Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 142. Pertemuan Tak Terduga.


__ADS_3

Fathir lalu pamit pada kedua orangtuanya untuk pergi. Dia bergegas menuju parkiran untuk mengambil mobilnya dan segera menemui Ayun.


Ayun yang sudah berada di kafe tampak memesan minuman sembari menunggu kedatangan Fathir. Dia ingin mengatakan semua yang telah dilakukan walau laki-laki itu sudah tahu, dan juga ingin meminta maaf karena terpaksa menyembunyikan semua itu.


"Ayun!"


Ayun menoleh ke belakang saat mendengar panggilan seseorang. "Mas Evan?" Dia terkejut saat melihat keberadaan Evan.


Evan tersenyum sambil berjalan mendekati Ayun. "Kau sendirian?"


Ayun menggelengkan kepalanya. Dia lalu mengatakan jika sebentar lagi Fathir akan datang dan bergabung bersamanya.


Evan menganguk paham. "Bolehkah aku bicara sebentar denganmu?" Pintanya.


Ayun terdiam saat mendengar ucapan Evan. Sesaat kemudian dia menganggukkan kepalanya sambil mempersilahkan laki-laki itu untuk duduk.


Evan tersenyum senang dan dengan cepat duduk di hadapan Ayun, bersamaan dengan pelayan yang sedang mengantar pesanan Ayun.


"Mas mau minum apa? Biar aku pesankan," tawar Ayun.


Evan menggeleng. "Tidak usah. Aku akan pesan saat sudah selesai bicara, karena minumannya pun akan aku bawa ke rumah sakit untuk Sherly juga."


Ayun mengangguk paham. Dia lalu mempersilahkan Evan untuk bicara, karena tidak ingin membuang waktu sebelum Fathir sampai ke tempat itu.


"Aku ingin meminta izin padamu untuk menemui Ezra dan Adel, Ayun. Aku ingin menebus segala kesalahan yang telah aku lakukan," ucap Evan. "Tapi tidak apa-apa kalau kau tidak setuju, aku masih bisa menemui mereka di luar."


Ayun tersenyum. Tidak mungkin dia menghalangi seorang ayah yang akan bertemu dengan anak-anaknya sendiri, bukankah dia akan mendapat dosa? Lagi pula bukan hanya dia dan anak-anak saja yang ada di rumah, tetapi masih ada Yuni, Angga beserta anak-anak mereka.


"Aku tidak pernah melarangmu untuk bertemu dengan mereka, Mas. Silahkan datang ke rumah dan temui mereka. Hanya saja aku minta supaya kau punya banyak kesabaran, karena kau tahu sendiri bahwa mereka sangat keras," ucap Ayun.


Evan menghela napas lega, dia sangat senang mendapat persetujuan dari Ayun, dan benar apa yang wanita itu katakan. Jika sejak awal Ayun tidak pernah melarangnya untuk bertemu dengan Adel dan Ezra.


"Tidak, Ayun. Bukan mereka yang keras, tapi akulah yang tidak punya kesabaran. Lagi pula mereka pantas untuk memperlakukanku seperti itu," sahut Evan.


Ayun kembali tersenyum, dan senyumannya semakin lebar saat melihat kedatangan Fathir. "Semua orang punya kesempatan untuk berubah, Mas, dan Allah memberi kesempatan itu padamu. Semoga ketulusan hatimu bisa meluluhkan hati Adel dan Ezra, karena sesungguhnya mereka sangat menyayangimu."

__ADS_1


Evan tertegun. Dia lalu menganggukkan kepalanya. "Kau benar, Ayun. Terima kasih, terima kasih untuk semua yang telah kau lakukan padaku. Seumur hidupku aku tidak akan bisa membalas semua kebaikan yang kau beri."


Ayun ikut mengangguk. Dia sama sekali tidak pernah mengharapkan sesuatu dari orang lain, karena apa yang dia lakukan semua murni karena Allah.


"Maaf membuatmu menunggu," ucap Fathir saat sudah sampai di tempat itu membuat Evan langsung membalikkan tubuhnya.


Evan lalu beranjak dari kursi sambil tersenyum ke arah Fathir. "Senang bisa bertemu dengan Anda lagi, Tuan Fathir." Dia berucap dengan santai.


Fathir mengangguk. "Apa kalian masih ingin bicara?" Dia bertanya dengan pelan, tetapi penuh dengan penekanan.


"Tidak." Evan menggelengkan kepalanya. "Kalau gitu aku duluan yah, semoga hari kalian menyenangkan." Dia lalu menjauh dari tempat itu menuju meja pemesanan untuk memesan minuman.


