Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 46. Makan Siang Bersama.


__ADS_3

Ayun mengajak Fathir untuk makan siang di rumahnya bersama dengan ibu dan sang adik, karena memang mereka ingin mengucapkan terima kasih pada laki-laki itu secara langsung.


Fathir terdiam mendengar ajakan Ayun. Seumur hidupnya, baru sekali dia makan di rumah orang lain. Itu pun karena paksaan dari Keanu.


"Maaf, saya tidak-" Fathir menghentikan ucapannya saat tiba-tiba sebuah motor masuk ke dalam gerbang rumah Ayun dan melintas tepat di hadapannya.


Tentu saja pemilik motor itu adalah Ezra yang baru saja pulang dari kampus. Dia segera memarkirkan motornya dan langsung membuka helm yang sedang dipakai.


"Om Fathir?" ucap Ezra dengan senyum mengembang sempurna. Entah sejak kapan dia dekat dengan laki-laki itu, yang pasti dia sudah menganggap Fathir sama seperti Keanu.


"Kau baru pulang kuliah?" tanya Fathir sambil melihat ke arah Ezra.


Ezra menganggukkan kepalanya. Dia lalu menyalim tangan sang ibu, tidak lupa mengacak puncak kepala Adel membuat adiknya itu memekik tidak terima.


"Kakak, is!" pekik Adel dengan cemberut. Lihat saja bibirnya itu, sudah maju beberapa senti ke depan.


Ezra tertawa gemas saat melihat kekesalan sang adik, sementara Ayun hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah Ezra yang sangat senang membuat adiknya emosi.


Ezra lalu menghampiri Fathir yang masih berada di tempat itu. "Tumben Om ke sini, apa kakek dan om Keanu juga ada di sini?" Dia bertanya dengan antusias.


Fathir menggelengkan kepalanya. Dia lalu mengatakan jika orang-orang yang Ezra tanya ada di perusahaan, dan dia datang ke tempat ini untuk mengantarkan mobil Ayun.


Ezra mengangguk paham. Sesaat kemudian dia kembali bertanya kenapa mobil ibunya bisa dibawa oleh Fathir.


"Tanyanya nanti aja, Nak. Bawa dulu tuan Fathir ke dalam sekalian makan siang bersama kita," ucap Ayun tiba-tiba.


Jika sudah seperti ini, maka akan sangat tidak sopan sekali jika Fathir kembali menolak ajakan wanita itu. Namun, dia memang tidak terbiasa untuk makan sembarangan di rumah orang lain.


"Ayo, Om! Masakan ibuku itu super enak loh, restoran mewah aja kalah," seru Ezra dengan semangat.


Dengan sangat terpaksa, Fathir menganggukkan kepalanya dan ikut masuk ke dalam rumah itu untuk makan siang bersama dengan mereka semua. Tidak lupa dia mengirim pesan terlebih dahulu pada sang tuan, agar tidak marah jika dia datang terlambat.

__ADS_1


Ayun tersenyum senang karena Fathir bersedia untuk makan siang di rumahnya, dia lalu menemui sang ibu yang sedang berada di ruangan khusus menjahit.


"Istirahat dulu, Bu. Ini sudah siang," ucap Ayun saat sudah masuk ke dalam ruangan itu.


Hasna menganggukkan kepalanya. "Ini sudah siap, kok. Sebentar ya, biar ibu aja yang nyiapkan makan siang. Kau istirahat saja, Nak." Dia segera membereskan jahitannya.


Ayun lalu mengatakan jika sekarang Fathir ada di rumah ini dan akan makan siang bersama dengan mereka.


"Benarkah? Ya Allah, Ayun. Kenapa gak bilang dari tadi sama ibu? Kan ibu bisa nyiapin makan siang yang enak untuknya," ucap Hasna sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku juga gak tau kalau dia akan datang ke sini, Bu. Udah, Ibu temani saja tuan Fathir di depan. Biar aku yang nyiapin makan siang untuk kita," balas Ayun.


Mereka lalu menuruni tangga menuju lantai 1 di mana Fathir dan Ezra berada. Terdengar mereka sedang membicarakan soal Dhean property, dan rencana bisnis yang harus disiapkan.


