Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 103. Sejak Dulu Dia Tidak Berubah.


__ADS_3

Farhan sangat syok saat mendengar ucapan Faiz, sementara Alma hanya bisa menangis dengan tersedu-sedu saat mengetahui fakta jika putranya sedang tidak baik-baik saja.


"Maafkan mama, Nak. Maafkan mama," ucap Alma dengan lirih.


Seluruh tubuh Farhan seketika lemas saat mengetahui tentang kebenaran putranya. Selama ini dia berpikir jika Fathir sudah baik-baik saja, apalagi laki-laki itu sudah membuka hati untuk seorang wanita.


Namun, ternyata selama ini merekalah yang tidak mengetahui penderitaan putra mereka sendiri. Mereka benar-benar orang tua yang sangat kejam.


"Aku tahu kalau Oma dan Opa sangat menyayangi papa, tapi aku mohon jangan membuat masalah lagi dengannya. Papa, papa akan menjadi gila jika kalian terus melakukan itu." Lirih Faiz.


Alma langsung memeluk tubuh Faiz saat mendengarnya. Dia terus mengucapkan kata maaf karena tidak pernah tahu tentang hal ini, dan berjanji akan membantu Fathir untuk keluar dari rasa takut dan cemas secara berlebihan.


Faiz merasa lega saat mendengarnya. Memang kejujuran adalah sesuatu yang paling tepat untuk dilakukan, karena semua masalah akan selesai jika berkata dengan jujur.


Setelah mengetahui tentang apa yang terjadi dengan Fathir, Alma dan Farhan bergegas pergi ke rumah sakit untuk berkonsultasi dengan Dokter, sekaligus untuk bertemu dengan Fathan.


Sementara itu, di tempat lain terlihat seorang wanita sedang duduk di samping ranjang putrinya. Saat ini dia sudah bisa menjenguk gadis kecil itu karena sudah bisa mengendalikan diri.


"Mama datang, Sayang. Kapan Suci mau bangun?" ucap Sherly dengan lirih. Sudah lebih dari seminggu putrinya tidak kunjung sadar.


Setelah waktu menjenguk habis, Sherly bergegas keluar dari ruangan itu dan duduk di kursi yang ada di depan ruangan Suci. Dia mengusap air mata yang kembali menetes membasahi wajah.


"Pergilah, aku akan menjaganya di sini."


Sherly mendongakkan kepalanya saat mendengar suara Evan, dia lalu mengangguk dan beranjak dari kursi.


"Tolong kabarin aku jika Suci sadar," pinta Sherly.


Evan menganggukkan kepalanya, kemudian dia gantian menjaga Suci karena Sherly harus bekerja untuk memenuhi kehidupan wanita itu sendiri.


"Hah." Evan mengusap wajahnya dengan kasar sambil menatap ruangan Suci. "Aku harus mulai menjalankan coffee shop itu, tapi siapa yang akan menjaga Suci?" Dia merasa bingung.


Demi memenuhi kebutuhan keluarganya, Evan harus tetap bekerja dan membuka usaha yang sudah dia rencanakan. Seminggu terakhir ini, dia sudah merenovasi beberapa tempat yang ada dalam bangunan itu.


Segela persiapannya juga sudah selesai, hanya tinggal menunggu waktu untuk membukanya saja.


"Aku harus membicarakan hal ini dengan Sherly," gumam Evan.


Sherly yang sudah sampai di tempat kerjanya bergegas untuk mengerjakan pekerjaan yang sudah menumpuk. Dia harus bekerja dengan cepat agar bisa lebih cepat pulang untuk menjaga Suci.


"Sherly!"


Sherly menghentikan pekerjaannya saat mendengar panggilan seseorang. "Ya, Pak?" Dia menjawab sambil beranjak dari kursi.


"Ke ruanganku sekarang," perintah laki-laki bernama Damar, dia adalah suami dari atasan Sherly.


Sherly mengernyitkan kening bingung saat mendengarnya, tetapi mau tidak mau dia harus mengikuti perintah.


"Maaf, Pak? Ada yang harus dikerjaan?" tanya Sherly saat sudah masuk ke dalam ruangan Damar.


Damar memperhatikan penampilan Sherly dari atas sampai bawah, dan jujur saja jika dari awal dia memang sudah tertarik dengan wanita itu.


