Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 57. Perjalanan ke Puncak.


__ADS_3

Faiz memasukkan berbagai nomor dibrangkas itu, tetapi tidak mau terbuka juga. Dia bahkan hampir menangis karena tidak berhasil membukanya, apalagi dalam keadaan panik seperti ini.


"Ya Allah, aku mohon bantu aku. Aku janji tidak akan melawan oma dan opa lagi, aku janji tidak akan bertengkar dengan papa lagi. Aku janji-" Faiz terdiam saat mengingat sesuatu. Mungkinkah sandi brangkas itu tanggal lahirnya? Dengan cepat dia memasukkan enam digit angka di hari ulang tahunnya, dan benar saja kalau brangkas itu langsung terbuka.


Faiz tercengang saat melihatnya, dia merasa tidak percaya jika sang papa menggunakan tanggal lahirnya. Namun, lupakan dulu keharuan ini dan dia harus segera mengantar obat untuk papanya.


Setelah mendapatkan obat itu, Faiz segera memasukkannya ke dalam baju dan bergegas keluar dari kamar itu.


"Faiz, apa yang kau lakukan?" tanya Alma kembali dengan terkejut. Apalagi saat melihat penampakan kamar Fathir yang sangat berantakan.


Tidak peduli dengan teriakan sang oma, Faiz terus berlari ke kamarnya dan langsung masuk ke tempat itu.


"I-ini obatnya Pa," ucap Faiz dengan tangan gemetaran, apalagi saat melihat wajah pucat papanya yang membuatnya langsung merasa takut.


Faiz lalu membantu sang papa untuk meminum tiga jenis obat yang berbeda, lalu kembali membaringkan papanya dengan pelan.


Fathir memejamkan kedua matanya sambil berusaha untuk menenangkan diri. Dia harus mengatur napas dengan baik, agar tidak tersengal-sengal seperti beberapa saat tadi.


"Astaga, kupikir aku akan lewat hari ini." Fathir benar-benar merasa sudah berada di ujung pintu dunia, dan bersiap menuju dunia lain.


Faiz masih setia berada di samping sang papa. Dia terus menatap papanya yang masih berkeringat, dan wajah sang papa masih tampak pucat.


Beberapa saat kemudian, Fathir sudah merasa lebih baik dan segera membuka kedua matanya.


"Astaga." Fathir memekik kaget saat melihat wajah Faiz tepat di atas wajahnya sendiri, membuat dia langsung beranjak duduk sambil menatap ke arah putranya dengan tajam.


"Apa Papa baik-baik saja? Napas Papa sudah membaik?" tanya Faiz dengan gusar. Dia masih merasa takut dengan apa yang terjadi beberapa saat yang lalu.


Fathir terdiam saat mendengar pertanyaan Faiz, dengan cepat dia memalingkan wajah ke arah samping karena merasa lucu melihat wajah khawatir putranya itu.


Faiz sendiri merasa terkejut dengan apa yang papanya lakukan. Dia kembali merasa gusar, mungkinkah sang papa kembali sakit?


"Papa kenapa, apa Papa sakit lagi?" tanya Faiz kembali.

__ADS_1


Fathir mencoba untuk menahan senyumannya dan kembali melihat ke arah Faiz. "Apa ini, kenapa kau sangat mengkhawatirkan papa?"


"A-apa?" pekik Faiz dengan tidak mengerti. Seketika dia tersadar dengan apa yang papanya maksud. Tanpa mengucapkan apa-apa, dia langsung naik ke atas ranjang.


"Keluar, ini kamarku!" teriak Faiz dengan kesal. Dia menarik selimutnya dengan kuat dan langsung menutupi seluruh tubuhnya sampai kepala.


Fathir tergelak melihat kemarahan sang putra, tentu saja itu semakin membuat putranya murka.


"Cepat sehat, litle boy. Minggu besokkan kita mau berkemah," ucap Fathir sebelum keluar dari kamar itu.


Faiz berdecak kesal saat mendengarnya. Dia lalu membuka selimut yang membungkus tubuhnya saat memastikan sang papa sudah keluar.


