
Fathir terdiam saat mendengar ucapan seseorang disebrang telepon. Namun, sesaat kemudian dia tertawa sinis membuat laki-laki yang meneleponnya merasa merinding.
"Kenapa kau mengatakannya padaku, apa kau pikir aku peduli?" ucap Fathir dengan sarkas.
Laki-laki itu terdiam, saat ini dia sedang berada di rumah sakit karena mendapat kabar dari polisi bahwa Fathan melakukan percobaan bunuh diri.
"Aku hanya ingin memberitahukannya padamu, Fathir. Biar bagaimana pun dia-"
"Aku tidak peduli. Berhenti meneleponku hanya karna laki-laki itu!" sahut Fathir dengan penuh penekanan. Dengan cepat dia mematikan panggilan itu dan melemparkan ponselnya ke atas ranjang.
Seketika perasaannya langsung berubah kacau hanya karena perkataan laki-laki itu, padahal sesaat yang lalu dia benar-benar merasa sangat bahagia.
"Kenapa aku harus peduli padanya? Bagiku, dia sudah mati!" gumam Fathir dengan tajam.
Fathir lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk mendinginkan kepalanya. Dia tidak ingin terbakar emosi, apalagi hanya karena laki-laki yang sudah menghancurkan hidupnya, dan laki-laki itu adalah kakak kandungnya sendiri, sungguh miris sekali.
Beberapa saat kemudian, Fathir keluar dari kamar mandi saat sudah merasa lebih baik. Dia kembali mengambil ponselnya untuk memeriksa sesuatu, dan sebuah senyum tipis kembali terukir diwajahnya saat membaca pesan seseorang diaplikasi hijau.
"Kami sudah sampai, Fathir. Selamat istirahat."
Hati Fathir terasa lega saat membaca pesan Ayun, dia lalu memberikan balasan untuk pesan singkat itu.
"Syukurlah. Selamat istirahat juga, Ayun."
Fathir ingin menyematkan emoticon love di ujung kalimatnya, tetapi dia mengurungkan niat itu saat merasa jika itu terlalu lebay.
Sementara itu, di sisi lain tampak Ayun sedang membaca balasan pesan dari Fathir. Sebuah senyum manis juga tersungging diwajahnya. Kemudian dia meletakkan ponsel itu ke atas nakas, dan berlalu tidur karena malam sudah larut.
*
*
Keesokan harinya, seperti biasa semua orang tampak sibuk mempersiapkan diri masing-masing. Ada yang pergi bekerja, dan ada juga yang pergi ke sekolah.
"Akhirnyaaa," teriak Adel dengan semangat sambil menuruni anak tangga membuat semua orang menggelengkan kepala mereka, dia merasa senang karena hari ini adalah hari terakhir ujian.
"Duduklah dan makan sarapanmu, Nak. Nanti telat ke sekolah loh," ucap Ayun sambil menata makanan ke atas meja.
Adel mengangguk sambil duduk di samping sang kakak yang juga sudah terlihat rapi. "Kakak mau ke kampus?" Dia bertanya sambil mengamati penampilan sang kakak dari atas sampai bawah, dan tampak tidak seperti biasanya.
Ezra menggelengkan kepalanya sambil memasukkan sesuap nasi goreng ke dalam mulut. "Hari ini kakak ada acara, jadi enggak ke kampus." Dia menjawab dengan mulut penuh makanan.
Ayun langsung menegur Ezra yang bicara dengan mulut penuh seperti itu. Selain tidak sopan, dikhawatirkan nanti bisa tersedak jika makan sambil bicara.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Abisnya aku sedang buru-buru," ucap Ezra sambil cengengesan membuat sang ibu menghela napas kasar.
"Nanti kau bisa tersedak, Ezra," sahut Angga yang juga sedang menikmati sarapan bersama dengan mereka.
Ezra menganggukkan kepala sambil terus menyantap makanan yang ada di hadapannya, setelah itu dia bergegas pamit pada semua orang untuk pergi.
"Hati-hati dijalan, Ezra. Jangan ngebut-ngebut," teriak Ayun saat Ezra sudah berlari keluar rumah.
"Iya, Bu," sahut Ezra sambil melambaikan tangannya pada sang ibu membuat semua orang menatap dengan terheran-heran.
"Memangnya dia mau ke mana, Ayun?" tanya Hasna yang baru bergabung dengan mereka.
"Entahlah, Bu. Dia cuma bilang mau ke pesta temannya," jawab Ayun, dia lalu kembali menikmati sarapan yang sempat tertunda.
Hasna mengangguk-anggukkan kepalanya, dia lalu menatap ke arah semua orang seakan ingin mengatakan sesuatu pada mereka.
"Ada apa, Bu? Apa Ibu ingin menceritakan tentang makan malam bersama tuan Abbas tadi malam?" tanya Yuni dengan penuh sindiran membuat semua orang tampak menahan tawa.
Hasna membulatkan matanya ke arah Yuni. "Kau ini yah, suka sekali mengejek ibu." Dia sebenarnya merasa malu.
