Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
Bab 53. Menghabiskan Uang Ayah.


__ADS_3

Akhirnya sampai juga Ayun di pusat berbelanjaan yang paling besar di kota itu. Terlihat Ezra dan Adel sudah menunggu kedatangannya, dan mereka langsung melambai-lambaikan tangan saat dia keluar dari dalam taksi.


"Ibu enggak apa-apa kan?" tanya Ezra dengan khawatir karena tadi meninggalkan ibunya begitu saja dengan dua manusia lucknut itu.


"Tentu saja, ibu kan kuat," jawab Ayun sambil menunjukkan otot lengannya yang padat karena sering mengangkat galon air isi ulang.


"Kalau gitu ayo kita belanja, Bu! Aku udah dapat kartunya Ayah." Adel memamerkan kartu yang berhasil dia rampas dari sang ayah, membuat Ezra dan Ayun tertawa lebar sambil menggeleng-gelengkan kepala mereka.


"Kita ke toko emas dulu ya, ada yang mau Ibu beli," ucap Ayun yang langsung mendapat anggukan dari kedua anaknya.


Dengan semangat membara untuk menghabiskan uang ayah mereka, mereka segera berjalan mulai dari toko mas sesuai dengan keinginan sang ibu.


Tanpa pilih-pilih, Ayun langsung membeli beberapa kalung emas yang bagus dengan kadar emas yang paling besar. Bukan hanya kalung, Ayun juga mengambil gelang, dan mas antam untuk tabungan masa depan.


Setelah selesai, mereka berpindah ke toko pakaian sesuai dengan apa yang Adel mau. Ezra juga tidak kalah antusias dari sang adik, dia mengambil apa saja yang dilihat bagus. Mulai dari pakaian, sepatu, sendal, topi, dan yang lainnya.


Ayun yang tidak berminat beli pakaian dipaksa-paksa oleh Adel dan Ezra. Dengan sigap mereka memilihkan pakaian untuk sang ibu yang cantik dan modern, tetapi masih menutup aurat karena ibu mereka memakai hijab.


Ayun juga membelikan beberapa pakaian untuk kedua mertuanya, juga beberapa perhiasan untuk sang ibu yang saat ini sedang berada dikampung dengan adiknya.


Setelah selesai berbelanja pakaian, mereka berpindah ke toko kosmetik untuk membeli makeup untuk sang ibu. Kebetulan ada pemilik toko itu yang merupakan dokter kulit, membuat Ezra tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memeriksakan kulit wajah sang ibu, sekaligus mencarikan makeup yang cocok yang bisa membuat semua mata melihat ke arah ibunya.


Sebenarnya wajah Ayun itu cantik dan manis. Apalagi jika tersentuh oleh makeup, jelas membuat wajahnya akam tampak 10 tahun lebih muda dari umurnya. Itu sebabnya Nia mengatakan jika Ayun dan Sherly hanya beda umur saja, tetapi kecantikan dan bentuk tubuh sama-sama bagus.


Mata Ezra dan Adel benar-benar tidak bisa berkedip saat melihat wajah sang ibu yang baru selesai di makeup oleh Dokter tersebut, padahal hanya di pakaikan bedak, lipstik, celak dan maskara saja tetapi sudah sangat pangling sekali.


"Ibu, kenapa Ibu cantik sekali? Aku ingin menikah dengan Ibu saja," seru Ezra sambil merangkul lengan sang ibu, membuat wajah ibunya merah padam karena menahan malu.


"Tutup mulutmu, Ezra. Kau membuat Ibu malu saja," ucap Ayun sambil menggelengkan kepalanya.


Adel juga tidak mau kalah, dia memuji sang ibu layaknya dewi yunani yang turun ke bumi untuk menyadarkan ayahnya yang sedang tersesat.

__ADS_1


"Jangan bawa-bawa ayah," ucap Ezra dengan tajam. "Kalau kakak mendengar kau menyebut nama ayah, kakak jadi ingin membeli semua yang ada di toko ini supaya ayah sampai jual rumah dan tanah untuk membayarnya."


Adel langsung tergelak saat mendengarnya, sementara Ayun hanya memperhatikan anak-anaknya yang tampak sangat bahagia itu.


Setelah semuanya siap, terakhir mereka pergi ke toko ponsel untuk membeli ponsel yang sama dengan yang di pakai oleh Sherly, seharga 15 juta.


