
Robin langsung bertanya dengan tajam, dia tahu benar apa maksud Evan menceritakan semua itu padanya. Jelas laki-laki itu ingin meminta keringanan atas uang yang sudah dia berikan.
"Maafkan saya, Tuan. Saya mohon keringanan dari Anda, saya janji akan mengembalikannya setelah masalah saya selesai," ucap Evan dengan nada memohon. Dia memang punya uang untuk membayar tagihan bulan ini, tetapi itu pun untuk modal perbaikan perumahan yang belum rampung.
Robin tergelak saat mendengar ucapan Evan, membuat laki-laki itu menatapnya dengan heran. "Kau pikir, sudah berapa banyak orang yang meminjam padaku, Evan? Dan aku, sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi pada mereka." Dia berucap dengan tegas.
Evan tertunduk lesu saat mendengar ucapan Robin. Yah, dia juga sudah tahu jika laki-laki itu sama sekali tidak punya rasa simpati, tetapi dia tetap akan berusaha.
"Baca surat kontrak yang sudah kau tanda tangani, di sana tertulis jelas jika kau harus mengembalikan uangku tanpa terkecuali," sambung Robin kembali dengan sarkas, membuat Evan semakin bungkam.
David yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka tersenyum senang. Mungkin jika dia belum mengikat perjanjian dengan Robin, maka laki-laki itu mau membantu Evan walau sedikit.
Namun, sayangnya dia sudah membuat perjanjian agar Robin tidak memberi keringanan untuk Evan, lalu dia sendiri akan menjadi karyawan yang setia dan mengikuti apapun perintah dari laki-laki itu.
"Saya mengerti, Tuan. Tapi saya mohon belas kasihan dari Anda, saya janji akan mengembalikannya jika keadaan saya sudah-"
"Cukup!"
Evan tidak dapat menyelesaikan ucapannya saat mendengar ucapan tajam Robin, sementara Robin sendiri tidak mau mendengar apapun dari laki-laki itu.
"Aku tidak mau mendengar alasan apapun lagi. Jika sampai besok kau tidak membayar tagihan bulan ini, maka aku akan menyita aset berharga yang sudah kau gadaikan," ucap Robin dengan tajam, dan ucapannya sudah tidak bisa lagi diganggu gugat.
Evan kembali memohon agar Robin memberikan keringanan padanya, tetapi laki-laki itu sama sekali tidak peduli dan malah memanggil anak buahnya untuk menyeret Evan keluar dari tempat itu.
"Sia*l!" umpat Evan dengan kesal saat sudah berada di luar perusahaan Robin. Dia mengusap wajahnya dengan kasar karena apa yang terjadi saat ini, dan kenapa laki-laki itu sangat tega sekali padanya?
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Evan dengan frustasi. Dia saja belum sempat menghubungi David agar kembali padanya, juga belum menyelesaikan masalah Sherly dan tuntutan pembagian harta dengan Ayun. Lalu, kenapa sekarang dia dihadapkan dengan masalah yang lain?
"Aargh!" Evan memekik kesal dan fustasi. Kepalanya terasa mau pecah memikirkan semua itu. Dengan cepat dia mengambil ponselnya dan hendak menghubungi Ayun, dia yakin wanita itu pasti bisa mengatasi segalanya.
Namun, seketika Evan ingat bahwa hubungannya dan Ayun sedang tidak baik, mereka bahkan sudah berpisah dan tidak ada hubungan apapun lagi sekarang.
Brak.
Evan menendang pot bunga yang ada di sampingnya dengan kesal. Kenapa, kenapa semua ini terjadi padanya? Sekarang apa yang harus dia lakukan? Sungguh dia merasa tidak ada jalan keluar atas masalah yang sedang menghantam hidupnya saat ini.
***
Setelah menenangkan diri di rumah, Ayun bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, dan dia harus bergegas sebelum maghrib datang.
Ayun lalu keluar dan mengunci pintu rumahnya, karena saat ini semua orang sedang berada di rumah sakit. Dia lalu berjalan gontai menuju taksi online yang sudah dia pesan beberapa saat yang lalu.
Ayun bukannya tidak menerima Abbas sebagai ayah kandungnya, dia hanya tidak bisa menerima kenyataan bahwa sejak dulu sang ibu menyembunyikan kenyataan ini. Dia juga tidak bisa menerima bahwa ayah yang selama ini dia kenal, bukanlah ayah kandungnya. Yang jelas, semua ini sangat mengguncang jiwanya dan terasa tidak masuk akal.
Namun, jika semua itu memang benar. Apa yang akan dia katakan pada Abbas dan juga Nindi? Rasanya pasti sangat canggung dan aneh sekali. Lalu, kanapa dia berada di posisi seperti ini?
"Ya Allah, aku mohon berilah ketenangan dalam hatiku. Jika memang benar tuan Abbas adalah ayahku, maka berilah keikhlasan dan ketabahan agar aku menerima semuanya. Sungguh aku merasa bingung dan gelisah, ya Allah," gumam Ayun dengan mata berkaca-kaca.
Ayun lalu menyandarkan tubuhnya sambil melihat ke arah jalanan, saat ini dia sedang berada di dalam taksi online menuju rumah sakit.
Beberapa saat kemudian, Ayun sudah sampai di tempat tujuan. Dia bergegas membayar biaya perjalanannya, dan berlalu keluar dari mobil untuk melihat keadaan sang ibu.
__ADS_1
Ayun berjalan gontai menyusuri lorong rumah sakit. Dia berusaha untuk bersikap tenang agar tidak membuat masalah, apalagi besok adalah hari di mana ibu dan adiknya akan berada di ruang operasi.
"Assalamu'alaikum," ucap Ayun sambil membuka pintu ruangan sang ibu.
Semua orang yamg ada di dalam ruangan itu menjawab salam Ayun secara bersamaan, termasuk Hasna yang menatap Ayun dengan senyum lebar.
Ayun lalu menyalim tangan sang ibu dan duduk di samping ranjang, sementara Ezra dan Adel langsung menyalim tangannya membuat hatinya kembali gusar. Apa yang akan terjadi jika kedua anaknya tahu tentang hubungannya dan Abbas? Apa yang akan dia katakan?
"Bu, Ibu!"
Ayun terkesiap saat mendengar panggilan Adel. "I-iya, Nak. Ada apa?" Dia bertanya dengan gugup.
Adel menatap sang ibu dengan cemberut. "Aku dan kakak pamit pulang, tapi Ibu malah diam aja." Bibirnya sudah maju beberapa senti saat ini.
Ayun langsung meminta maaf karena tidak sengaja melamun. "Ya sudah, kalian hati-hati ya, Nak. Kabarin ibu kalau udah sampai." Dia mengusap puncak kepala Adel dengan sayang.
Ezra dan Adel menganggukkan kepala dengan serentak. Mereka lalu menyalim tangan ibu dan juga sang nenek sebelum pergi dari tempat itu.
Setelah kepergian kedua anaknya, Ayun lalu mengatakan pada sang ibu jika besok operasi akan dilakukan. Untuk sesaat dia melupakan masalah yang sedang terjadi, dan mencoba fokus pada kesehatan sang ibu.
"Sebelum operasi, ada sesuatu yang mau ibu katakan padamu, Nak."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.