjadi pelayan di rumah beliau selama 2 tahun."
Semua orang tersentak kaget saat mendengar ucapan Hasna, terutama Ayun yang sama sekali tidak pernah mendengar jika ibunya pernah bekerja menjadi pelayan di rumah orang lain.
"Tapi kenapa Ibu tidak pernah bilang? Ibu malah mengatakan jika tidak mengenal siapa pun selain keluarga mas Evan di kota ini," ucap Ayun dengan bingung, tentu saja membuat Hasna kembali tersenyum.
"Ya, pekerjaan ibu sebagai pelayan sangat singkat. Jadi, mungkin saat itu ibu lupa mengatakannya padamu. Tapi dulu, ibu memang benar-benar bekerja dirumah tuan Abbas dan menjadi pelayan beliau," ucap Hasna memberi penjelasan.
Semua orang mengangguk paham dengan apa yang Hasna katakan, pantas saja mereka berdua saling mengenal.
Abbas sendiri terus menatap Hasna lekat-lekat, apalagi saat mendengar penjelasan wanita itu yang terasa menggelitik hatinya.
"Benar, Hasna. Pekerjaanmu memang sangat singkat, tetapi meninggalkan bekas yang sangat dalam."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1