
Keanu berkata dengan tajam. Dia benar-benar kesal dengan apa yang istrinya lakukan, bisa-bisanya terus memaksa agar dia mau menikah dengan wanita lain.
Nindi sendiri hanya bisa tersenyum saat melihat kekesalan sang suami. Dia hanya ingin melihat suaminya bahagai bersama dengan istri yang baik dan bisa diandalkan, bukan sepertinya yang sejak dulu hanya bisa merepotkan saja.
"Sekarang istirahatlah, aku akan memanggil Dokter," ucap Keanu sambil beranjak dari ranjang, tetapi dia tidak bisa melangkahkan kakinya karena Nindi mencekal tangannya.
"Di sini saja, Mas. Aku ingin bersamamu." Lirih Nindi. Dia ingin mendekap suaminya dengan erat, karena saat ini seluruh tubuhnya benar-benar terasa sakit.
Keanu menghela napas berat lalu kembali naik ke atas ranjang, dia berbaring di samping Nindi lalu memeluk tubuh sang istri dengan erat.
"Tidurlah, aku akan selalu di sini," ucap Keanu dengan lembut. Kecupan singkat dia labuhkan ke kening Nindi, membuat senyum lebar terbit dibibir istrinya yang pucat.
Keanu mengusap kepala Nindi dengan sayang. Tanpa sadar air mata mengalir dari sudut matanya, tetapi dia segera mengusap air mata itu sebelum sang istri melihat.
Hati Keanu terasa sangat sakit dan sesak saat mengetahui keadaan sang istri yang semakin memburuk, apalagi selama ini istrinya sudah tidak mau melakukan pengobatan apapun lagi.
Sejak pertama kali bertemu dengan Nindi sekitar 8 tahun silam, hatinya langsung jatuh cinta hanya dalam hitungan detik saja. Namun, cukup lama dia berjuang untuk mendapatkan hati wanita itu, hingga akhirnya Nindi mau menerima rasa cintanya setelah perjuangan selama 1 tahun.
Tepat di malam Keanu melamar Nindi, di malam itu juga dia mengetahui bahwa wanita itu ternyata sedang mengidap kanker darah.
Nindi mengatakan semua tentang penyakit yang dia derita, bahkan menunjukkan laporan kesehatannya agar Keanu bisa memeriksanya secara langsung. Hal itu jugalah yang selama ini membuat dia tidak mau dekat dengan seorang laki-laki, sampai akhirnya perasaan itu luluh juga dengan kehadiran Keanu.
Keanu jelas merasa kaget, dan tidak menyangka jika Nindi sedang sakit. Padahal wanita itu selalu terlihat ceria seakan semuanya baik-baik saja. Namun, hal itu tidak membuat cintanya luntur, bahkan cintanya semakin besar hingga dia langsung mengajak Nindi untuk menikah.
__ADS_1
Tahun demi tahun dilewati, selama itu juga Nindi terus menjalani pengobatan. Namun, rasa sakit yang diderita tidak juga berkurang, bahkan semakin terasa menyiksa. Berbagai cara sudah dilakukan, tetapi tidak ada yang berhasil sampai saat ini.
Akhirnya Nindi memilih pasrah, dia sudah tidak sanggup lagi untuk menjalani pengobatan yang terasa menyiksa tubuhnya, bahkan mahkota yang ada di kepalanya sudah tidak tersisa lagi akibat kemoterapi yang harus selalu dia jalani.
Nindi memilih pasrah pada takdir saat mendengar penjelasan Dokter tentang kondisi terakhirnya, dan memilih untuk hidup dengan tenang bersama dengan orang-orang yang dia sayangi sampai maut memisahkan.
Keanu mengerjapkan kedua matanya dengan kaget. Ternyata dia tidak sengaja tertidur saat sedang merenungi keadaan sang istri, dia lalu melirik ke arah istrinya untuk memastikan bahwa Nindi baik-baik saja.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Abbas sudah berada di dalam ruangan Hasna karena ingin berbicara 4 mata dengan wanita itu.
"Kalau gitu saya tinggal sebentar, Tuan," ucap Ayun yang sedang berada di ruangan sang ibu juga, dia beranjak keluar dari sana setelah melihat anggukan kepala Abbas.
"Ada apa ya, kenapa suasananya terasa berbeda?" Ayun merasa heran dengan raut wajah Abbas, apalagi laki-laki itu ingin bicara berdua dengan ibunya.
Ayun segera menjawab panggilan dari pengacaranya itu, lalu mereka terlibat pembicaraan yang cukup serius.
"Jadi, lusa adalah persidangan terakhir, Pak?" tanya Ayun dengan kaget, bagaimana mungkin proses perceraiannya bisa terjadi secepat ini?
"Benar, Buk. Tidak ada alasan lagi untuk mengulur waktu, jadi bisakah kita bertemu sekarang?"
Ayun langsung mengiyakan ajakan Bram lalu mematikan panggilan mereka. Dia bergegas ke ruangan sang adik sebentar, setelah itu baru pergi menemui Bram untuk membicarakan tentang proses perceraiannya.
Sementara itu, keheningan terjadi di dalam ruangan Hasna setelah kepergian Ayun. Baik Hasna dan Abbas sama-sama belum mengeluarkan suara, entah apa yang terjadi sehingga mereka saling berdiam diri.
__ADS_1
"Ada apa, Tuan? Apa ada hal penting yang ingin Anda katakan pada saya?" tanya Hasna, setelah sekian menit terdiam.
Abbas menatap Hasna dengan tajam. Dadanya masih saja berdegup kencang, persis saat mereka bersama dulu. "Bagaimana kabarmu?" Dia memilih untuk bertanya kabar wanita itu dulu, sebelum membicarakan sesuatu yang wanita itu sembunyikan.
"Alhamdulillah saya baik, Tuan. Terima kasih sudah bertanya," jawab Hasna dengan tersenyum. Suaranya yang lembut benar-benar membuat darah Abbas berdesir.
Abbas lalu tersenyum tipis. "Kau masih sama tenangnya seperti dulu ya, Hasna. Sangking tenangnya, kau bahkan bisa menyimpan rahasia selama bertahun-tahun lamanya."
Hasna mengernyitkan kening saat mendengar ucapan Abbas, dia merasa bingung dan tidak mengerti ke mana arah pembicaraan laki-laki itu saat ini.
"Bukankah ada sesuatu yang harus kau katakan padaku, Hasna?" tanya Abbas dengan tajam.
Hasna terdiam, mencoba untuk memahami apa yang sedang dicarakan. "Harus dikatakan pada Anda?"
"Benar. Contohnya seperti, siapa ayah kandung Ayun? Mungkin kau bisa mulai dari sana."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1