
Setelah keharuan yang terjadi, mereka semua menikmati makan siang bersama dengan bekal yang sengaja sudah disiapkan oleh Mery.
Seolah lupa dengan apa yang terjadi, Ayun tampak bersenda gurau dengan mereka. Bahkan suara tawanya sampai terdengar keluar ruangan, membuat David dan karyawan lain yang mendengarnya berdecak kagum.
"Buk Ayun benar-benar manusia berhati malaikat," ucap salah satu karyawan, dan disetujui oleh semua orang. Jelas mereka tahu apa yang sudah Ayun alami, tetapi wanita itu tetap berdiri tegak bahkan mampu memaafkan orang-orang yang sudah menyakiti.
Setelah selesai berbicara dengan Ayun, hati Mery dan Endri terasa jauh lebih ringan. Setidaknya perasaan bersalah mereka sedikit berkurang saat melihat kondisi wanita itu, dan mereka turut bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar diwajah Ayun.
"Oh yah, aku ingin sekalian mengundang Ayah dan Ibu untuk datang ke acara pernikahan di rumah hari rabu besok," ucap Ayun saat mengingat pernikahan ibu dan papanya yang akan diselenggarakan dua hari lagi.
Mery dan Endri terkesiap saat mendengarnya. "Ka-kau mau menikah, Nak?" Mereka bertanya dengan terkejut, tetapi ada pancaran kebahagiaan juga dari sorot mata mereka.
Ayun tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. "Bukan aku, Bu. Tapi Ibu dan juga papa. Ah, maksudnya tuan Abbas, mereka akan segera menikah."
Mery dan Endri sangat terkejut saat mendengarnya, tetapi mereka turut senang saat mendengar kabar baik ini.
"Sudah banyak sekali masalah yang terjadi dalam hidupku, Bu. Tentang rumah tanggaku, kebenaran tentang ayah kandungku, juga penyakit yang harus diderita oleh ibu hingga harus menjalani operasi. Tapi sekarang semuanya baik-baik saja, aku bersyukur bisa menghadapi semuanya berkat bantuan Allah dan dukungan dari semua keluarga," ucap Ayun dengan lirih.
Mery dan Endri menatap Ayun dengan sendu. "Kau benar, Nak. Sudah banyak sekali yang terjadi dalam hidupmu, dan semua itu membentuk kepribadian yang kuat dan berani dalam dirimu. Semoga Allah senantiasa selalu melimpahkan kebahagiaan untukmu dan semua keluargamu."
Ayun langsung mengaminkan semua do'a baik yang mereka ucapkan untuknya, dia juga mendo'akan semoga segala cobaan dan masalah yang sedang menimpa keluarga Evan segera selesai.
***
Malam harinya, Ayun dan anak-anak diajak oleh Fathir dan juga Faiz untuk menghadiri sebuah undangan makan malam disebuah hotel.
Pemilik hotel itu adalah sahabat baik Fathir, itu sebabnya dia diundang ke hotel karena ada perayaan hari jadi yang ke empat tahun.
Fathir sebenarnya malas datang, untuk itulah dia mengajak Ayun dan anak-anak untuk menemaninya. Tentu saja dengan semangat, mereka menerima ajakan darinya.
"Besok aku akan ke rumah sakit untuk menemui Dokter, apa kau mau menemaniku, Ayun?" ucap Fathir saat mereka sedang menikmati makan malam itu.
Ayun melihat ke arahnya sambil mengangguk. "Tentu saja, besok aku sudah tidak masuk kantor sampai empat hari ke depan. Jadi aku akan menemaniku." Dia menyetujui ajakan Fathir.
__ADS_1
Fathir tersenyum saat mendengarnya. "Baiklah, aku akan menjemputmu nanti."
Mereka lalu sama-sama menikmati makan malam itu dengan tenang, apalagi banyak juga tamu yang menghadiri jamuan makan malam di hotel itu.
"Aku mau ke toilet sebentar," ucap Ezra sambil beranjak bangun.
"Aku ikut, Kak," seru Adel yang sejak tadi sudah menahan sesak karena ingin buang air kecil.
Mereka berdua lalu pergi dari ruangan itu menuju toilet yang ada di ujung lorong. "Wah, hotelnya sangat mewah yah Kak." Adel melihat ke sekeliling hotel yang tampak sangat mewah itu.
Ezra menganggukkan kepalanya. "Tentu saja. Hotel ini adalah salah satu hotel terbaik di kota kita, makanya fasilitasnya tidak main-main." Jelasnya pada sang adik.
