
Sherly terdiam saat mendengar ucapan sang mama, tentu saja dia akan segera menikah dengan Evan dan pindah ke rumah laki-laki itu untuk mengatur semuanya.
Setelah melakukan pemeriksaan selama beberapa jam di kantor polisi, akhirnya David masih dinyatakan sebagai saksi karena memang belum ada bukti kuat bahwa dia yang sudah mengambil berkas Evan.
"Tapi Anda tidak diperbolehkan untuk bepergian, dan diharapkan agar selalu mengikuti pemeriksaan kami dengan baik," ucap salah satu polisi yang ada di hadapan David, membuat laki-laki itu mengangguk paham.
"David!"
David lalu menoleh ke arah belakang saat mendengar panggilan seseorang, dia lalu tersenyum saat kakak sepupunya sudah sampai di tempat ini.
"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Bram, dia adalah kakak sepupu David. Tidak kandung, tetapi masih disebut dengan sepupu juga.
David beranjak dari kursi dan menghampiri sang kakak. "Aku difitnah." Dia berucap dengan geram, bahkan matanya menyorot tajam.
Bram menghela napas kasar. Padahal sudah bertahun-tahun laki-laki itu tidak membuat masalah, tetapi sekarang malah masuk kantor polisi.
"Jangan buat masalah, Vid. Kau bisa habis ditangan ayahmu,"
"Bukan aku, Kak!" bantah David dengan cepat. Dia lalu menceritakan apa yang sudah terjadi padanya, termasuk fitnahan yang Evan lakukan.
Setelah mendengar perjelasan David, Bram baru paham apa yang terjadi dan segera bicara dengan pihak kepolisian. Mereka masih harus menunggu jalannya penyelidikan, dan bisa jadi status David berubah menjadi tersangka.
"Anda tidak perlu khawatir, Pak. Kami akan melakukan penyelidikan dengan baik, dan akan memeriksa siapa saja yang masuk ke dalam ruangan itu. Juga sidik jari yang terdapat di setiap benda yang ada di sana, termasuk tempat penyimpanan benda tersebut," ucap polisi yang memeriksa David tadi, mencoba menenangkan Bram yang memang sudah dia ketahui statusnya seorang pengacara.
"Untuk apa?"
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara nyaring di tempat itu yang berasal dari pintu, membuat semua orang langsung memalingkan wajah mereka ke sumber suara.
Mata David menyalah dahsyat saat melihat keberadaan Evan, tetapi dia berusaha untuk tetap duduk diam agar amarahnya tidak lepas kendali.
Evan berjalan cepat ke arah polisi yang tadi sedang bicara, dia sedikit terkejut saat melihat pengacaranya Ayun ada di tempat itu juga.
"Kau bukannya pengacaranya Ayun?" tanya Evan dengan tajam.
Bram hanya diam sambil menganggukkan kepalanya. Dia sendiri kaget karena ternyata adik sepupunya bekerja dikantor suami dari kliennya.
"Apa kau keluarga pencuri itu?" tanya Evan kembali dengan sarkas, sambil menunjuk ke arah David.
"Kau-" David yang sudah berdiri dan bersiap melawan Evan terpaksa mengurungkan niatnya saat melihat tatapan Bram, yang melotot ke arahnya.
"Tolong hati-hati dengan ucapan Anda, Pak Evan. Saya bisa menuntut Anda nanti," ucap Bram dengan santai, bahkan mengulas senyum tipis.
Polisi itu menghela napas kasar dan segera berjalan ke hadapan Evan. "Kami harus melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dulu, Pak. Dan besok kami akan memanggil semua orang yang terkait dalam hal ini, termasuk keluarga Anda."
Evan terkesiap. "Kenapa keluarga saya juga? Tidak mungkin mereka melakukan itu." Dia membantah dengan tegas.
"Bagaimana Anda bisa seyakin itu jika keluarga Anda tidak terlibat dalam pencurian ini?" tanya Polisi itu dengan tajam. "Siapa pun bisa menjadi tersangka, bahkan ada kasus sesama keluarga saling membunuh hanya karena harta. Jadi, saya harap Anda tenang dulu dan tunggu hasil pemeriksaan dari kami." Dia berucap dengan penuh penekanan membuat Evan langsung terdiam.
Bram dan David tersenyum dengan sinis. Baru kali ini mereka melihat ada manusia yang luar biasa sok hebat seperti Evan, padahal tidak tahu apa-apa.
Evan sendiri mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Baiklah, dia akan menunggu. Kalau pun dia tidak bisa ikut pelelangan itu maka tidak jadi masalah, karena pada akhirnya David akan mengganti semua uang yang sudah dia keluarkan.
__ADS_1
Sementara itu, di tempat lain terlihat Ayun dan Yuni sedang berada di ruangan Dokter yang merawat ibu mereka. Dokter itu sengaja memanggil ke ruangan karena ingin menjelaskan tentang kondisi Hasna secara langsung.
"Ibu saya baik-baik saja 'kan, Dok?" tanya Ayun dengan khawatir, dadanya berdegup kencang saat dipanggil ke ruangan Dokter itu.
Dokter itu menghela napas kasar. "Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Buk. Kita harus segera menemukan pendonor untuk Buk Hasna, karena kondisinya semakin lemah."
Ayun dan Yuni langsung berpegangan tangan dengan erat saat mendengar ucapan Dokter. Mata mereka sudah berkaca-kaca, padahal beberapa hari ini keadaan ibu mereka terlihat baik.
"A-ambil ginjal saja saja, Dok," ucap Ayun tiba-tiba membuat Yuni langsung melihat ke arahnya.
"Mbak?" Yuni menarik tangan Ayun, dan menatap kakaknya itu dengan sendu.
Ayun sendiri menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis. Jika bukan dia, lalu siapa lagi yang akan menyelamatkan ibunya? Bahkan mencari jarum di tumpukan jerami lebih gampang dari pada menemukan pendonor ginjal sekarang.
"Itulah yang ingin saya katakan pada Anda berdua. Sebagai anak kandung pasien, kemungkinan besar kalian bisa menjadi pendonor. Tapi harus tetap melakukan pemeriksaan secara menyeluruh," ucap Dokter. Memang itulah tujuannya memanggil mereka, karena keadaan pasiennya sudah sangat mengkhawatirkan.
"Silahkan, Dok. Silahkan periksa kami. Jika ginjalku cocok, maka ambil saja," ucap Yuni. Dia juga tidak mau kalah dari sang kakak, jika bisa pun dia saja yang mendonorkannya.
Dokter itu tersenyum senang melihat anak-anak yang sangat peduli dan berbakti pada ibu seperti itu..
"Sebenarnya bukan hanya kalian saja yang ingin menjadi pendonor, tapi ada satu orang lagi yang sangat bersikeras ingin memberikan ginjalnya."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.