Fathir mencebikkan bibirnya sambil duduk di hadapan Ayun saat Evan sudah pergi, membuat Ayun terkekeh pelan.


"Dia hanya meminta izin untuk bertemu dengan Adel dan Ezra, tidak ada yang lain," ucap Ayun tanpa ditanya.


"Tentu saja, dia tidak akan berani meminta hal yang lain padamu," sahut Fathir.


Ayun berdecih mendengar ucapan Fathir. Dia lalu kembali memanggil pelayan untuk memesankan minuman Fathir, juga makanan ringan untuk mereka.


Ayun menganggukkan kepalanya. "Aku datang ke rumah sakit untuk menemui Dokter yang merawatmu, Fathir."


"Dokter yang merawatku?" tanya Fathir dengan heran.


Ayun kembali mengangguk. Dia lalu mulai menceritakan tentang semua hal yang telah dia lakukan. Mulai dari menemui Dokter dan meminta untuk melakukan pengobatan agar Fathir bisa bertemu dengan Fathan, sampai kedatangannya hari ini juga.


"Aku juga bertemu dengan kak Fathan. Maaf karena menyembunyikan semua ini darimu," ucap Ayun setelah selesai menceritakan semuanya.


Fathir tersenyum tipis. "Aku sudah tahu semuanya, jadi kau tidak perlu minta maaf. Lagi pula tidak ada yang harus dimaafkan, bahkan seharusnya aku berterima kasih karena kau sudah sangat peduli padaku. Jika tidak, mungkin sampai sekarang aku akan tetap seperti itu saja."


Ayun tertegun mendengar jawaban Fathir, tidak ada sedikitpun kemarahan diwajah laki-laki itu walau memang sebelumnya sudah tahu.


"Sama seperti ucapanmu semalam, Fathir. Jika kau merasa bertanggung jawab untuk membahagiakanku, maka aku juga bertanggung jawab untuk membantumu menyelesaikan setiap masalah," ucap Ayun.


Fathir tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Kau benar, Ayun. Jadi, apa tadi kau juga melihatku dan Fathan bertemu?"

__ADS_1


Ayun kembali mengangguk. Namun, dia berkata jika tidak mendengar apa yang mereka bicarakan di dalam ruangan itu, dan hanya melihat dari kejauhan.


Mendengar ucapan Ayun, Fathir langsung menceritakan apa yang sudah terjadi hari ini. Tidak ada satu hal pun yang dia sembunyikan, karena memang sudah sangat percaya pada Ayun.


Ayun menangis haru mendengar semua cerita Fathir. Dia benar-benar merasa bahagia karena Fathir sudah menyelesaikan masalahnya dengan Fathan, dan hubungan mereka membaik walau butuh banyak waktu untuk melupakan semuanya.


"Semua ini berkatmu, Ayun. Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan wanita berhati malaikat sepertimu. Terima kasih, terima kasih karena telah memberi cahaya dalam hidupku yang gelap ini," ucap Fathir seteleh selesai menceritakan semuanya.


Ayun mengangguk. "Aku ikut bahagia mendengarnya, Fathir. Aku berdo'a semoga tidak ada masalah lagi yang terjadi, dan semoga Allah melimpahkan kebahagiaan pada kita."


Fathir langsung mengaminkan ucapan Ayun, karena segala ucapan yang baik itu harus segera diaminkan. Bukankah ucapan itu adalah sebuah doa?


"Tapi, ada sesuatu hal yang harus aku lakukan," ucap Fathir. Dia lalu mengatakan perihal Rian, dan berkata jika akan membalas semua perbuatan laki-laki itu.


"Aku akan mendukung apapun yang kau lakukan, Fathir. Tapi aku mohon jagalah dirimu, jangan sampai terluka," pinta Ayun.


"Tentu saja aku pasti akan-"


"Tuan Fathir!"


Fathir tidak dapat melanjutkan ucapannya saat mendengar panggilan seseorang. Kedua matanya langsung menajam saat melihat siapa sosok yang baru saja memanggilnya.


Ayun ikut menoleh ke arah samping saat melihat raut wajah Fathir. Dia lalu mengernyitkan kening bingung karena tidak mengenal laki-laki yang sedang berjalan ke arah mereka.


"Sudah lama kita tidak bertemu, Tuan. Bagaimana kabar Anda?" tanya Rian.


Yah, dialah yang memanggil Fathir dan menghampiri mereka. Tidak disangka laki-laki itu juga ada di tempat ini, lalu kebetulan saja Fathir dan Ayun sedang membicarakannya.


"Benar, sudah lama kita tidak bertemu, Rian. Kulihat kau semakin hebat saja."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2