Sherly merasa risih ditatap seperti itu oleh serang laki-laki. "Maaf, Pak. Jika tidak ada, maka saya-"


"Antar pesanan ini nanti malam ke hotel Andaran," ucap Damar sambil memberikan kotak berukuran sedang pada Sherly.

__ADS_1


Sherly terdiam saat melihatnya. Dia bekerja dengan Mona, tetapi kenapa suami bosnya itu yang selalu menyuruh-nyuruhnya?


"Maaf, Pak. Saya tidak bisa mengantarnya," tolak Sherly. Seenaknya saja laki-laki itu menyuruhnya ke sana sini, sementara masih banyak pekerjaan yang harus dia lakukan.


Damar menggeram marah. "Tidak ada karyawan yang membantah ucapan bosnya, kau mau ku pecat?"


Sherly terkesiap. "A-apa maksud Anda?" Dia merasa tidak terima.


Damar tersenyum tipis. "Kalau kau tidak mau mengukuti perintahku, maka aku akan mengadukanmu pada Mona. Lalu kau akan dipecat."


Dengan cepat Sherly menggelengkan kepalanya. "Ba-baiklah. Saya akan mengantar paket itu." Dia terpaksa setuju dari pada dipecat.


Kemudian Sherly kembali melanjutkan pekerjaannya dengan perasaan kesal. Lihat saja, suatu saat nanti dia pasti akan membalas perbuatan laki-laki itu.


Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat Ayun sedang sibuk dengan semua pekerjaannya. Dia harus segera menyelesaikannya sebelum pesta penikahan kedua orang tuanya diselenggarakan.


Tok, tok. "Permisi, Buk."


"Masuk," ucap Ayun saat mendengar suara dibalik pintu tanpa memalingkan pandangannya dari pekerjaan.


"Minum dulu, Buk," ucap David sambil meletakkan secangkir kopi ke atas meja.


Ayun tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Terima kasih, David." Dia menatap laki-laki itu sekilas, lalu kembali fokus dengan pekerjaan.


David mengangguk lalu kembali ke ruangannya. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar panggilan seseorang.


"Maaf, Pak. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan buk Ayun," ucap wanita yang merupakan salah satu karyawan Ayun.


David mengernyitkan kening, tidak biasanya ada yang mencari Ayun tanpa melaluinua. "Memangnya siapa yang mau bertemu?" Dia bertanya dengan heran.


"Hah?" David terkesiap saat mendengarnya. Kenapa pula orang tua Evan datang ke tempat ini dan mencari Ayun?


Dengan cepat David berjalan keluar untuk menemui orang tuanya Evan itu, dan benar saja. Dia melihat kedua orang tua Evan sedang duduk di ruang tunggu.


"Permisi," ucap David saat sudah berada tidak jauh dari mereka, membuat Mery dan Endri langsung menoleh ke arah kanan.


Dengan serentak pasangan suami istri itu beranjak dari kursi saat melihat kedatangan David. "Maaf kalau kami mengganggu pekerjaanmu, David." Endri berkata dengan sungkan.


David mengangguk sambil mengulas senyum tipis, biar bagaimana pun kedua orang tua Evan itu selalu memperlakukannya dengan baik.


"Ada apa Om, Tante? Apa Om dan Tante ingin bertemu dengan Buk Ayun?" tanya David.


Mery menganggukkan kepalanya. "Benar, David. Sebenarnya kami tidak pantas datang ke sini hanya karena masalah pribadi, dan kami tidak tahu di mana sekarang Ayun tingga. Jadi kami memutuskan untuk ke sini."


David kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, sepertinya ada hal penting yang ingin mereka katakan pada Ayun. Namun, kenapa tidak melalui telepon saja?


"Apa kami bisa menemuinya?" tanya Mery kemudian.


David lalu meminta mereka untuk menunggu sebentar karena dia harus bertanya dulu pada Ayun, apalagi saat ini bosnya itu sedang dalam keadaan sibuk.


Dia lalu kembali pergi ke ruangan Ayun untuk mengatakan perihal kedatangan Mery dan Endri, tentu saja ucapannya itu membuat Ayun merasa terkejut.


"Mereka ada di sini?" tanya Ayun dengan kaget.


David menganggukkan kepalanya, kemudian dia bergegas keluar saat mendapat perintah dari Ayun.