Adel mengangguk paham sambil terus berjalan di samping sang kakak, tetapi matanya tetap memperhatikan ke sekeliling tempat yang memang membuatnya berdecak kagum.
Ting.
Bruk.
"Aargh!" Adel memekik kaget saat tiba-tiba ada seseorang yang keluar dari lift dan tidak sengaja menabraknya.
Adel mengangguk karena memang tidak terjadi hal buruk padanya, dan tadi dia berteriak karena terkejut akibat ditabrak oleh wanita yang saat ini sedang terduduk di atas lantai.
Ezra segera menghampiri wanita itu karena takut terjadi sesuatu. "Apa Anda tidak apa-apa, Nona?" Dia bertanya sambil menjongkokkan tubuhnya.
"A-aku tidak apa-apa. Maaf karena sudah menabrak kalian," ucap wanita itu sambil mengusap air matanya dan beranjak bangun dari lantai.
Deg.
"Ka-kau?" pekik Ezra dengan kaget.
Adel juga membulatkan kedua matanya saat melihat wanita yang sangat dia kenal itu, begitu juga dengan wanita itu yang menatap mereka dengan terkejut.
Ezra dan Adel sampai tidak bisa mengedipkan mata mereka saat melihat penampilan Sherly. Yah, wanita itulah yang tadi tidak sengaja menabrak Adel.
__ADS_1
"Se-sekali lagi maafkan aku, permisi," ucap Sherly kemudian sambil berlalu pergi dari tempat itu. Dia berlari dengan cepat agar bisa segera keluar dari hotel ini.
Ezra dan Adel terpaku dengan tatapan penuh tanda tanya melihat keadaan Sherly. Bagaimana tidak, wanita itu tampak kacau sekali dengan wajah sembab dan basah terkena air mata. Bukan hanya itu saja, mereka bahkan bisa melihat jika lengan baju wanita itu sobek, juga dibagian kancing kemejanya.
"Apa yang terjadi dengannya?" ucap Adel dengan heran.
Sama halnya dengan Adel, Ezra juga bertanya-tanya dengan apa yang terjadi pada wanita itu. Namun, dia terpikirkan tentang satu hal saat teringat dengan keadaan Sherly tadi.
"Apa wanita itu dilece*hkan?" Ezra merasa penasaran, tetapi dengan cepat dia menggelengkan kepalanya untuk tidak ambil pusing dengan urusan orang lain. Apalagi urusan wanita yang dia benci.
"Sudah lupakan saja, bukan urusan kita," ucap Ezra kemudian. Dia lalu mengajak Adel untuk segera ke toilet dan kembali bergabung dengan yang lainnya.
Setelah selesai menikmati makan malam, mereka semua berfoto ria dengan pemilik dari hotel itu. Kemudian Fathir pamit pada sahabatnya dan mengajak mereka semua untuk pulang.
"Nanti sekalian bawa pakaian untukmu dan juga Faiz, semuanya sudah diantar ke rumah," ucap Ayun dalam perjalanan pulang. Sore tadi semua pesanan pakaian dari butik sudah selesai dan diantar ke rumahnya.
Fathir mengangguk, dia lalu mulai membahas tentang pernikahan yang akan diadakan lusa mendatang, dan semuanya harus selesai seratus persen esok hari.
Pada saat yang sama, di sisi lain terlihat Sherly sedang berada di dalam taksi sambil terisak lirih. Dia mendekap tubuhnya sendiri yang sedang gemetaran karena ketakutan yang luar biasa.
Beberapa saat yang lalu, Sherly pergi ke hotel untuk mengantar sesuatu sesuai dengan perintah Damar. Tanpa berpikir hal buruk, dia terus masuk menuju lantai 5 di mana kamar itu berada.
Dengan cepat dia menekan bel kamar itu, dan seketika yang membukanya adalah Damar sendiri hingga membuatnya terheran-heran.
Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Sherly segera berbalik dan hendak pergi dari tempat itu. Namun, Damar lebih dulu menarik tangannya dan memaksa masuk ke dalam kamar tersebut.
Saat itulah Sherly dilecehkan dan dipaksa untuk melayani napsu bejat laki-laki itu. Tentu saja dia memberontak dan mencoba untuk melepaskan diri, sampai akhirnya dia berhasil keluar dari kamar itu walau tubuhnya sempat disentuh dan dicium oleh Damar hingga membuat penampilannya acak-acakan.
"Kenapa dia melakukan itu padaku, kenapa?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.