Ayun langsung menuju dapur untuk menyiapkan makan siang dengan dibantu bik Jum dan juga Yuni, sementara Hasna duduk bersama dengan Fathir dan juga Ezra.


Satu jam kemudian, menu makan siang sudah tersaji lengkap di atas meja. Ada ayam teriyaki, udang saos tiram, tumis kangkung dan juga gorengan yang terlihat sangat menggugah selera.


Ayun lalu mengajak semua orang untuk makan siang bersama, begitu juga dengan Adel yang sedang berada di kamar bermain ponsel.


"Kenapa, kau tidak mau makan bersama dengan tuan Fathir?" tanya Ayun, yang dijawab dengan anggukan kepala Adel. "Dia itu laki-laki baik loh, Sayang. Kenapa kau takut begitu?" Dia merasa heran.


Adel lalu mengatakan jika wajah Fathir selalu dingin dan tidak pernah tersenyum, jadi tampak menyeramkan dimatanya.


"Jangan menilai seseorang hanya dari wajahnya saja, Nak. Setiap orang itu berbeda-beda. Mungkin tuan Fathir memang tidak suka tersenyum, tapi bukan berarti dia tidak baik. Buktinya dia sudah banyak membantu ibu, padahal dia tidak mendapat imbalan apapun. Bukankah itu artinya dia orang yang sangat baik?" ucap Ayun sambil mengusap punggung tangan Adel dengan lembut.


Adel terdiam saat mendengar ucapan sang ibu. Semua yang ibunya katakan memang benar, dan kenapa dia harus merasa takut hanya karena laki-laki itu tidak mau tersenyum?


"Aku mengerti, Bu. Maafkan aku," sahut Adel.


Ayun menganggukkan kepala, dia lalu mengajak Adel untuk turun ke bawah dan makan siang bersama dengan yang lainnya.

__ADS_1


Setelah semua orang berkumpul di meja makan, barulah makan siang itu dimulai. Tampak Ayun melayani kedua anaknya dengan cekatan, dan juga menawarkan menu yang ada di atas meja pada Fathir.


"Ayo, makannya dikenyangin, Fathir! Jangan malu-malu," ucap Hasna.


Beberapa saat yang lalu dia sudah mengobrol dengan Fathir. Tidak disangka ternyata laki-laki itu tidak sedingin dan sekaku yang Ayun katakan, walau pun jarang tersenyum dan tidak terlalu banyak bicara seperti yang lain.


Fathir menganggukkan kepalanya. "Iya, Bu. Makanan ini sangat enak." Dia kembali memasukkan suapan demi suapan ke dalam mulut karena memang masakan Ayun sangat pas dilidahnya.


Ayun tersenyum senang mendengar pujian yang Fathir berikan, walau dia sempat terkejut saat laki-laki itu memanggil ibunya dengan sebutan ibu juga.


Beberapa saat kemudian, mereka semua sudah selesai menikmati makan siang dengan saling mengobrol ringan. Fathir bergegas pamit pada semua orang untuk kembali ke perusahaan, dan Ezra menawarkan diri untuk mengantarnya.


"Biar ku antar, Om. Sekalian aku mau ke toko buku," ucap Ezra.


Fathir menganggukkan kepalanya. Dia lalu berjalan keluar dengan diikuti oleh Ezra dan Ayun yang berniat untuk mengantar kepergiannya.


"Hati-hati dijalan, Nak. Jangan ngebut-ngebut," ucap Ayun saat Ezra menyalim tangannya dan pamit untuk pergi.


"Kalau gak ngebut, ya kapan sampainya, Bu," sahut Ezra yang langsung mendapatkan cubitan dari sang ibu, membuatnya memekik kesakitan.


Ayun lalu memarahi dan memelototi Ezra karena putranya itu tidak bisa dibilangin, selalu saja kencang-kencang kalau membawa motor padahal semua itu sangat membahayakan.


Ayun lalu beralih melihat ke arah Fathir saat sudah selesai memarahi Ezra. "Terima kasih karena sudah bersedia untuk makan siang bersama kami, Tuan. Hati-hati dijalan."


Fathir tersenyum tipis mendengar ucapan Ayun, membuat wanita itu terkesiap karena baru pertama kali melihat senyumannya.


"Masakan Anda sangat enak. Benar kata Ezra, makanan restoran pasti kalah dengan rasa makanan buatan Anda."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2