
Ayun menjadi bingung sendiri. Dia merasa takut jika apa yang nantinya dia katakan akan membuat pertengkaran antara ayah dan anak itu. Lagi pula, untuk siapa Faiz membeli cincin dengan harga sepuluh juta?
"Anda melamun?"
Ayun terkesiap saat mendengar suara Fathir. "Ma-maaf, Tuan. Apa Anda tidak akan ikut merayakan ulang tahun Nindi?" Dia memutuskan untuk tidak mengatakannya karena tidak mau terlibat terlalu jauh.
"Saya ada acara keluarga, kalau gitu saya permisi," pamit Fathir. Dia lalu melangkah pergi diiringi tatapan Ayun sampai masuk ke dalam mobil.
Setiap tahun, Fathir memang tidak pernah merayakan ulang tahun Nindi. Dia memang akan menyiapkan pesta kejutannya, tetapi akan langsung pulang begitu selesai.
Setelah melihat kepergian Fathir, Ayun bergegas menuju kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Apalagi semua orang sudah menunggunya sejak tadi.
Tidak berselang lama, Keanu dan Nindi pulang ke rumah itu. Keanu sengaja membawa sang istri pergi agar yang lain bisa menyiapkan kejutan ulang tahun, pastinya tanpa sepengetahuan istrinya.
"Loh, kok lampu di kolam mati, Mas?" ucap Nindi saat mereka melewati pintu samping yang terhubung langsung ke kolam, dan melihat tempat itu gelap gulita.
"Mungkin Bik Ina lupa ngidupkannya. Tunggu di sini, biar aku hidupkan," sahut Keanu sambil berjalan masuk ke area kolam di mana semua orang sedang bersembunyi di sana.
Walau gelap, Keanu sudah hapal betul di bagaimana saklar lampu berada. Namun, sebelum menghidupkannya. Tentu saja dia lebih dulu memberi kode pada yang lainnya untuk bersiap sambil menyalakan lilin dari balik pintu, agar tidak terlihat oleh sang istri.
Nindi yang masih menunggu di depan pintu merasa heran kenapa lampu belum hidup juga. "Apa kau baik-baik saja, Mas? Apa saklar lampunya tidak ketemu?" Dia bertanya sambil melangkahkan kaki untuk masuk ke area tersebut.
"Ke sinilah, Sayang. Aku tidak bisa menemukan saklarnya," pinta Keanu dengan berbohong.
Nindi mengernyitkan kening heran, tetapi dia tetap melangkah masuk ke dalam area tersebut. "Saklarnya ada di-"
Blar.
Begitu Nindi menginjakkan kakinya di area kolam, seluruh lampu yang ada di tempat itu langsung menyala secara bersamaan membuatnya tersentak kaget.
"I-ini-" Kedua mata Nindi terbelalak lebar saat melihat hiasan-hiasan yang memenuhi area kolam. Tampilannya sangat cantik dan juga mewah, benar-benar membuatnya terperangah dan tidak bisa mengedipkan kedua mata.
"Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun."
Semua orang yang berada di tempat itu keluar dari tempat persembunyian mereka sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun, begitu juga dengan Keanu yang saat ini berada tepat di hadapan Nindi dengan memegang sebuah kue.
Nindi menutup mulutnya dengan kedua tangan saat melihat apa yang semua orang lakukan. Perasaan kaget, senang, dan terharu bercampur jadi satu dalam hatinya.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun Nindi kami, selamat ulang tahun."
Nyanyian dari semua orang disertai tepukan tangan yang sangat meriah masih menggema di tempat itu, membuat air mata Nindi tidak bisa lagi di tahan.
Semua orang memberikan kejutan dengan sangat antusia. Mulai dari Abbas, Ayun dan keluarganya, juga keluarga Keanu turut hadir untuk merayakan hari kebahagiaan Nindi.
"Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga."
Keanu memajukan kue ke hadapan sang istri saat mendengar orang-orang menyanyikan tiup lilin. "Jangan menangis, Sayang. Ini adalah hari bahagiamu."
Nindi menatap Keanu dengan mata berkaca-kaca, sungguh mendapatkan suami seperti laki-laki itu adalah anugerah terbesar dalam hidupnya. Seorang suami yang selalu menemaninya berjuang, bahkan Keanu tidak pernah mengeluh tentang keadaannya.
"Tiup lilinnya, Sayang," ucap Keanu kemudian.
Nindi menganggukkan kepalanya lalu meniup lilin yang ada di kue tersebut, membuat semua orang bersorak dengan bahagia.
"Selamat ulang tahun, Sayang. Putriku yang cantik," seru Abbas dengan mata berkaca-kaca.