"Aku tidak mengejek loh Bu, aku kan cuma pengen tahu apa yang Ibu lakukan bersama dengan tuan Abbas," balas Yuni dengan ambigu, membuat Angga langsung mencubit lengannya. "Aw, apa sih Mas? Sakit loh." Dia mengusap lengannya yang berdenyut.
"Kau ini ngomong apa sih Dek, gak lihat masih ada Adel di sini?" ucap Angga dengan tajam, membuat Yuni ber-oh ria karena baru sadar jika masih ada Adel.
Yuni menatap sang ibu dengan tidak percaya, sementara Ayun sendiri hanya diam sambil menahan kelucuannya saat melihat wajah sang ibu.
Melihat reaksi Yuni seperti itu, Hasna jadi mengurungkan niatnya untuk memberitahu perihal lamaran yang Abbas lakukan, mungkin dia bisa mengatakannya besok saat semuanya kembali berkumpul.
Setelah selesai sarapan, Ayun berangkat ke kantor bersama dengan Adel karena sekalian mengantar gadis itu ke sekolah. Tampak suasana sekolah sudah ramai, apalagi masa ujian seperti ini pasti para murid datang lebih cepat dari hari biasanya.
"Lancar untuk ujiannya yah, Sayang," ucap Ayun sambil mengusap puncak kepala Adel.
Adel mengangguk lalu menyalim tangan sang ibu. "Iya, Bu. Aku masuk dulu, assalamu'laikum."
"Wa'alaikum salam, Nak," sahut Ayun sambil tersenyum menatap kepergian Adel. Dia berdo'a semoga hari ini putrinya itu dapat menjawab semua soal ujian dengan lancar dan benar.
Ayun lalu melanjutkan perjalanannya menuju kantor setelah memastikan Adel sampai di sekolah. Hari ini dia akan meninjau pakerjaan dengan David di lapangan, itu sebabnya dia harus pergi lebih pagi agar bisa mempersiapkannya.
Beberapa saat kemudian, Ayun sudah sampai di tempat tujuan dan segera masuk ke dalam kantor.
Beberapa karyawan yang sudah datang tampak menyapanya dengan ramah, begitu juga dengan David yang sudah menunggu di depan ruang kerjanya.
"Selamat pagi, Buk," sapa David dengan ramah.
__ADS_1
Ayun mengangguk sambil membalas sapaan laki-laki itu. "Sepertinya aku tidak bisa datang lebih cepat darimu yah, David. Selalu saja kau yang lebih dulu datang."
David tergelak saat mendengar ucapan Ayun. Padahal wanita itu sudah datang lebih cepat dari biasanya, tetapi tetap saja dia yang sampai lebih dulu.
"Rumah saya kan lebih dekat dari sini, Buk. Tentu saja saya yang selalu datang duluan," sahut David.
Ayun mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya sejak dulu David memang karyawan yang sangat disiplin, itu sebabnya karyawan lain jadi takut jika datang sedikit terlambat.
Mereka kemudian masuk ke dalam ruangan Ayun dan mulai membahas pekerjaan yang akan ditinjau pada hari ini, yaitu sebuah proyek pembangunan apartemen yang bekerja sama dengan mitra yang dikenalkan oleh Fathir.
Tepat pukul 11 siang, Ayun dan David pergi menuju lokasi proyek untuk melihat progresnya secara langsung. Namun, sebelum itu mereka berhenti di sebuah kedai makanan cepat saji karena Ayun ingin membeli sesuatu untuk para pekerja.
"Kau ingin makan apa, David? Biar sekalian dipesan," tanya Ayun sambil memperhatikan menu makanan yang ada di hadapannya.
David tersenyum. "Seharusnya kan saya yang pesan, Buk. Ini malah Ibuk yang bekerja keras."
"Bekerja keras apanya? Cuma pesan saja kan," sahut Ayun sambil menggelengkan kepalanya.
David menghela napas kasar, bosnya yang satu ini memang terlalu baik. Sangking baiknya, terkadang mereka sampai bertukar peran, yang mana bos dan mana asisten.
Ayun lalu memesan semua makanan yang akan dia bawa, tidak lupa pesanan David juga beserta dengan minumannya.
"Buk Ayun!"
Tanpa sengaja, Ayun bersenggolan dengan seorang pelayan yang sedang membawa makanan pada saat berbalik dan hendak kembali ke tempat duduk.
David yang melihatnya dengan cepat menarik tubuh Ayun sebelum tersiram kopi, sampai tidak sengaja membuat tubuh mereka saling berdekatan.
Deg.
Ayun tersentak kaget saat berada tepat di depan tubuh David, begitu juga dengan David yang saat ini sedang menatap Ayun dengan tajam.
Untuk beberapa detik mereka berada dalam posisi seperti itu, sampai tidak sadar ada dua pasang mata yang memperhatikan dari kejauhan.
"Apa yang mereka lakukan?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1