"Seenaknya aja nyuruh aku cepat sembuh, padahal yang sakit itu papa," gumam Faiz dengan kesal.


Faiz lalu mengambil ponselnya untuk memeriksa sesuatu. Dia ingin tahu obat apa yang tadi di minum oleh papanya, dan untungnya dia ingat nama-nama dari obat itu.


"A-apa ini?" Tangan Fathir gemetar saat membaca kegunaan dari obat yang diminum oleh papanya. "Se-serangan panik?" dia terus membaca artikel itu sampai habis walau merasa sangat kaget dan tidak percaya.


*


*


"Barang-barangmu tidak ada yang ketinggalan 'kan, Adel?" tanya Ayun sambil membenahi topi yang dipakai oleh putrinya.


Adel menggelengkan kepalanya. "Semua udah dibawa kok, Bu." Dia menyandarkan tubuhnya ke dinding.


Ayun menganggukkan kepalanya. Dia lalu saling bertegur sapa dengan para orang tua yang lain, sementara Adel bersama dengan teman-temannya.


Tidak berselang lama, semua mata tertuju pada sosok yang sedang berjalan ke tengah lapangan bersama dengan putranya.


Ayun yang sedang asyik bercerita terpaksa menoleh ke belakang karena semua orang sibuk menatap ke satu arah, dan betapa kagetnya dia saat tiba-tiba seorang lelaki berdiri tepat di hadapannya.


"Astaghfirullah. Tu-tuan Fathir?" ucap Ayun dengan tergagap. Jantungnya berdegup kencang karena merasa terkejut dengan keberadaan laki-laki itu.

__ADS_1


"Anda ikut juga?" tanya Fathir dengan wajah datarnya.


Ayun mengangukkan kepala. "Tentu saja, Tuan. Saya pikir malah Anda yang tidak ikut."


Fathir mengernyitkan kening saat mendengar ucapan Ayun, sementara orang-orang yang melihat interaksi mereka tampak berbisik-bisik ria.


"Kenapa Anda pikir saya tidak ikut?" tanya Fathir dengan tajam.


"Em ... saya pikir Anda sedang sibuk bekerja," jawab Ayun dengan bingung. Sebenarnya tidak ada alasan apapun saat dia mengatakan hal seperti itu.


"Jika saya tahu Anda ikut, Anda bisa menjadi wali anak saya."


"Hah?" Ayun merasa tidak mengerti dengan apa yang sedang Fathir katakan, sementara Adel hanya diam sambil melirik ke arah Faiz yang sibuk berbincang dengan teman-teman lucknutnya.


"Ayo, kita masuk! Busnya sudah mau berangkat," ajak Fathir yang langsung berbalik dan masuk ke dalam bus.


Ayun terus menatap ke arah Fathir dengan tidak mengerti, sungguh dia susah sekali memahami apa yang laki-laki itu katakan.


"Ayo, Bu! Aku gak mau duduk paling belakang," ajak Adel sambil menarik tangan sang ibu.


Semua siswa dan juga orang tua dipersilahkan untuk masuk ke dalam bus. Ada 4 bus yang disiapkan untuk semuanya, jadi setiap orang bisa duduk dengan nyaman.


Fathir duduk tepat di sebrang Ayun bersama dengan kepala sekolah, semua orang bahkan heran kenapa kepala sekolah sampai ikut dalam perjalanan seperti ini.


Ayun lalu memutuskan untuk memeriksa beberapa email yang dikirim oleh David. Padahal hari ini adalah weekend, tetapi masih saja ada pekerjaan yang harus di siapkan.


Fathir sendiri terus melirik ke arah Ayun tanpa mempedulikan ocehan kepala sekolah itu, membuat Faiz yang duduk tepat di belakangnya ikut melihat ke arah wanita tersebut.


"Loh, itukan perempuan yang ketemu di toko perhiasan waktu itu?" gumam Faiz saat melihat wajah Ayun. Pantas saja wanita itu membelikan cincin yang dia inginkan, rupanya wanita itu memang mengincar papanya. "Lihat saja, aku akan mengawasinya."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2