Nindi langsung menghampiri sang papa lalu memeluknya dengan erat. "Terima kasih sudah merawat dan membesarkan Nindi, Pa." Dia terisak.
Abbas menganggukkan kepalanya dan berusaha untuk menenangkan sang putri. Dia lalu merangkul tubuh Nindi dan membawanya ke area dekat kolam di mana ada tumpeng, dan berbagai macam makanan di sana.
Nindi menganggukkan kepalanya dan memotong puncak tumpeng itu dengan rasa syukur yang teramat besar. Dia lalu mengucapkam banyak terima kasih pada semua orang yang sudah merayakan semua ini, khususnya untuk suami tercinta.
"Alhamdulillah, Allah masih memberikan umur padaku sampai hari ini. Dia memberikanku ayah yang sangat hebat, suami yang sangat setia dan penuh cinta, juga keluarga seperti kalian semua yang dipenuhi dengan kasih sayang. Allah bahkan memberikan kesembuhan padaku melalui pengorbanan yang telah kakakku lakukan, sungguh tidak tidak ada hal lain yang lebih membahagiakan dari semua ini. Terima kasih, terima kasih banyak," ucap Nindi dengan sesenggukan.
Keanu yang berada di samping Nindi langsung memeluk tubuh istrinya itu dengan erat. Beberapa kali dia mengecup puncak kepala sang istri dengan sayang, membuat semua orang menyorakinya.
"Dasar Keanu, dia selalu seperti itu tidak pada tempatnya," ucap lelaki paruh baya bernama Thomas sambil menggelengkan kepalanya.
Hasna yang mendengar ucapan lelaki itu beralih melihat ke arahnya. "Mereka terlihat sangat harmonis, Tuan." Dia berucap dengan ramah.
Thomas tersenyum untuk menanggapi ucapan wanita itu. "Benar, hanya saja itu tampak menyebalkan dimataku." Dia merasa iri dengki. "Oh ya, Anda ibu dari kakaknya Nindi, 'kan?"
Hasna menganggukkan kepalanya. "Benar, Tuan. Nama saya Hasna, saya dengar dari Keanu jika Anda adalah paman yang sangat dia sayangi."
Thomas berdecih saat mendengar ucapan Hasna, tetapi raut kebahagiaan diwajahnya tidak bisa untuk ditutupi.
__ADS_1
"Anak itu suka sekali membual, padahal setiap hari dia selalu memancing keributan," tukas Thomas. "Oh yah, tidak perlu bicara formal padaku. Panggil saja aku Thomas, sepertinya umur kita tidak jauh berbeda."
Hasna mengangguk paham dan memutuskan untuk memanggil Thomas dengan sebutan mas, dia merasa sungkan jika langsung memanggil dengan sebutan nama.
Mereka berdua lalu saling mengenalkan diri dan bercerita tentang hal yang lainnya, tanpa sadar jika sejak tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikan.
"Apa yang orang tua itu bicarakan dengan Hasna?" gumam Abbas dengan tidak suka, padahal dia jauh lebih tua dari seseorang yang dia katai orang tua.
Keanu yang mendengar gumaman sang mertua menahan senyum. "Sejak kapan paman dan bibi Hasna akrab seperti itu?" Dia sengaja mengucapkannya untuk memanaskan suasana, membuat Abbas langsung menoleh ke arahnya. "Astaga, apa wanita yang dimaksud paman adalah bibi Hasna?"
"Apa maksudmu?" tanya Abbas dengan tajam, terlihat jelas kobaran api dari sorot matanya.
Keanu lalu menceritakan jika semalam pamannya mengatakan jika ingin menikah lagi, supaya ada yang mengurusnya setelah kematian sang istri tercinta 3 tahun yang lalu.
Abbas mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Seenaknya saja laki-laki itu mau menikahi Hasna, langkahi dulu mayatnya.
Keanu menahan tawa yang akan pecah dimulutnya saat melihat wajah sang mertua merah padam, apalagi mertuanya itu langsung bergegas mendekati sang paman yang masih asyik mengobrol dengan bibi Hasna.
"Dasar orang-orang tua ini, ada-ada saja tingkahnya," gumam Keanu sambil tergelak karena merasa lucu.
Setelah mendengar pengakuan Keanu, Abbas langsung melangkahkan kakinya untuk mendekati dua orang yang berhasil membuatnya murka.
"Hasna!"
Hasna yang sedang tertawa merasa tersentak kaget saat mendengar panggilan Abbas, begitu juga dengan Thomas.
"Tuan Abbas, ada apa?" tanya Hasna dengan heran.
Abbas menatap Hasna dengan tajam, dan tatapan itu semakin menajam saat melirik ke arah Thomas.
"Ayo, ikut aku! Katanya kau mau membantuku mencoba baju baru."
"Apa?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.