Mahligaimu Dari Air Mataku

Mahligaimu Dari Air Mataku
S2 Bab 94. Menuju Halal.


__ADS_3

Abbas langsung mengambil ponselnya dengan tidak sabar untuk menghubungi Hasna. Sangking cepat-cepatnya memindai sidik jari, benda pipih itu sampai mengalami error.


"Ponsel ini kenapa sih? Bisa-bisanya rusak disaat seperti ini," ucap Abbas dengan kesal. Berulang kali dia mencoba untuk mengaktifkan ponsel itu, tetapi malah semakin tidak menyala. Ingin membantingnya, tetapi sayang karena ada banyak foto Hasna di dalamnya.


Keanu dan Nindi yang sejak tadi memperhatikan tampak terkikik geli melihat apa yang papa Abbas lakukan. Sangking lucunya, Nindi sampai membekap mulutnya dengan kedua tangan agar tawanya tidak menggelegar.


"Nindi, papa pinjam ponselmu," pinta Abbas sambil membalikkan tubuhnya ke arah Nindi.


Seketika Nindi dan Keanu langsung kembali berdiri tegak dan menahan tawa yang sejak tadi menggelitik hati mereka, membuat Abbas menatap anak serta menantunya itu dengan tatapan curiga.


"Kalian kenapa, suka liat papanya kesusahan?" tanya Abbas dengan sengit.


Tawa Nindi dan Keanu pecah saat mendengar ucapan sang papa. Bagaimana tidak, saat ini papa Abbas benar-benar terlihat seperti orang kebakaran jenggot.


"Astaghfirullahal'adzim, Pa," ucap Nindi sambil mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya akibat terlalu banyak tertawa, tentu saja membuat sang papa mencebikkan bibir dengan sebal.


Nindi lalu beranjak mendekati sang papa yang menatap dengan nanar. "Tenang, Pa. Jangan terburu-buru, santai saja." Dia mengusap dada sang papa dengan lembut membuat papanya menghela napas kasar.


"Bagaimana papa bisa tenang, Sayang. Ponsel papa rusak," sahut Abbas dengan geram.


Nindi lalu meminta ponsel sang papa agar bisa memeriksanya, karena ponsel itu baru saja dibeli beberapa bulan yang lalu, dan dengan kualitas yang terbaik.


Dengan perlahan Nindi menekan tombol yang ada dibagian sampingnya, lalu tidak berselang lama ponsel itu menyala dengan tulisan harap menunggu selama 30 detik lagi.


"Nah, Papa lihat ini?" Nindi menyodorkan ponsel itu ke hadapan sang papa. "Ini bukan rusak, tapi harus menunggu sebentar karena sistemnya sedang error."


Abbas menatap ponsel itu dengan tajam sambil menghela napas berat. Kenapa dia harus menunggu sampai 30 detik? Padahal dia ingin sekali menelepon Hasna saat ini juga.


Nindi menggelengkan kepalanya saat melihat kekesalan yang belum hilang diwajah sang papa, benar-benar deh papanya itu sama sekali tidak bisa bersabar.


"Nah, sudah selesai. Sekarang bisa kembali digunakan," seru Nindi sambil memberikan ponsel itu kembali. "Pelan-pelan saja, Pa. Kalau enggak nanti bisa error lagi."


Abbas mengangguk paham, dia beralih melihat ke arah benda pipih itu sambil mengaktifkannya secara perlahan.


Senyum lebar terbit di bibir Abbas saat sudah berhasil mengaktifkan ponselnya. Dengan cepat dia mencari nomor telepon Hasna untuk berbicara secara langsung dengan wanita itu.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Hasna sudah berbaring di atas ranjang dan bersiap untuk tidur. Dia yang akan memejamkan mata tidak jadi melakukannya saat mendengar ponselnya berdering, dengan cepat dia mengambil benda pipih itu yang berada di atas nakas.


"Mas Abbas?" gumam Hasna saat melihat nama Abbas tertera di layar ponselnya. Dia lalu segera menjawab panggilan itu walau pun merasa heran.


"Assalamu'alaikum, Hasna," ucap Abbas dari sebrang telepon saat panggilannya sudah dijawab.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam, Mas," sahut Ayun dengan senyum tipis.


"Apa aku mengganggumu?" tanya Abbas kemudian, dia baru sadar jika saat ini malam sudah sangat larut.


Hasna lalu mengatakan jika tadi sudah akan pergi tidur, tetapi dia mengurungkan niatnya saat mendapat panggilan dari Abbas.


"Maaf, karena terlalu senang aku jadi tidak sadar menghubungimu tengah malam begini," ucap Abbas dengan penuh sesal.


Hasna tersenyum. "Tidak apa-apa, Mas. Tapi, kenapa menelpon malam-malam begini?" Dia bertanya dengan penasaran.


Abbas diam sejenak untuk menenangkan diri yang sedang kembali bergejolak, sampai rasanya ingin menemui wanita itu secara langsung.


"Nindi sudah mengatakan semuanya padaku, Hasna. Apa kau, kau benar-benar bersedia untuk menjadi istriku?" tanya Abbas dengan lirih dan penuh keraguan.


Hasna menghela napas kasar, tadi dia merasa sedikit khawatir karena berpikir jika ada sesuatu yang terjadi. Namun, ternyata Abbas hanya ingin membahas tentang jawaban yang telah dia beri.


"Insyaallah, Mas. Insyallah aku menerima lamaranmu dan bersedia menikah denganmu."


Abbas tercengang mendengar pernyataan Hasna secara langsung. Dadanya berdegup sangat kencang dan rasanya ingin meledak saat ini juga.