__ADS_1


"Silahkan Om, Tante. Saya akan mengantar Anda ke ruangan Buk Ayun."


Mery dan Endri mengangguk senang saat mendengarnya. Sambil membawa bekal makan siang yang sengaja sudah disiapkan, mereka berjalan mengikuti David untuk bertemu dengan Ayun.


"Silahkan," ucap David sambil membuka pintu ruangan Ayun.


Mery dan Endri mengucapkan terima kasih pada David, lalu melangkah dengan pelan untuk memasuki ruangan itu.


"Ibu, Ayah," seru Ayun dengan senyum lebar membuat Mery dan Endri terdiam di ambang pintu.


Dengan cepat Ayun menghampiri mereka. "Kenapa tidak masuk Ibu, Ayah?" Dia menyambut kedatangan mereka dengan hangat, membuat Mery dan Endri merasa sedih.


Ayun langsung menyalim tangan kedua mantan mertuanya itu, setelahnya dia mengajak mereka untuk masuk dan duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu.


"Bagaimana kabar Ayah dan Ibu?" tanya Ayun dengan ramah.


"Alhamdulillah kami sehat, Nak. Bagaimana dengan kabarmu sendiri?" balas Mery sambil tersenyum dengan hangat. Sejak dulu Ayun memang tidak pernah berubah, keramahan dan kebaikan hati mantan menantunya itu membuat mereka merasa tertampar.


"Alhamdulillah aku sehat, Bu," jawab Ayun.


Kemudian David masuk ke dalam ruangan itu sambil membawa minuman san makanan ringan, dan mempersilahkan mereka untuk menikmatinya.


"Maaf kalau kedatangan kami ini mengganggumu, Nak," ucap Endri.


Ayun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Sama sekali tidak mengganggu, Yah. Ayah dan Ibu boleh kapan saja berkunjung ke sini."


Mery dan Endri merasa terharu saat mendengarnya, apalagi saat melihat perubahan aura dalam diri Ayun serta perubahan pada wajahnya yang terlihat semakin cantik terawat.


"Ibu dan Ayah datang ke sini karena ingin bertemu denganmu, Nak. Sudah lama kita tidak berbincang bersama," ucap Mery.


Ayun menghela napas kasar. "Maaf, Bu. Aku tidak pernah berkunjung ke rumah Ibu."


"Tidak, Nak. Bukan seperti itu." Mery langsung membantah ucapan Ayun. "Kami tahu kalau kau pasti sangat sibuk, seharusnya kamilah yang menghubungimu dan juga Ezra serta Adel."


Ayun mengangguk senang. "Datanglah kapan saja ke rumah, Bu. Ibu pasti senang dengan kedatangan Ayah dan Ibu." Dia lalu memberikan alamat rumahnya pada mereka.


Mery dan Endri mengangguk sambil menerima alamat yang diberikan oleh Ayun, mereka juga sudah dengar dari Evan jika sekarang semua keluarga Ayun tinggal bersamanya.


"Kapan-kapan kami akan berkunjung ke sana, Nak. Lalu, kedatangan kami ke sini adalah untuk meminta maaf atas segala kejadian di masa lalu. Walau ucapan maaf kami ini tidak bisa mengembalikan apa yang sudah terjadi, tapi hanya inilah yang bisa kami lakukan," ucap Endri dengan getir.


Ayun menatap mereka dengan sendu, kemudian dia menggelengkan kepalanya. "Jangan seperti itu Ayah, Ibu. Semua yang terjadi sudah menjadi masa lalu, dan aku sudah melupakan semua itu. Jadi, kini saatnya untuk Ayah dan Ibu juga melupakannya. Anggaplah semua itu sebagai cobaan untuk kita, dan sekarang kita sudah berhasil melewatinya."


Mery dan Endri tertegun saat mendengar ucapan Ayun. "Terima kasih, Nak. Sungguh hatimu benar-benar mulia, Hasna pasti sangat bangga punya anak sepertimu."


Ayun lalu memeluk Mery dengan erat sambil menenangkan wanita itu. Dia tidak ingin lagi menyimpan luka maupun dendam, bukankah semua itu malah akan menghambat jalannya?


"Jika seseorang hanya terpaku pada masa lalu, lantas bagaimana mungkin dia bisa melanjutkan hidupnya di masa depan?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2