Ayun yang akan menjual ponselnya dan menggantinya dengan yang lebih murah, langsung ditahan oleh Ezra. Putranya itu berkata tidak papa pakai ponsel itu, kalau suatu saat tidak punya uang baru dijual saja.


Setelah semuanya selesai, akhirnya mereka istirahat di restoran sambil menikmati makan malam. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8 malam, benar-benar sangat tidak terasa sekali jika mereka sampai hampir seharian belanja.


"Bu, kita beli rumah aja yuk!" ucap Ezra sampai hampir membuat sang ibu tersedak.


"Memangnya harga rumah itu seharga ponsel apelmu itu," cibir Ayun sambil menggelengkan kepalanya.


"Jadi, kapan Ibu mau keluar dari rumah?" tanya Ezra sambil memasukkan ayam goreng ke dalam mulutnya.


Ayun terdiam saat mendengar pertanyaan sang putra. Bukannya dia tidak mau pergi, tetapi pengacara mengatakan jika sudah ada surat dari pengadilan baru dia boleh keluar dari rumah.


Setelah selesai makan malam, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang dengan membawa banyaknya barang-barang belanjaan itu. Ayun dan adel naik taksi, sementara Ezra naik kuda besinya yang melaju cepat di jalanan.


Sementara itu, di rumah Evan sedang mondar-maondar di depan pintu menunggu kepulangan istri dan anak-anaknya. Tubuhnya sudah panas dingin saat melihat tagihan yang digunakan mereka selama satu harian ini, dan hampir saja mencapai limit 100 juta.


"Ngapain kau di sini?" tanya Mery yang akan menutup pintu, ternyata di luar masih ada Evan.


"Menunggu mereka pulang," jawab Evan dengan ketus tanpa melihat ke arah sang ibu. Kepalanya sudah berdenyut sakit sekarang.


"Tumben kau menunggu mereka pulang? Biasanya gak peduli," tanya Mery sembari memberikan cibiran.


Evan hanya diam sambil menghela napas kasar. Tidak sanggup rasanya menyebut nominal yang baru saja mereka habiskan.


Tidak berselang lama, terdengar suara dari motor Ezra yang langsung masuk ke dalam garasi. Tentu saja dengan ditatap sangat tajam oleh Evan.

__ADS_1


Dengan santai, Evan mengayunkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Dia menyalim tangan sang nenek tanpa memperdulikan sang ayah yang sudah akan menelanmya hidup-hidup.


"Mau ke mana kau?"


Ezra yang akan masuk ke dalam rumah tidak jadi melangkahkan kakinya saat mendengar suara sang ayah, dia lalu berbalik dan menatap sang ayah dengan malas.


"Mana Ibu dan adikmu?" tanya Evan dengan tajam, suaranya bahkan bisa membelah durian sangking tajamnya.


"Bentar lagi juga sampe kok," jawab Ezra, dia menyandarkan tubuhnya ke dinding yang ada di dekat pintu.


Bak pucuk dicinta ulam pun tiba, datanglah sebuah taksi yang membawa Ayun dan Adel. Sangking banyaknya barang belanjaan mereka, pak supir sampai membantu untuk menurunkannya.


"Terima kasih ya Pak," ucap Ayun yang dijawab dengan terima kasih juga karena diberi bayaran lebih dari yang seharusnya.


Ayun dan Adel lalu berjalan ke rumah dengan ditatap oleh sang penjaga, tetapi tentu saja mereka sama sekali tidak peduli.


"Be-belanjaan kalian banyak sekali, Yun?" tanya Mery dengan kaget. Tidak biasanya wanita itu belanja sebanyak ini, mungkinkah Evan marah karena ini?


"Bagus, bagus sekali kalian ya, hah!" teriak Evan membuat adel terlonjak kaget karena berada tepat di hadapannya.


"Kau benar-benar wanita yang tidak tau diri! Bagaimana mungkin kau menghabiskan uangku sampai sebanyak ini, hah?" teriaknya lagi membuat Adel langsung memeluk lengan Ayun dengan tubuh gemetaran.


"Ezra, bawa adikmu-"


"Tidak ada yang bisa masuk ke dalam rumahku! Kau, dan mereka. Jika kalian terus seperti ini dan tidak mau mendengar ucapanku, maka pergi kalian semua dari rumahku saat ini juga!"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2