"Ka-kau serius, Hasna?" tanya Abbas dengan tidak percaya.


Hasna lalu meyakinkan Abbas jika dia benar-benar ingin menikah dengan laki-laki itu. Dia juga menceritakan apa yang terjadi di rumahnya beberapa waktu yang lalu, di mana semua anak-anak mereka sangat bahagia dan mendukung pernikahan itu.


"Baiklah, Hasna. Aku akan segera mengurus pernikahan kita, aku akan membuat pesta yang meriah untuk merayakannya," ucap Abbas kemudian.


Hasna menggelengkan kepalanya walau tidak bisa dilihat oleh Abbas. "Tidak perlu yang seperti itu, Mas. Sederhana saja yang penting semua keluarga kita kumpul bersama, aku malu dengan yang muda-muda kalau merayakan pesta pernikahan dengan meriah." Dia berucap dengan pelan.


Abbas tersenyum sambil mengangguk paham. "Baiklah, Hasna. Terserahmu saja ingin yang bagaimana, nanti aku akan mengajakmu untuk mempersiapkannya. Sekarang tidurlah, mimpi yang indah yah calon istriku."


Blush.


Wajah Hasna bersemu merah saat mendengar ucapan manis yang Abbas berikan padanya, dia merasa sangat malu.


"Ba-baiklah, Mas. Mas juga istirahatlah, selamat malam dan mimpi yang indah," balas Hasna dengan malu-malu.


Panggilan itu lalu terputus setelah Abbas mengucap salam. Dia lalu mengusap dadanya yang terasa berdesir hebat malam ini.


"Ya Allah, terima kasih atas segala kebaikan dan kebahagiaan yang Engkau berikan ini. Aku mohon berikanlah kelancaran untuk semuanya, dan jagalah hati kami sampai ikatan suci terjadi," gumam Abbas dengan penuh harap.


Abbas lalu beranjak masuk ke dalam kamar karena ingin segera istirahat. Dia harus menyiapkan tenaga esktra untuk menyiapkan pesta pernikahannya, walau dia tahu jika semua orang pasti juga sangat bersemangat sepertinya.

__ADS_1


*


*


Setelah lamaran Abbas di terima dan pembahasan tentang pernikahan sudah dilakukan, semua orang tampak saling berkomunikasi untuk bekerja sama menyiapkan semuanya.


Nindi melarang Abbas untuk menyiapkan pesta itu sendiri karena papanya harus banyak istirahat supaya tidak kelelahan, dan biarkan dia serta yang lainnya yang akan mengurus segala persiapan.


"Papa!" Ayun langsung berlari menghampiri papanya yang sedang menikmati secangkir teh di pinggir kolam. "Bagaimana kabar Papa?" Tanyanya setelah menyalim tangan sang papa.


"Alhamdulillah papa baik, Nak. Sangat baik," jawab Abbas sambil tersenyum cerah.


"Alhamdulillah. Tentu saja Papa merasa sangat baik, karena sebentar lagi akan menjadi pengantin baru," ucap Ayun dengan nada sindiran membuat sang papa tergelak.


"Kau ini bisa saja, Nak. Ayo, kita masuk!" ajaknya kemudian sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


Ayun sengaja mengunjungi sang papa untuk mengetahui kira-kira kapan pesta pernikahan akan dilaksanakan, karena keluarga besarnya yang berada di kampung juga harus turut hadir.


"Apa, tanggal 15?" pekik Ayun dan Nindi secara bersamaan saat mendengar tanggal pernikahan dari sang papa. "Papa tidak salah?" Nindi bertanya dengan tidak percaya.


Jika dihitung-hitung, sekarang sudah tanggal 9. Itu berarti mereka hanya punya waktu 5 hari saja untuk menyiapkan pesta sebelum hari H, bukankah itu terlalu mendadak?


"Untuk apa kau khawatir seperti itu, Sayang? Kita hanya harus menyiapkan konsep pestanya, gaun serta para tamu undangan. Urusan yang lain serahkan pada pihak WO," ucap Abbas.


Nindi dan Ayun saling pandang saat mendengar ucapan papa mereka. "Itu benar sih, Pa. Tapi apa tidak terlalu mendadak? Kita juga harus memberitahu semua keluarga besar." Nindi merasa kurang setuju.


"Kau tidak perlu memikirkan masalah itu, Sayang. Biar papa yang mengurusnya, jadi kalian fokus saja untuk menyiapkan pesta pernikahan papa kalian ini," sahut Abbas dengan semangat.


Nindi dan Ayun mengangguk paham saat mendengarnya. Mereka ikut merasa bahagia saat melihat kebahagiaan diwajah sang papa.


Disaat yang sama, Keanu dan Fathir juga mulai disibukkan dengan pesta pernikahan Abbas. Mereka harus mengurus para tamu undangan yang akan hadir, termasuk semua kolega bisnis serta teman-teman Abbas dan juga kolega bisnis mereka sendiri.


"Papa sudah menuju halal, Fathir. Giliranmu kapan?" tanya Keanu sambil menatap Fathir yang sedang sibuk mengecek satu per satu nama para tamu.


Fathir menghela napas kasar. "Saya sedang berusaha, Tuan. Tapi sampai sekarang belum ada balasan." Dia menjawab dengan jujur.


Keanu mendessah frustasi. "Cobalah untuk terus maju, Fathir. Aku yakin sekali jika Mbak Ayun pasti juga menyukaimu, hanya saja masih ada ketakutan dan sebuah trauma dalam hatinya."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2